Sungguh luar biasa Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Persyarikatan dari bibit yang di tanam kini tumbuh subur dan berkembang di Indonesia. Bahkan tumbuhnya merambah hingga mancanegara.
Nama Ahmad Dahlan tetap diingat dan tidak dilupakan. Sejarahnya tertulis dengan tinta emas. Namanya melekat pada institusi pendidikan, termasuk nama jalan. Pemerintah pun memberi penghargaan sebagai pahlawan nasional.
Beberapa tokoh Muhammadiyah lainnya juga dikenang dan tidak dilupakan. Apalagi mereka yang telah menjadi ketua umum PP Muhammadiyah dan ketua-ketua di pimpinan wilayah, daerah cabang dan ranting. Nama mereka tetap diingat dan disebut-sebut oleh pimpinan penerusnya.
Namun tidak semua mantan pimpinan Muhammadiyah yang seperti itu. Jangankan dikenang dan diingatnya. Bila ada acara-acara Muhammadiyah jangankan diundang, diberi tahu saja tidak. Mereka seakan telah dilupakan dan terpinggirkan.
Padahal Muhammadiyah mengajarkan agar tidak melupakan para pendahulu. Para perintis, pendiri, pengurus, aktifis dan kader-kadernya yang telah membaktikan dirinya pada Muhammadiyah tak sepantasnya dilupakan.
Pimpinan sesudahnya dan yang baru seakan tak ingat dan lupa bahwa kehadirannya di Muhammadiyah tidak terlepas dari para pendahulunya.
Menjadi pimpinan di Muhammadiyah bukanlah suatu kebanggaan dan paling berjasa. Pimpinan yang masih memimpin jika Muhammadiyah maju di jamannya tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para pendahulunya. Kemajuan pun merupakan hasil kerja-sama kolektif kolegial pimpinan dan anggotanya.
Para pendahulu yang telah meletakkan dasar dan memelihara Muhammadiyah hingga tumbuh dan berkembang saat ini dan berkemajuan tetap tidak bisa diabaikan peran dan jasanya.
Sebagaimana Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sedemikian menghargai para nabi pendahulunya. Beliau mengatakan bahwa dirinya sebagai satu batu bata yang melengkapi batu-batu yang sudah tersusun kokoh menjadi satu bangunan.
Ini sesuai hadis dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang ketika itu mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi, jika batu bata ini diletakkan, akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Bukhari, no. 3535 dan Muslim, no. 2286)
Budi dan Adab Muhammadiyah
Demikianlah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan adab pada umatnya agar tidak melupakan para pendahulunya.
Begitu pula Ahmad Dahlan yang tidak melupakan para pendahulunya mulai dari Rasulullah, para sahabatnya, tabiin, tabiit-tabiin, para ulama, Muhammad Abduh Rasyid Ridha, Muhammad bin Abdul Wahab, HOS Tjokroaminoto, dan lain-lain.
Begitulah sebaiknya para pimpinan Muhammadiyah yang sedang menjabat di semua tingkatan. Termasuk pimpinan organisasi otonom nya.
Pimpinan Ortom ini yang lebih perlu diingatkan. Sebab mereka mudah lupa dan tak ingat pada senior-seniornya.
Padahal data dalam organisasi sedemikian lengkap. Namun biasanya tak sempat dibaca, apalagi sudah sibuk urusan organisasi internal eksternal, pribadi dan keluarganya.
Sudah sepatutnya mantan pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan yang masih hidup dijaga hubungan silaturrahim dengan mereka.
Undang mereka dan para pendahulu yang masih hidup dalam acara-acara dan kegiatan Muhammadiyah. Mereka diingat dan tidak dilupakan, apalagi diundang sudah senang dan bersyukur.
Bagi mereka dihargai atau tidak saat kehadirannya tidaklah penting. Namun tentu tidak berbudi dan beradab manakala kehadirannya dibiarkan tanpa disapa dan ditegur dengan baik dan penuh penghormatan.
Sebagai organisasi modern dan rasional Muhammadiyah tidak berarti abai pada hal-hal tradisional dan ikatan emosional. Sebab Muhammadiyah adalah organisasi dakwah Islam yang mengedepankan nilai-nilai Islam dan akhlakul karimah.
Karena itu sudah selayaknya dalam berbagai aktivitasnya pimpinan Muhammadiyah tidak mengabaikan dan melupakan para mantan aktivis dan pimpinan sebelumnya.
Itulah karakter mulia Muhammadiyah, benar-benar pengikut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan meneladani hidup dan kepribadiannya sepanjang masa.
Semoga jaya dan majulah Muhammadiyah. Selamat milad ke-117 H/114 M. (MK. 30.4.26). (*)





0 Tanggapan
Empty Comments