Kisah KH M. Anwar Zain nyaris tidak pernah lepas dari dakwah. Hari-harinya diisi dengan ceramah keagamaan dari satu tempat ke tempat lain. Terlebih setelah dirinya dipercaya memimpin Muhammadiyah di Surabaya hingga Jawa Timur.
Bagi keluarga, aktivitas berdakwah itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan KH Anwar Zain. Putrinya yang nomor 12, Elok Nurrochmi, mengenang bahwa sejak kecil dirinya lebih sering melihat sang ayah berada di luar rumah untuk memenuhi undangan dakwah.
“Yang saya tahu dari ayah, ya berdakwah,” kenang Elok Nurrochmi, Elok, saat ditemui PWMU.CO pada Ahad, (17/05/2026).
Menurutnya, sang ayah kerap berangkat pagi, siang, maupun sore hari untuk memberikan ceramah. Namun satu hal yang pasti, kepulangannya hampir selalu larut malam. Mobilitas dakwah yang padat membuat KH Anwar Zain nyaris tidak memiliki waktu libur.
Untuk menuju lokasi ceramah, biasanya telah tersedia penjemput dari panitia. Bahkan ketika Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur masih berkantor di Perguruan Muhammadiyah Kapasan Surabaya, organisasi ini menyediakan seorang sopir khusus untuk membantu mobilitas dakwah KH Anwar Zain.
Kisah Anwar Zain yang berdakwah, tidak hanya berkutat di luar. Ia pun tidak melupakan lingkungan tempat tinggalnya. Salah satu rintisannya adalah Pengajian Ahad Pagi, jauh hari sebelum istilah ini ppopular di seluruh Muhammadiyah se-Jawa Timur.
Pengajian rutin tiap Ahad yang dirintis Anwar Zain itu berada di Balai Dakwah Muhammadiyah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bubutan (PCM) Bubutan. Lantai 2 digunakan untuk pengajian, sementara lantai 1 digunakan untuk Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal Aisyiyah (TK ABA) 18 Bubutan Surabaya.
“Pada Ahad hari ini, pengajian di Balai Dakwah Muhammadiyah Kalibutuh PCM Bubutan ini sudah memasuki ke-2701 kalinya,” terang Sekretaris PCM Bubutan, Syahroni Nur Wachid.
“Jika dihitung mundur dari Mei 2026, maka awal pengajian dilaksanakan sekitar bulan Agustus 1974,” tambah Syahroni. Angka itu dihitung dengan kalkulasi 1 tahun ada 52 pekan. Sehingga angka 2701 pekan setara dengan 51,9 tahun.
Kesibukan yang sangat tinggi itu juga berdampak pada pola hidupnya. Keluarga mengaku sulit mengontrol pola makan KH Anwar Zain ketika berada di luar rumah. Jadwal makan sering tidak teratur karena padatnya agenda dakwah yang dijalani.
“Kalau di rumah sebenarnya makannya teratur. Tetapi kalau sudah di luar, sering tidak menentu,” ungkap keluarga.
Tanggung jawab besar KH Anwar Zain di Muhammadiyah dimulai saat dirinya dipercaya menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya pada 1962. Ia memimpin PDM Surabaya selama dua periode, yakni 1962-1965 dan 1965-1968.
Karier organisasinya terus berlanjut ketika terpilih menjadi Ketua PWM Jawa Timur menggantikan KH Oesman Muttaqin. Amanah itu diembannya selama lima periode berturut-turut, yakni 1968-1971, 1971-1974, 1974-1978, 1978-1985, dan 1985-1990.
Sebagian besar hidup KH Anwar Zain dihabiskan untuk mengabdi kepada Muhammadiyah dan masyarakat. Bahkan di lingkungan keluarga sempat muncul perasaan bahwa dirinya lebih mendahulukan organisasi dibanding keluarga.
Rumahnya pun nyaris tidak pernah sepi. Banyak pimpinan Muhammadiyah tingkat wilayah, daerah, cabang, hingga ranting datang untuk berkonsultasi. Termasuk pada waktu-waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat bersama keluarga.
Meski demikian, keluarga memahami bahwa tenaga dan pemikiran KH Anwar Zain memang sangat dibutuhkan umat dan persyarikatan.
Kisah Anwar Zain dalam berdakwah dan pengabdian panjang itu berakhir pada 1989. KH Anwar Zain wafat di tengah masa kepemimpinannya yang kelima sebagai Ketua PWM Jawa Timur. Saat menghadiri Sidang Tanwir Muhammadiyah di Malang pada pertengahan Juni 1989, kondisi kesehatannya menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada Agustus 1989.





0 Tanggapan
Empty Comments