Mungkin yang pernah melewati rel kereta api Hankyu di Osaka akan mengenal kota kecil Juso. Juso berarti 13 (tiga belas), dari asal kata jusan, yang ditulis dengan huruf kanji 十三. Orang Jepang tidak menyebutnya dengan kata Jusan, tetapi Juso. Seperti kita mengenal nama Yogja yang konon berasal dari kata Ayodhya yang diambil dari cerita Sri Rama Wijaya.
Mungkin ada yang mengenal Gunung Fuji di Prefektur Yamanashi dan Shizuoka. Gunung Fuji dalam huruf kanji ditulis 富士山 dan dibaca Fujisan dalam bacaan “onyomi”, dan bukan disebut Fujiyama. Fujiyama adalah bacaan kunyomi, yang biasa digunakan sebagai nama orang atau marga. Jika Anda bertanya Fujiyama di sana, maka akan diantar ke warung, bukan ke gunung.
Yama yang berarti gunung dibaca “san” dalam bacaan onyomi. Saat menyebut sebuah gunung di Prefektur Tottori, yama diucapkan sebagai “sen”. Gunung Daisen yang ditulis dalam huruf kanji sebagai 大山, tidak dibaca Daiyama atau bahkan Daisan. Memang sebuah nama menjadi sangat menarik, huruf sama, bacaan berbeda.
Tawangalun, itu stasiun bus (bus station) yang sangat terkenal di Jember. Mengapa disebut Tawangalun, nah itu juga harus membuka sejarah. Saya dulu sering mampir di stasiun bus itu, saat masih “baru-barunya” di jabatan paling bawah di PNS, sebagai 3A. Disuruh mengajar sampai ke daerah Tapal Kuda dan harus berpindah bus antarkota dengan harus menghafal banyak nama tempat.
Khas dari sekitar Tawangalun adalah madumongso dan suwar-suwir, dan ini menjadi sangat spesial. Apalagi saat itu adalah zaman proyek listrik masuk desa, dan insinyur yang masih fresh graduate termasuk saya harus terjun ke segala pelosok sambil berlatih kehidupan nyata dengan “garapan proyek”. Di tempat itu saya mengenal nama “suwar-suwir” yang selalu melekat di ingatan.
Istilah suwir, dan berkembang menjadi suwiran, ini sangat unik. Saat di Solo, istilah suwir melekat pada ayam suwir, dan ini untuk melengkapi menu nasi liwet. Yang kadang suwiran-suwirannya berukuran sangat mini, atau paket hemat.
Memberi nama apa saja selalu selaras, dan di banyak kasus juga belum tentu selaras. Bayangkan saja, nama suwar-suwir, apalagi madumongso. Saat pertama saya mencicipi, memang tidak terbayang kalau itu adalah suwar-suwir. Rasanya yang sangat memesona, manis-manis legit, dan ingin makan terus. Memang tidak masuk akal, saat suwar bertemu suwir menjadi sebuah paduan makanan yang pas.
Di Kebumen ada gorengan gembus di sekitar Kecamatan Klirong. Sebelum mengenal itu, mungkin sulit membayangkan, karena ada juga tempe gembus di banyak daerah. Tempe gembus dan gembus adalah berbeda jauh bentuk dan jenis bendanya.
Mungkin juga ada yang belum mengenal blengong. Karena sate blengong sangat terkenal di Brebes. Sulit membayangkan saat awal-awal membuat istilah itu di zamannya. Ini yang membuat belajar bahasa semakin menarik. Muzukashiidesu ga omoshiroidesu, sulit tetapi menarik, begitu kata para guru bahasa Jepang untuk menyemangati para muridnya.
Di sekitar Kali Progo ada beong, di Sungai Siak ada baung, dan di Kali Luk Ulo ada bayong. Semua itu adalah ikan dan bentuknya hampir mirip. Ini juga menarik, karena masing-masing mempunyai penggemar yang fanatik. Mangut beong berasa sedap, kuah baung beraroma bumbu Melayu nan gurih, dan pecak bayong adalah kesukaan saya saat kecil.
Ada lanthing dan ada klanthing, namanya sangat mirip, dan barangnya jauh berbeda. Ada jemblem, ada jemblung, ada jamblang, dan ada blendhung. Ini juga sangat unik, dan semua masih ada di banyak pasar di kampung-kampung.
Dalam bahasa Jawa, istrinya bojo, suaminya bojo. Efisien, kata bojo dapat berarti istri atau suami. Artinya, Bahasa Indonesia lebih banyak kosakatanya. Mungkin begitu, atau malah sebaliknya.
Saat ini banyak yang tidak dapat membedakan penggunaan huruf a dan o. “Bojoku loro mlebu rumah sakit”, dan padahal loro berarti dua.
Di Gombong ada mendoan berukuran kertas A4 dan ada juga yang berukuran satu meter persegi. Mendoan dari kata mendo. Saat Idul Qurban juga banyak mendo yang dijual, yang berarti kambing. Anak buah Hanoman di dunia wayang purwa juga ada yang bernama Kapi Mendo. Di Tegal ada sate Sarimendo.
Lagi-lagi, berbahasa dapat suwir sana, suwir ini. Ini menjadi semakin asyik dalam kita berbahasa apa pun. Memang sering tumpang tindih, karena mendo sebagai gorengan seharusnya ditulis “mendhoan”, dan mendo yang berarti kambing tetap ditulis “mendo”.
Ada jam dinding di rumah, dan lima jam harus rapat Agustusan, dan jam enam boleh bangun. Berbagai macam tentang jam ada di sekitar kita, jam beker, jam tangan, jam malam, jam kerja, dan jam-jam yang lain. Luar biasa, ada lima jam, dan ada juga jam lima.
Si rubah kutub melintas hutan yang luas saat musim semi tiba. Itu dosen suka merubah-rubah soal ujian setiap semester, kata beberapa mahasiswa. Bayangkan saja, hanya masalah ujian semester saja harus mendatangkan rubah. Merubah, merubah, dan ada yang lebih meleset lagi menjadi merobah.
Lagi-lagi, saat-saat pagi hari nan cerah menyantap tahu goreng khas Kediri. Memang berat menjadi orang yang tahu apa saja, atau serba tahu. Oh serba tahu, artinya boleh tahu telur, tahu tek, tahu brontak, tahu isi, dan tahu bakso yang banyak di Ungaran itu.
Memang tidak hanya untuk orang yang serba tahu, tetapi juga serba bisa, termasuk bisa apa pun. Oh bisa, hewan itu benar-benar menjadi sangat berbisa di padang liar belantara. Tidak sebisa black mamba, tetapi juga tidak setajam bisa kobra. Menjadi ingat saat sekolah kejuruan berslogan “SMK Bisa”.
Bahasa adalah makna, suasana, dan rasa. Betul kata AI, tidak semua orang yang menangis di acara pernikahan adalah orang yang sedang berbahagia. AI harus dapat mengulik makna adegan menangis dengan lebih mendalam. Bagaimana tidak menangis, karena yang menikah adalah mantan tunangannya.
Bahasa banyak menyimpan keindahan dan tikungan yang unik, tetapi selalu menarik. Ingat guyonan Tete Maulette dari Tulehu sekian tahun silam, “seng makan mati, makan seng mati”.





0 Tanggapan
Empty Comments