Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 162 mengembangkan pemanfaatan bahan-bahan lokal menjadi pestisida nabati dan Pupuk Organik Cair (POC) di Dusun Bulurejo, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UMM Kelompok 162, Aan Sugiarto, mengatakan program tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan hasil observasi mahasiswa terhadap potensi lokal yang tersedia di Dusun Bulurejo.
“Program ini berangkat dari kebutuhan masyarakat yang masih belum memahami cara membuat pestisida nabati dan POC. Dari hasil observasi, mahasiswa kemudian melihat berbagai potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program tersebut,” kata Aan, Rabu (19/8/2026).
Program yang dilaksanakan pada 11 Agustus 2026 itu berawal dari kebutuhan warga yang ingin mengetahui cara membuat pestisida nabati dan POC. Kebutuhan tersebut kemudian diperkuat melalui observasi mahasiswa terhadap potensi pertanian dan bahan alami yang tersedia di Dusun Bulurejo.
Sebagian besar warga Dusun Bulurejo bekerja atau beraktivitas di sektor pertanian. Namun, masih banyak yang belum mengetahui cara membuat pestisida nabati dan POC secara mandiri. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa KKN untuk menghadirkan program yang praktis dan sesuai dengan kebutuhan warga.
Saat dikonfirmasi pada Rabu, 19 Agustus 2026, salah satu warga mengungkapkan ketertarikannya untuk mempelajari pembuatan pestisida nabati dan POC.
“Saya ingin tahu cara membuatnya, karena masih belum paham dan ingin belajar membuat pestisida nabati dan POC sendiri,” ujar salah satu warga.
Berangkat dari Potensi Lokal
Aan Sugiarto menjelaskan, hasil observasi mahasiswa menunjukkan Dusun Bulurejo memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan. Di antaranya tanaman tebu, lahan persawahan, pohon kelapa, pepaya, jamur, serta berbagai tanaman lainnya.
“Potensi tersebut kemudian dipetakan untuk mencari bahan alternatif yang mudah diperoleh masyarakat. Untuk pestisida nabati, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan daun paitan dan daun pepaya,” ungkapnya.
Dia lalu menjelaskan, daun pepaya dipilih karena tanaman tersebut banyak ditemukan di sekitar rumah warga.
Selain mudah diperoleh, pemanfaatannya menjadi pestisida nabati dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mengoptimalkan bahan yang tersedia di lingkungan mereka.
“Sementara itu, pembuatan POC diarahkan pada pemanfaatan bahan organik rumah tangga yang selama ini kerap menjadi limbah. Sayuran yang sudah tidak terpakai dan air cucian beras menjadi contoh bahan yang dapat dimanfaatkan kembali,” jabar Aan.
Pendekatan tersebut, menurut dia, membuat program KKN tidak sekadar memberikan pengetahuan baru, tetapi juga mendorong masyarakat melihat kembali bahan-bahan di sekitar mereka sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna.
Program pestisida nabati dan POC menjadi bagian dari upaya KKN Berdampak UMM Kelompok 162 untuk merespons kebutuhan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
Mahasiswa berharap pengetahuan yang diberikan dapat mendorong warga untuk lebih mandiri dalam mengolah bahan alami di lingkungan sekitar.
Pemanfaatan tersebut juga diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan praktik pertanian yang lebih optimal dengan sumber daya lokal.
Bagi mahasiswa, program ini sekaligus menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi secara langsung di tengah masyarakat.
Hasil observasi terhadap kondisi pertanian dan ketersediaan bahan lokal menjadi pijakan utama dalam menentukan jenis bahan serta proses pengembangan pestisida nabati dan POC.
Dengan demikian, KKN Berdampak tidak berhenti pada kegiatan pengabdian selama mahasiswa berada di desa. Program tersebut diarahkan untuk meninggalkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah kegiatan KKN berakhir. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments