Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa sistem periodesasi kepemimpinan di Muhammadiyah layak menjadi teladan bagi praktik demokrasi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Halal Bihalal dan Silaturahmi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah di Kabupaten Batang.
Menurut Haedar, aturan masa jabatan dalam Muhammadiyah telah diatur secara tegas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), sehingga tidak dapat ditawar-tawar.
“Saya pikir di Muhammadiyah bagus, periode jabatan itu sudah tidak bisa ditawar lagi dan itu bisa jadi contoh bagi demokrasi di negeri tercinta,” ujarnya.
Dalam AD/ART Muhammadiyah, masa jabatan pimpinan di semua tingkatan—mulai dari PP, PWM, PDM, PCM hingga PRM—ditetapkan selama lima tahun.
Sementara itu, jabatan Ketua Umum di tingkat PP hingga PDM hanya dapat dijabat maksimal dua periode berturut-turut oleh orang yang sama.
Aturan ini dinilai mencerminkan sistem kepemimpinan yang sehat, terukur, dan mencegah terjadinya kekuasaan yang terlalu lama berpusat pada satu figur.
Selain menyoroti sistem kepemimpinan, Haedar juga menekankan pentingnya menjadikan takwa sebagai akhlak publik dalam kehidupan seorang muslim.
Menurutnya, takwa tidak hanya bersifat personal, tetapi harus hadir dalam ruang sosial sebagai nilai yang membentuk perilaku dan kepemimpinan.
Haedar juga berpesan agar Muhammadiyah terus menghadirkan Islam yang hidup dalam jiwa, pikiran, dan tindakan umat. Ia mengingatkan pentingnya memperdalam pemahaman agama agar tidak stagnan.
Menurutnya, konsep kemajuan dalam Muhammadiyah bukanlah meniru Barat, melainkan membangun peradaban yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, disertai ijtihad atau tajdid.
“Keislaman kita bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Pendapat ulama adalah untuk memperkaya pemahaman, bukan menggantikan sumber utama ajaran,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemikiran ulama tetap memiliki keterbatasan karena dipengaruhi latar belakang dan perspektif masing-masing.
“Muhammadiyah memiliki prinsip ar-ruju ila al-Qur’an wa as-Sunnah. Tapi jangan berhenti di situ, kita harus mendalami hingga ke substansi paling inti,” tegasnya.
Haedar menegaskan bahwa ketika takwa dijadikan sebagai akhlak publik, maka Islam akan menjadi sumber pencerahan hidup yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang maju, berkeadaban, dan berkemajuan.





0 Tanggapan
Empty Comments