Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Mahasiswa UMM Berantas Stunting dan Hapus Mitos Gizi di NTT

Iklan Landscape Smamda
Kisah Mahasiswa UMM Berantas Stunting dan Hapus Mitos Gizi di NTT
Kisah Mahasiswa UMM Berantas Stunting dan Hapus Mitos Gizi di NTT
pwmu.co -

Ketimpangan informasi kesehatan dan keterbatasan ekonomi di daerah pelosok mendorong Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) ke Desa Probur, Kecamatan Alor Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gentaskin (Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem) yang berlangsung pada Juli hingga September 2026, para mahasiswa mengemban misi mendukung penurunan angka stunting sekaligus membantu upaya penanggulangan kemiskinan ekstrem demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT tahun 2025, Kabupaten Alor mencatat prevalensi balita stunting sebesar 22,59 persen atau sebanyak 2.888 balita. Dari jumlah tersebut, 705 balita masuk kategori sangat pendek dan 2.184 balita tergolong pendek.

Koordinator sekaligus peserta KKN Tematik GENTASKIN Batch 2 FIKES UMM, Tristan Gilang Antoro, menjelaskan bahwa hasil pemetaan awal menunjukkan sebagian besar warga Desa Probur menggantungkan penghasilan dari pekerjaan musiman sebagai petani kemiri dan porang.

Kondisi ekonomi yang terbatas tersebut diperparah oleh masih kuatnya kepercayaan terhadap mitos mengenai asupan gizi anak, sehingga turut berkontribusi terhadap tingginya angka stunting.

“Mayoritas masyarakat di sini masih sangat minim informasi medis dan lebih memercayai budaya setempat terkait asupan gizi anak, ditambah lagi faktor kemiskinan akibat penghasilan bertani yang tidak menentu menjadi pemicu utama tingginya angka stunting,” ujarnya.

Merespons kondisi tersebut, tim KKN UMM bekerja sama dengan puskesmas setempat melakukan pendampingan di posyandu serta membagikan selebaran edukasi mengenai pencegahan kekurangan gizi.

Pelaksanaan program tidak berlangsung mudah. Para mahasiswa harus berjalan kaki menembus perbukitan sejauh sekitar tiga kilometer untuk mendata warga dan menjangkau lokasi kegiatan.

Menurut Tristan, keberlangsungan program mendapat dukungan penuh dari dosen pembimbing lapangan (DPL), mulai dari pengaturan akomodasi hingga penyesuaian jadwal ujian.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia menegaskan, keberhasilan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh program kerja, tetapi juga kemampuan mahasiswa menghormati budaya lokal dan membangun kedekatan dengan masyarakat.

“Pengabdian ini bukan sekadar tentang menjalankan program kerja, melainkan bagaimana cara mahasiswa UMM melebur, menghargai budaya lokal, dan melakukan pendekatan tulus hingga masyarakat menganggap delegasi Kampus Putih sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri,” paparnya.

Kehadiran mahasiswa UMM mendapat sambutan hangat dari masyarakat Desa Probur.

Berbagai aktivitas sehari-hari, seperti mencari kayu bakar di hutan hingga memanfaatkan fasilitas sanitasi milik warga, menjadi pengalaman yang mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat.

Interaksi tersebut tidak hanya menghapus sekat bahasa dan perbedaan budaya, tetapi juga menjadi pembelajaran berharga tentang arti pengabdian dan kehidupan bermasyarakat.

Menutup keterangannya, Tristan berpesan kepada mahasiswa yang kelak akan melaksanakan pengabdian di wilayah serupa agar mempersiapkan diri secara fisik maupun mental.

“Bagi rekan-rekan mahasiswa yang kelak akan meneruskan langkah pengabdian ke sini, persiapkan fisik dan mental untuk berbaur, karena kalian mungkin datang dengan keraguan, tetapi dipastikan akan pulang dengan air mata perpisahan,” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 21/07/2026 17:42
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu