Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dahsyatnya Kekuatan Doa: Kenali Allah Saat Lapang, Hindari Kesalahan dalam Berdoa

Iklan Landscape Smamda
Dahsyatnya Kekuatan Doa: Kenali Allah Saat Lapang, Hindari Kesalahan dalam Berdoa
Oleh : Ima Luthfiningrum Anggota Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah Kabupaten Sidoarjo, Pengajar Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo

Kisah ini menceritakan tentang dahsyatnya kekuatan doa. Ketika memaparkan kejadian di pertengahan era Daulah Abasiyah, Imam Dzahabi menulis berikut. Di Baghdad, ada salah seorang kaki tangan polisi terbunuh. Karena itu penguasa Baghdad marah. Menyuruh orang-orangnya untuk melemparkan api ke pasar-pasar. Baghdad pun menjadi lautan api.

Jumlah yang ludes terbakar mencapai 320 rumah, 317 toko dan 33 masjid. Hari itu banyak yang mengutuk dan berdoa untuk kebinasaan penguasa Baghdad, Abul Fadhal Syairazi. Tak selang berapa lama terdengar kabar Abu Fadhal diracun dan mati.

Kisah diatas adalah salag satu dari ratusan kisah tentang kekuatan doa yang disuguhkan oleh Khalid bin Sulaiman Ar-Rab’i dalam kitabnya  Min ‘Ajaaibid Du’a.

Doa adalah senjata kaum muslimin. Para Nabi dan Rasul, sahabat dan para salafus shalih mencontohkannya. Doa adalah senjata yang menyelamatkan nabi Nuh dengan diturunkan air bah kepada kaumnya.

Doa juga yang menyelamatkan nabi Musa ketika melawan tirani Firaun. Menyelamatkan nabi Saleh dari kedzaliman kaum Tsamud, juga menyelamatkan nabi Hud dari kaum Aad. Doa pula yang menyelamatkan serta memberikan kemenangan kepada Rasulullah dalam banyak pertempuran yang beliau lakukan.

Doa adalah ibadah yang paling mudah dilafalkan. Namun merupakan sarana paling kuat mencegah musibah maupun mendatangkan apa yang diinginkan.

Tapi anehnya tak sedikit dari kita yang terlalaikan darinya seakan-akan tidak butuh doa. Merasa cukup dengan kekayaan yang ada di tangan, kekuatan yang tak terkalahkan, maupun kejayaan yang membentang di hadapan. Juga merasa dengan istri cantik dalam pandangan dan anak’-anak yang berprestasi sesuai harapan.

Doa baru terlihat sangat penting ketika dalam kondisi terjepit. Saat badai menyapa rumah tangga, mengikis habis harta, meruntuhkan bangunan kesuksesan, serta mengoyak martabat dan kehormatan anak-anak kita.

Padahal sejatinya doa merupakan tanda ubudiyah. Dengan doa hamba memohon untuk bertaubat dari maksiat, meminta pertolongan dan rahmat, serta memohon terhindar dari siksaan yang dahsyat di dunia dan akhirat. Karenanya doa layak dilakukan setiap waktu mengiringi setiap jengkal langkah kita. Cukuplah seseorang disebut sombong manakala ia terena dari berdoa kepada Allah.

“Dan Rabbmu berfirman,berdoalah kepada-Ku,niscaya akan kuperkenankan bagimu,sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina,” begitu firman Allah SWT dalam QS. Al-Mukmin ayat 60

Kenali Allah di Masa Lapang

Di dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda:

تعرف إلى الله فى الرخاء يعرفك فى الشدة

“Kenalilah Allah di masa lapang(senang),niscaya Allah akan mengenalimu di masa engkau menghadapi kesulitan.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaik Albani dalam Shahihul  jami)

SMPM 5 Pucang SBY

Ingatlah Allah, banyak berdzikir, bersyukur terhadap nikmat-nikmatNya, banyak beribadah, dan banyak berdoa di masa-masa senang. Niscaya di saat mengalami kesulitan, Allah akan mengenali kita dan menolong kita. Rasulullah SAW bersabda:

من سرٌه أن يستجيب الله له عند الشدائد والكرب فليكثر الدعاء  فى الرخاء.

“Barangsiapa ingin Allah kabulkan doanya di masa kesulitan dan genting, hendaknya memperbanyak doa di masa lapang.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dihasankan oleh syaikh Al-Albani)

Contohnya Nabi Yunus, waktu susah dalam perut ikan. Beliau berdoa kepada Allah, Allah pun memberikan jalan keluar baginya. Hal itu dikarenakan dulunya saat hidup di daratan(waktu lapang), Nabi Yunus sering melakukan salat. Sehingga Allah menyelamatkan Nabi Yunus ketika kesulitan.

“Kalaulah ia tidak termasuk yang dulumya banyak bertasbih(salat) niscaya ia akan tetap tinggal diperunya(hiu)hingga hari di bangkitkan,” begitu terjemahan firman Allah SWT dalam QS. Ash-Shaffat ayat 143.

Kesalahan dalam Berdoa

Meski disyariatkan untuk berdoa setiap waktu, bukan berarti kita boleh berdoa di sembarang. Apalagi mengkhususkan tempat-tempat tertentu, dengan anggapan akan lebih diijabah. Berapa banyak makam, gua dan gunung-gunung dijadikan tempat khusus untuk berdoa. Padahal tidak ada dalil syar’i yang menganjurkannya.

Ada yang berdoa dengan khusyu’ di depan kuburan Nabi,wali atau kyai. Sambil mencium dan mengusap-usap batu nisan mereka. Berharap segala keperluan terkabul, musibah dilenyapkan dan penyakit disembuhkan.

Beberapa nash syar’i telah menyebutkan waktu dan tempat mustajab untuk berdoa. Sebaiknya kita mencari waktu tersebut dan memperbanyak doa pada waktu tersebut. Diantaranya adalah waktu antara adzan dan iqomah, di dalam salat, ketika puasa, di bagian akhir malam hari-hari di bulan Ramadhan.

Selain itu, waktu yang disyariatkan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, pada hari Arafah, di medan perang, saat hujan turun dan tempat-tempat lain yang di sebutkan dalam atsar. Disebutkan ada Masjidil Haram, Raudhah Nabi, Shofa dan Marwa juga merupakan tempat yang mustajab dikabulkanya doa.

Dalam berdoa mestinya kita berhati-hati. Kesalahan dalam berdoa bukan saja berakibat pada tidak terkabulnya doa. Namun bisa menjerumuskan pada bid’ah dan kesyirikan.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 06/05/2026 10:31
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu