Dipeluk oleh Surat Al-Fatihah
Dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad dari Abu Hurairah dari Ubay bin Ka’ab bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah surat yang tidak ada bandingannya di Taurat, Zabur, Injil, dan bahkan dalam al Quran?”
Ubay menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah menggandeng tangan Ubay dan berbicara dengannya hingga hampir keluar dari pintu rumah.
“Wahai Rasulullah, surat yang Engkau janjikan?” tanya Ubay.
Rasulullah bertanya, “Apa yang biasa kamu baca saat shalat?”
“Aku membaca Al-Fatihah.”
Rasulullah bersabda, “Itulah dia! Ia adalah as-sab’ul matsani (tujuh ayat yang berulang) dan Al Quran yang agung yang diberikan kepadaku.”
Begitulah cintanya para sahabat kepada ilmu. Bahkan dalam riwayat lain dijelaskan mereka rela memperlambat langkah agar tak terlewat satu pun ajaran dari lisan Nabi.
Kemuliaan Ubay bin Ka’ab
Betapa tingginya kedudukan Ubay bin Ka’ab di sisi Allah dan Rasul-Nya. Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, Nabi berkata:
روى البخاري بسنده عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: قَالَ النَّبِيُّ لأُبَيٍّ: “إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ {لَمْ يَكُنْ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ}”. قَالَ: وَسَمَّانِي؟! قَالَ: “نَعَمْ”، فَبَكَى.
“Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu (wahai Ubay): ‘Lam yakunilladzîna kafarû min ahlil kitâb…’ (Qs Al-Bayyinah: 1)”
Ubay terkejut dan bertanya, “Apakah Allah menyebut namaku, wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Ya.” Maka Ubay pun menangis haru. (HR. al-Bukhari 4959)
Ia juga termasuk di antara empat sahabat Anshar yang mengumpulkan al Quran di masa Rasulullah, bersama Zaid bin Tsabit, Muadz bin Jabal, dan Abu Zaid. Bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling fasih bacaannya. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ
Umatku yang paling penyayang terhadap yang lain adalah Abu Bakar. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah Utsman. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan al-Qur’an nya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR At-Tirmidzi 3791).
Dalam Shahih Muslim, Rasulullah pernah bertanya:
“يا أبا المنذر، أتدري أي آية من كتاب الله معك أعظم؟” قال: قلت: الله ورسوله أعلم. قال: “يا أبا المنذر، أتدري أي آية من كتاب الله معك أعظم؟” قال: قلت: “اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ”. قال: فضرب في صدري وقال: “وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ”.
“Wahai Abu al-Mundzir, tahukah engkau ayat mana yang paling agung dalam al Quran?”
Ubay menjawab, “Allahu laa ilaaha illaa huwa al-Hayyul Qayyum.”
Rasulullah kemudian menepuk dadanya seraya berkata, “Demi Allah, semoga engkau diberkahi dengan ilmu, wahai Abu al-Mundzir.” (HR Muslim: 810)
Penulis Wahyu dan Guru Para Sahabat
Ubay bin Ka’ab juga dikenal sebagai salah satu penulis wahyu. Di Madinah, Rasulullah lebih sering memanggilnya untuk mencatat wahyu sebelum Zaid bin Tsabit. Di masa Khalifah Umar, ia ditunjuk menjadi hakim di Yaman karena keluasan ilmunya.
Banyak sahabat dan tabi’in yang belajar al Quran darinya, seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Abdurrahman as-Sulami, dan lainnya.
Kisah Ubay bin Ka’ab bukan hanya tentang hafalan dan bacaan, tapi juga tentang kecintaan mendalam kepada al Quran dan keteladanan dalam ketaatan. Mari kita teladani semangatnya dalam mencari ilmu dan menjadikan al Quran sebagai pedoman hidup. Sebagaimana perintah Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 24:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu pada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu!. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (*)
Editor Amanat Solikah





0 Tanggapan
Empty Comments