Dalam urusan kesehatan, kepercayaan sering kali menjadi obat pertama yang dicari sebelum terapi diberikan. Ketika seseorang atau anggota keluarganya jatuh sakit, yang mereka harapkan bukan hanya layanan medis yang baik, tetapi juga kepastian bahwa mereka ditangani oleh institusi yang mampu memberi rasa aman, penghormatan, dan harapan akan kesembuhan.
Kepercayaan sebesar itu hanya dapat diberikan kepada institusi yang mampu menjalankan amanahnya dengan baik. Sebab rumah sakit bukan sekadar tempat berlangsungnya tindakan medis, melainkan ruang di mana harapan, kecemasan, dan keselamatan manusia dipertaruhkan.
Di sanalah kualitas pelayanan tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi atau kompetensi tenaga kesehatan, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan rasa aman dan penghormatan kepada setiap pasien.
Karena itu, slogan “Apapun Sakitnya, RSMA Pilihannya” semestinya dipahami sebagai sebuah komitmen. Ia menuntut kesungguhan untuk menghadirkan layanan kesehatan yang bermutu, mudah diakses, dan berorientasi pada kemanusiaan.
RSMA adalah Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah. Di Jawa Timur, saat ini terdapat 39 RSMA yang tersebar di hampir seluruh kota dan kabupaten. Kehadirannya tidak tiba-tiba karena hampir semua terlahir dari Balai Pengobatan atau Rumah Bersalin, berangsur tumbuh menjadi rumah sakit.
RSMA tumbuh dari semangat dakwah kemanusiaan Muhammadiyah dan Aisyiyah: membantu orang sakit, mendampingi yang lemah, dan menghadirkan pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau masyarakat luas.
Seluruh RSMA di Jawa Timur melayani peserta BPJS Kesehatan. Ini penting, sebab sakit tidak pernah memilih siapa yang kaya dan siapa yang sederhana.
Penyakit dapat datang kepada pedagang kecil, guru, buruh, petani, pegawai, ibu rumah tangga, hingga lansia.
Karena itu, layanan kesehatan yang baik tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang mampu membayar mahal. RSMA hadir sebagai rumah sakit yang bermutu, tetapi tetap berpihak kepada seluruh lapisan masyarakat.
Mengapa masyarakat perlu memilih RSMA?
Pertama, karena RSMA dekat dan mudah dijangkau. Dalam teori pemanfaatan pelayanan kesehatan, Ronald Andersen menjelaskan, seseorang akan lebih mudah menggunakan layanan kesehatan apabila tersedia akses yang memungkinkan: lokasi yang terjangkau, pembiayaan yang terjangkau, serta pelayanan yang benar-benar tersedia ketika dibutuhkan.
Kedekatan RSMA di berbagai wilayah Jawa Timur menjadi sangat penting. Dalam keadaan darurat, jarak yang lebih dekat berarti pertolongan yang lebih cepat. Dalam masa perawatan, kedekatan juga berarti keluarga lebih mudah mendampingi pasien.
Kedua, karena RSMA membawa nilai kemanusiaan dalam pelayanan. Masyarakat tidak hanya membutuhkan dokter yang pandai atau alat medis yang canggih.
Mereka juga membutuhkan sapaan yang ramah, penjelasan yang mudah dipahami, petugas yang tidak membedakan pasien, dan suasana hati yang senantiasa menghargai martabat manusia.
Mark Hall dan koleganya, dalam kajian tentang kepercayaan pasien terhadap dokter dan institusi kesehatan, menegaskan bahwa kepercayaan menjadi unsur penting dalam pelayanan medis.
Pasien yang percaya akan lebih terbuka menyampaikan keluhan, lebih bersedia mengikuti terapi, dan lebih tenang menjalani proses pengobatan.
Di sinilah RSMA memiliki kekuatan moral. Spirit Penolong Kesengsaraan Oemoem harus selalu hidup dalam setiap pelayanan: pasien BPJS maupun umum serta pasien asuransi swasta tetap disambut dengan penghormatan yang sama; pasien tidak dipandang sebagai nomor antrean atau berkas klaim, tetapi sebagai manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.
Ketiga, karena RSMA berkomitmen terhadap mutu pelayanan. Avedis Donabedian, tokoh penting dalam kajian mutu layanan kesehatan, menjelaskan bahwa mutu rumah sakit dapat dinilai melalui tiga hal: struktur, proses, dan hasil.
Struktur berarti fasilitas yang memadai, tenaga kesehatan yang kompeten, serta tata kelola yang baik. Proses berarti pelayanan yang aman, cepat, ramah, dan sesuai standar. Hasil berarti pasien memperoleh manfaat nyata: sembuh, membaik, aman dari kejadian yang tidak diharapkan, serta puas terhadap pelayanan.
Teori ini memberi pesan penting: RSMA tidak cukup hanya memiliki nama besar dan sejarah panjang. RSMA terus membuktikan mutu melalui dokter dan perawat yang profesional, keselamatan pasien, fasilitas yang terus diperbaiki, digitalisasi layanan yang memudahkan, serta budaya pelayanan yang menempatkan pasien sebagai manusia yang harus dihargai dan diberikan pertolongan.
Keempat, karena memilih RSMA berarti ikut membangun kekuatan kesehatan umat dan bangsa. RSMA bukan hanya milik organisasi, tetapi merupakan aset sosial yang manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Ketika masyarakat mempercayakan pelayanan kesehatannya kepada RSMA, kepercayaan itu akan memperkuat kemampuan rumah sakit untuk tumbuh, berinovasi, meningkatkan fasilitas, dan melayani lebih banyak orang.
Namun, slogan “Apapun Sakitnya, RSMA Pilihannya” juga membawa tanggung jawab besar bagi seluruh insan RSMA.
Pilihan masyarakat tidak lahir dari baliho, iklan, atau kata-kata indah. Pilihan lahir dari pengalaman: pasien dilayani dengan cepat, keluarganya diperlakukan dengan baik, informasinya dijelaskan dengan jujur, biayanya disampaikan dengan transparan, dan proses pengobatannya memberi harapan.
Sakit memang dapat datang kapan saja dan kepada siapa saja. Tetapi masyarakat Jawa Timur tidak boleh merasa sendiri ketika menghadapinya.
Di berbagai kota dan kabupaten sudah hadir RSMA, rumah sakit yang berikhtiar memadukan profesionalisme, mutu, keterjangkauan, dan nilai kemanusiaan.
Maka pesan ini layak terus disampaikan dan didengungkan: ketika kesehatan terganggu, ketika keluarga membutuhkan pertolongan, dan ketika harapan untuk sembuh harus dijaga—apapun sakitnya, RSMA pilihannya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments