Pada awal tahun 1980-an ketika masih sekolah SMA hingga kuliah, saya selalu diajak ayah. Ayah saya yang bernama Moch. Yunus begitu antusias mengikuti kajian yang disampaikan KH M. Anwar Zain. Entah dari mana sumber informasinya, tetapi yang jelas saya sering diajak mengikuti dan menghadiri khotbah dan pengajian beliau di berbagai masjid di Surabaya.
Waktu itu saya belum tahu siapa sebenarnya sosok pendakwah yang dikagumi ayah saya itu. Barulah setelah saya aktif mengikuti jadwal kajian beliau, saya mulai sedikit tahu. Dan terasa betapa luar biasanya sang tokoh Muhammadiyah ini, meski belum tahu jabatannya sebagai apa.
Saat itu, saya adalah seorang anak muda yang mulai belajar dakwah dan turut membersamai ayah, baik di Masjid Al Falah maupun Masjid Jenderal Sudirman. Meski ayah baru pulang kerja, kami langsung siap bergegas berboncengan naik sepeda motor tua untuk bisa salat Magrib berjamaah hingga dilanjut kajian sampai waktunya salat Isya.
Sepertinya ada ikatan emosional akibat proses pencerahan dari materi kajian yang disampaikan KH Anwar Zain. Sehingga ingin mengundang beliau di pengajian Karang Taruna di kampung kami di Kupang Praupan II Surabaya. Ternyata tokoh besar ini berkenan hadir dan diketahui kalau beliau ternyata Ketua Muhammadiyah Jawa Timur.
Ada topik menarik dari dakwah beliau yang masih ingat dalam memori saya. Yaitu pentingnya bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita (QS Ibrahim: 7), yang diuraikan secara santun dan mudah dipahami. Proses pencerahan begitu terasa untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan gaya bahasa yang penuh kewibawaan, membuat audiens mengikuti pengajian hingga tuntas. Jika ada ucapan yang terkesan menyinggung perasaan, bisa diolah dengan tutur kata yang menyejukkan bahkan membuat tertawa para jamaah yang hadir.
Uraian tausiyahnya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, jauh dari penggunaan kosakata yang sulit dipahami. Justru ditunjukkan secara jelas dan detail tentang makna syukur agar Allah SWT senantiasa menambahkan nikmat itu, serta dijauhkan dari azab yang menyakitkan.
Menguraikan makna syukur dengan perumpamaan sekaligus pemanfaatan karunia Allah dari organ-organ tubuh kita sendiri. Dengan senyum yang khas dan gaya bahasa yang pas, sindiran-sindiran beliau bukannya membuat jamaah tersindir. Justru tercerahkan, terlihat dari senyuman para jamaah, sehingga paham dan sadar betapa besar karunia nikmat Allah kepada kita.
Di tengah tausiyah yang disampaikan, terlihat ada jamaah anak muda yang hadir mengikuti pengajian sambil merokok. Sehingga asap tersebar dan terhisap oleh jamaah lainnya. Maka KH Anwar Zain memanfaatkan suasana tersebut untuk menguraikan tentang rokok.
“Bagi para perokok, sudah berapa lama merokok?” kata beliau memulainya. “Coba dihitung jika satu batang rokok panjangnya 10 cm, sehari menghabiskan 1 pak rokok berisi 12 batang. Berarti sehari sudah menghisap rokok yang panjangnya 120 cm. Jika sebulan berarti sepanjang 3.600 cm atau 36 m. Jika setahun sepanjang 432 m, dan jika sudah merokok 10 tahun berarti 4.320 m atau 4,3 km panjangnya.”
“Bagaimana paru-paru kita selama ini bekerja dan berapa rupiah uang yang sudah dibelanjakan untuk rokok? Dan bagaimana wujud rasa syukur kita kepada-Nya? Sudahkah optimal beribadah dan bersyukur? Sejauh mana bibir tempat menghisap rokok digunakan berdzikir?” Begitu uraian beliau.
Tanpa berpikir panjang, sang perokok langsung mematikan rokoknya. Tetapi dia tidak meninggalkan pengajian, justru mengikutinya sampai selesai.
Dan masih banyak perumpamaan aktivitas sehari-hari yang dijadikan topik bahan kajian beliau. Sehingga beberapa anak muda tertarik dan sadar untuk lebih bersyukur atas karunia-Nya.
KH Anwar Zain sepertinya tahu akan kondisi yang aktual. Sehingga dakwah yang diberikan benar-benar menggugah kesadaran tanpa ejekan, apalagi menyakitkan. Justru ada sentuhan dakwah yang segar dan mudah dilakukan.





0 Tanggapan
Empty Comments