Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale kembali menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa, aktivis lingkungan, hingga komunitas diskusi kampus.
Film ini tidak sekadar menghadirkan kisah tentang Papua, tetapi juga membuka kembali persoalan perebutan tanah, eksploitasi sumber daya alam, dan ketimpangan pembangunan yang selama puluhan tahun dirasakan masyarakat adat. Berbagai forum nonton bareng dan diskusi digelar karena film tersebut dinilai berani memperlihatkan realitas yang jarang muncul di ruang publik nasional.
Dokumenter ini mengambil latar di wilayah Merauke, kawasan yang sejak lama dikenal memiliki hutan luas, rawa, dan tanah adat sebagai sumber kehidupan masyarakat asli Papua. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, wilayah ini berkembang menjadi pusat proyek perkebunan skala besar, terutama sawit dan industri pangan. Konflik mulai muncul ketika pembangunan nasional bertemu dengan hak hidup masyarakat adat yang merasa tanah leluhur mereka perlahan hilang.
Salah satu sosok penting dalam film tersebut adalah Mama Rufina Gebese. Ia tampil sebagai suara masyarakat adat yang mempertahankan hutan dan tanah ulayat dari ekspansi perusahaan. Dalam dokumenter itu, Mama Rufina menggambarkan bahwa hutan bagi orang Papua bukan sekadar tempat mencari makan, melainkan ruang hidup, identitas budaya, dan warisan leluhur. Ketika hutan ditebang, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga sejarah keluarga dan masa depan generasi berikutnya.
Tokoh lain yang disebut dalam film ialah Awon Atatbon. Kisahnya menggambarkan bagaimana masyarakat lokal menghadapi tekanan modernisasi yang datang sangat cepat. Kehadiran investasi besar sering kali membawa janji pekerjaan dan kesejahteraan. Namun, di lapangan banyak warga justru kehilangan akses terhadap tanah yang dahulu mereka kuasai secara turun-temurun.
Film tersebut juga menyinggung nama Martua Sitorus dalam konteks investigasi bisnis perkebunan besar yang berkembang di Papua. Penyebutan nama pengusaha besar dalam dokumenter ini memperlihatkan bahwa konflik Papua bukan sekadar persoalan lokal, melainkan berkaitan dengan jaringan ekonomi dan investasi nasional yang kuat. Dari sinilah muncul kritik bahwa pembangunan di Papua dinilai lebih banyak menguntungkan korporasi dibanding masyarakat asli.
Sejarah konflik tanah di Papua sebenarnya telah berlangsung lama sejak integrasi Papua ke Indonesia pada era 1960-an. Setelah wilayah itu masuk ke dalam administrasi nasional, eksploitasi sumber daya alam meningkat drastis. Tambang, industri kayu, perkebunan, dan proyek pangan nasional mulai berkembang dalam skala besar. Negara memandang Papua sebagai wilayah kaya sumber daya yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, banyak masyarakat adat merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Persoalan semakin rumit karena konsep kepemilikan tanah adat di Papua berbeda dengan sistem administrasi negara modern. Bagi masyarakat adat, tanah bukan sekadar aset ekonomi yang dapat diperjualbelikan, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan spiritual. Ketika izin konsesi diberikan kepada perusahaan tanpa persetujuan penuh masyarakat lokal, konflik sosial pun sulit dihindari. Banyak warga merasa terpinggirkan di tanah sendiri.
Film ini kemudian memunculkan istilah “kolonialisme modern”. Bukan lagi penjajahan dalam bentuk militer seperti masa lalu, melainkan penguasaan melalui investasi, izin usaha, dan proyek pembangunan besar. Mahasiswa yang menonton film tersebut menilai bahwa kolonialisme masa kini hadir dalam bentuk yang lebih halus: tanah diambil atas nama pembangunan, sementara masyarakat adat perlahan kehilangan ruang hidupnya.
Konflik semakin tajam karena masyarakat Papua kerap berada dalam posisi yang lemah secara ekonomi dan politik. Ketika perusahaan besar datang dengan modal besar serta dukungan birokrasi, warga adat kesulitan melawan secara hukum. Sebagian masyarakat menerima kompensasi dalam jumlah kecil karena kurang memahami nilai jangka panjang tanah mereka. Akibatnya, setelah tanah berpindah tangan, mereka justru kehilangan sumber penghidupan utama.





0 Tanggapan
Empty Comments