Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

KH. Ahmad Dahlan: Bapak Pendidikan Indonesia

Iklan Landscape Smamda
KH. Ahmad Dahlan: Bapak Pendidikan Indonesia
Kyai Dahlan ingin melawan melalui bangku pendidikan, dimana dengan kecerdasan maka rakyat akan tidak mudah diperdaya oleh penjajah. (Hendra Hari Wahyudi/PWMU.CO).

Oleh : Hendra Hari Wahyudi

Anggota Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Kepala MI Muhammadiyah 06 Tebluru, Solokuro Lamongan

Pendidikan menjadi pilar utama dalam memajukan peradaban suatu bangsa, dimana melalui pendidikan lah sebuah negara akan mengalami perubahan.

Mulai dari pola pikir (mindset), sikap dan perilaku, serta karya yang dihasilkan. Semuanya diperoleh dari adanya proses pembelajaran yang diterapkan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia.

Indonesia yang sekian lama hidup dalam masa penjajahan, menjadikan banyaknya masyarakat yang merasakan penderitaan.

Salah satu faktor yang membuat rakyat mudah dijajah adalah karena minimnya pengetahuan, sehingga mudah ditindas dan diperlakukan semaunya oleh bangsa lain.

Namun, bukan berarti pada masa itu tidak ada pendidikan bagi rakyat. Tetapi hampir semuanya dimonopoli atau berada di bawah intervensi bangsa lain.

Pendidikan seakan terpisah antara sains dan ilmu agama, sehingga integrasi diperlukan guna meningkatkan kemampuan dan merubah pemikiran di masa itu.

Hal itulah menjadi salah satu faktor seorang KH Ahmad Dahlan dalam melawan penindasan penjajah.

Kyai Dahlan merasa bahwa melalui pendidikan rakyat akan tercerahkan, sehingga tidak mudah dipermainkan oleh bangsa asing. Sehingga sepulangnya dari berhaji dan belajar, yang ia lakukan adalah terjun di dunia pendidikan.

KH Ahmad Dahlan dan Pendidikan

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Kyai Dahlan pertama kali berkecimpung di pendidikan ia menjadi seorang guru agama di sekolah Belanda. Tepatnya di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) Magelang dan Quick School Jetis Yogyakarta.

Memang pada masa itu, terdapat klaster pendidikan di nusantara, di antaranya ada Europeesche Lagere School (ELS) pada 1817, yang bertujuan mendidik anak-anak Eropa dan pribumi elite.

Kemudian ada Kweekschool yang didirikan di Ambon pada tahun 1834, kemudian menyebar ke daerah lain. Dan baru di sekitar tahun 1907 ada sekolah untuk pribumi (Volkschool) didirikan.

Mengutip Kumparan, menyebutkan bahwa pada 1851, Belanda mendirikan Sekolah Dasar untuk Pribumi yang dikenal sebagai “Sekolah Kelas Dua”, yang memberikan pendidikan dasar selama tiga tahun.

Namun ke semuanya adalah hasil dari pemerintahan penjajah, sehingga sekolah yang didirikan oleh orang pribumi asli baru ada pada 3 Juli 1922. Sekolah tersebut adalah Taman Siswa (National Onderwijs Institut Taman Siswa), yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Dari situlah asal muasal Ki Hajar Dewantara disebut sebagai “Bapak Pendidikan Indonesia”. Yang dimana tanggal 2 Mei diperingati sebagai “Hari Pendidikan Nasional” berdasarkan tanggal kelahirannya, yakni pada 2 Mei 1889.

Namun jauh sebelum 1922, di Kauman Jogjakarta, KH Ahmad Dahlan sudah mendirikan lembaga pendidikan. KH Ahmad Dahlan pertama kali mendirikan sekolah bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 1 Desember 1911.

SMPM 5 Pucang SBY

Sekolah ini didirikan di ruang tamu rumah beliau di Kauman, Yogyakarta, dengan menerapkan metode modern yang menggabungkan pendidikan agama dan umum. Jauh sebelum organisasi Muhammadiyah resmi didirikan pada 18 November 1912.

Sekolah ini merupakan cikal bakal amal usaha pendidikan Muhammadiyah yang dirintis untuk menandingi sistem pendidikan kolonial Belanda.

Melawan dari Bangku Pendidikan

Kyai Dahlan ingin melawan melalui bangku pendidikan, dimana dengan kecerdasan maka rakyat akan tidak mudah diperdaya oleh penjajah.

KH Ahmad Dahlan juga merintis frobel Robbal Kauman (TK ABA Kauman) pada 1919 dan Kweekschool Moehammadiyah (1923).

Di samping itu, KH Ahmad Dahlan juga mendirikan sekolah untuk memodernisasi pendidikan Islam, memadukan ilmu agama dengan ilmu umum (sains). Serta mencerdaskan kaum pribumi agar keluar dari keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan.

Kyai Dahlan ingin menciptakan generasi muslim yang berakhlak mulia, cakap, mandiri, dan berwawasan luas.

Dari berbagai perannya di dunia pendidikan itulah, maka tidak berlebihan kiranya jika KH. Ahmad Dahlan kita sebut sebagai “Bapak Pendidikan” pula, selain Ki Hajar Dewantara.

Melalui sekolah yang ia rintis tersebut, lalu tumbuh berkembang diberbagai tempat di Indonesia hingga sekarang. Berbagai jenjang dari pendidikan anak di usia dini, hingga perguruan tinggi telah hadir yang semua berawal dari inisiasinya.

Memang, belum disematkan nama awal “Muhammadiyah” pada sekolahnya. Namun organisasi tersebut menjadi “bahan bakar” dari semangat Kyai Dahlan dalam memajukan dan meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia melalui pendidikan.

Berdasarkan data Mei 2025, Muhammadiyah mengelola ribuan amal usaha pendidikan. Total sekolah/madrasah dasar dan menengah mencapai 5.745 unit.

Terdiri dari 2.689 SD/MI, 1.734 SMP/MTs, dan 1.322 SMA/MA/SMK. Selain itu, terdapat lebih dari 23.000 TK/PAUD ABA dan 162-177 Perguruan Tinggi Muhammadiyah–’Aisyiyah.

Pendidikan Berkualitas Muhammadiyah

Hampir seluruh kualitas pendidikan di Muhammadiyah diakui dan berkualitas serta berdaya saing global. Sehingga dari peran serta inilah, dan atas inisiasi dan pemikiran KH Ahmad Dahlan pada awal masa perjuangannya dengan mendirikan lembaga pendidikan tersebut.

Juga para tokoh yang lahir dari hasil pendidikan di Muhammadiyah seperti Jenderal Sudirman, Soekarno, Soeharto hingga Prof. Abdul Mu’ti yang sekarang menjadi Mendikdasmen.

Hal ini membuktikan kualitas dari pendidikan yang dihasilkan dari seorang tokoh bangsa bernama KH Ahmad Dahlan yang menginisiasi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026. Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 02/05/2026 20:29
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡