Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketua PAUD Dasmen PWA Jatim Tekankan Kemandirian IGABA dan Penguatan Karakter Anak

Iklan Landscape Smamda
Ketua PAUD Dasmen PWA Jatim Tekankan Kemandirian IGABA dan Penguatan Karakter Anak
Ketua PAUD Dasmen PWA Jatim Tekankan Kemandirian IGABA dan Penguatan Karakter Anak. (Fathurrahim/PWMU.CO)
pwmu.co -

Training of Facilitator (TOF) Pandu Tunas Athfal Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Jawa Timur tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan kepanduan. Penguatan kapasitas guru, kemandirian organisasi profesi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembentukan karakter anak juga menjadi perhatian dalam kegiatan yang berlangsung di Aisyiyah Training Center (ATC) Purwosari, Pasuruan, 1–2 Oktober 2026.

Ketua Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, Dra. Hj. Rachmi Aida, MPd, menyampaikan materi “Filosofi dan Kebijakan Majelis PAUD Dasmen PWA Jawa Timur tentang Tunas Athfal.”

Dalam pemaparannya, Rachmi Aida menekankan pentingnya kemandirian IGABA dalam mengemban profesinya. Kemandirian tersebut perlu diwujudkan melalui penguatan berbagai aspek yang berkaitan dengan amal usaha, profesionalitas guru, serta peningkatan kualitas anak.

Menurutnya, kualitas lembaga PAUD ‘Aisyiyah sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang berada di dalamnya. Karena itu, guru perlu terus meningkatkan kompetensi, wawasan, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Guru PAUD Harus Ramah dan Menyenangkan

Rachmi Aida menekankan pentingnya pola komunikasi guru PAUD yang menyenangkan, ramah, terbuka, dan mampu membangun kedekatan dengan anak maupun orang tua.

Komunikasi yang baik menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi anak. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, motivator, dan teladan.

Ia juga mendorong peningkatan kualitas SDM melalui pembelajaran berkelanjutan serta membangun jejaring dengan berbagai pihak, termasuk badan usaha dan mitra strategis lainnya.

Menurutnya, setiap Amal Usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah (AUM) perlu memiliki keunggulan yang dapat dikembangkan dan dikomunikasikan kepada masyarakat.

Manfaatkan Media Sosial dan Perkembangan AI

Di tengah perkembangan teknologi digital, Rachmi Aida juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan komunikasi lembaga.

Media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan program unggulan AUM, mendokumentasikan kegiatan positif, sekaligus membangun komunikasi dengan masyarakat dan orang tua peserta didik.

Ia juga menyampaikan perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Karena itu, guru perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan peran utama sebagai pendidik. Teknologi, termasuk AI, perlu ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Penguatan Karakter Dimulai dari Kebiasaan

Dalam kaitannya dengan Pandu Tunas Athfal, Rachmi Aida menekankan adanya korelasi antara kegiatan kepanduan dengan penguatan karakter anak.

Guru dapat berperan sebagai motivator untuk membangun kebiasaan-kebiasaan positif sejak dini. Pembiasaan tersebut dilakukan melalui kegiatan yang sederhana, konsisten, menyenangkan, dan sesuai dengan perkembangan anak.

Ia juga mengajak peserta untuk membangun energi positif, baik secara mental maupun fisik. Setiap anak memiliki keunikan sehingga proses pendampingannya tidak dapat diseragamkan.

SMPM 5 Pucang SBY

“Setiap anak memiliki keunikan,” pesan Rachmi Aida dalam pemaparannya.

Karena itu, guru perlu memahami proses perkembangan setiap anak, memberikan pendampingan sesuai kebutuhannya, dan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir.

Tujuh Kebiasaan Manusia Hebat

Dalam sesi tersebut, Rachmi Aida juga mengajak peserta membiasakan tujuh prinsip yang dikenal sebagai tujuh kebiasaan manusia efektif/hebat. Ketujuh kebiasaan tersebut meliputi:

Jadilah orang yang proaktif, yaitu memiliki inisiatif dan bertanggung jawab terhadap pilihan serta tindakan.

Menuju tujuan akhir, dengan memiliki arah dan tujuan yang jelas.

Dahulukan yang utama, dengan mampu menentukan prioritas.

Berpikir menang dan menang, dengan membangun hubungan yang saling memberikan manfaat.

Berusaha memahami baru dipahami, dengan membangun kemampuan mendengar dan memahami orang lain.

Wujudkan sinergi, dengan membangun kerja sama dan menghargai perbedaan.

Mengasah gergaji, yaitu terus memperbarui pengetahuan, keterampilan, cara berpikir, serta kualitas diri.

Ketujuh kebiasaan tersebut dapat menjadi refleksi bagi guru dalam menjalankan tugas profesional sekaligus mendampingi anak-anak usia dini

“Semakin mendalami ilmu, kita merasa semakin kecil,” demikian pesan reflektif yang disampaikan dalam sesi tersebut. Pesan itu menjadi pengingat bahwa guru perlu terus belajar, terbuka terhadap perkembangan ilmu, dan rendah hati dalam menjalankan profesinya.

Melalui TOF Pandu Tunas Athfal, IGABA Jawa Timur diharapkan tidak hanya melahirkan fasilitator yang memahami teknis kegiatan kepanduan, tetapi juga guru yang mampu menjadi teladan, motivator, dan penggerak pembentukan karakter anak.

Dengan penguatan SDM, kemandirian IGABA, pemanfaatan teknologi, jejaring dengan berbagai pihak, serta implementasi nilai-nilai karakter dalam kegiatan Pandu Tunas Athfal, pendidikan anak usia dini di lingkungan Aisyiyah diharapkan semakin berkualitas dan relevan dengan tantangan zaman. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 02/10/2026 19:44
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu