Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pencabulan Bermula Dari Glorifikasi

Iklan Landscape Smamda
Pencabulan Bermula Dari Glorifikasi
Oleh : Nurbani Yusuf Pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar dan Pusat Studi Islam dan Pemikiran Kjai Hadji Ahmad Dahlan

Semula saya berpikir bahwa kasus pencabulan santriwati di beberapa pesantren hanyalah kasus tunggal —namun ternyata saya keliru.

Tragedi ini seperti fenomena gunung es —dan semoga yang belum terungkap tidak terlalu banyak.

Saya senantiasa berdoa, semoga para Masayikh, Asatidz, dan Habaib senantiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla dari segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran.

***

Tragedi pencabulan puluhan santriwati di sebuah pondok tahfiz di Pati (Jawa Tengah), serta di berbagai pesantren dan ma’had lainnya, adalah bukti nyata dosa dan kekhilafan bisa terjadi karena pengkultusan nasab secara berlebihan, status sosial diglorifikasi tanpa batas, dan sosok manusia disucikan yang diyakini tidak mungkin berbuat dosa.

Inilah alasan mengapa Muhammadiyah sejak awal berdiri teguh melawan tahayul, Bid’ah, dan Khurafat (TBC).

Ini bukan tentang siapa pelakunya, tapi karena tahayul, Bid’ah, dan Khurafat merupakan sikap perilaku yang memiliki daya rusak yang sangat kuat dan hebat.

Sosok alim yang disucikan dan dikeramatkan, bisa seperti sebuah bom waktu.

Sebab ketika ilmu agama berada di tangan orang yang salah dan dibungkus oleh pengkultusan, ia akan melahirkan daya hancur moral yang sangat tinggi.

Di Muhammadiyah, tidak ada orang alim yang diposisikan sebagai sosok suci dan dikeramatkan.

Tidak ada pimpinan maupun alim di Muhammadiyah yang kebal terhadap kritik.

Cerita-cerita yang bersifat tahayul dan khurafat sering kali dijadikan alat doktrin untuk mematikan rasionalitas jamaah.

Klaim-klaim mistis seperti mampu memadamkan api jahanam, melakukan mikraj berkali-kali dalam semalam, hingga bertemu Tuhan, hanyalah bahan bakar untuk menciptakan glorifikasi buta.

Di tangan para penipu dan pelaku cabul, dongeng-dongeng ini menjadi senjata ampuh untuk menipu, melakukan tindakan cabul, hingga menguras harta korban dengan mengatasnamakan agama.

***

Glorifikasi dan Kultus mungkin adalah dua hal yang berbeda secara definisi, namun keduanya berkaitan sangat erat dan menyimpan bahaya yang sama besarnya jika dilakukan secara berlebihan.

Keduanya sering kali berada pada irisan yang nyaris sama persis.

Glorifikasi adalah aksi melebih-lebihkan sesuatu atau seseorang secara ekstrem.

Narasi yang dibangun membuat orang tersebut terkesan sangat hebat, luar biasa, sempurna, bahkan suci tanpa sedikit pun cela.

Sedangkan Kultus merupakan sistem pengabdian, pemujaan, atau loyalitas tanpa batas terhadap seorang tokoh, pemimpin, atau ulama.

Dalam lingkaran kultus, seseorang yang dipuja dianggap sebagai sosok yang tak bisa salah atau mustahil melakukan alfa.

SMPM 5 Pucang SBY

***

Baik glorifikasi maupun kultus bermuara pada titik yang sama: lahirnya sikap taklid buta.

Fenomena ini memicu sikap hilang akal, ir-rasional, dan bahkan kecenderungan terjebak dalam mistisisme.

Hal ini terjadi karena sosok yang dikultuskan telah diposisikan sebagai figur yang mustahil salah dan tentunya selalu benar.

Tindakan mencium pantat atau bagian tubuh yang tidak lazim, mengeramatkan bekas langkah kaki, hingga berjalan menunduk secara berlebihan.

Bahkan sampai tidak memiliki keberanian untuk menatap langsung karena takut kualat.

Semua ini diperparah dengan suntikan doktrin khurafat yang terus-menerus disuapkan kepada pengikutnya.

Namun, kita jangan salah sangka. Glorifikasi dan kultus tidak hanya menjangkiti kalangan yang dianggap tradisional atau kaku.

Di lingkaran tradisi kaum terdidik dan modern pun, fenomena ini muncul dalam kemasan yang berbeda.

Kita sering melihat bagaimana beberapa tokoh diglorifikasi sedemikian rupa sehingga pengikutnya kehilangan daya kritis.

Pada tahap yang paling akut, se-salah apa pun pernyataan sang tokoh, se-naif apa pun logikanya, atau bahkan se-hoaks apa pun berita yang keluar dari lisannya, para pengikut akan selalu sibuk mencarikan pembenaran.

Dalam kondisi ini, bahkan dalil Al-Qur’an dan Hadis sekalipun sering kali tidak lagi mempan.

Pernyataan sang tokoh yang diglorifikasi lebih dipercaya ketimbang Firman Tuhan maupun Sabda Nabi.

***

Apapun pernyataan dibenarkan.

Apapun permintaan diberikan.

Apapun pemberian dikeramatkan.

Jika ketiganya ada — maka siapapun kita telah melakukan glorifikasi dan kultus,  meski dari alumni universitas Amerika berkelas …***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 08/05/2026 23:29
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡