Penghimpunan zakat melalui lembaga, peningkatan kepercayaan masyarakat, dan keberlanjutan kaderisasi menjadi sejumlah isu yang dibahas dalam kunjungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pekajangan ke PCM Gombong, Kabupaten Kebumen, Ahad (11/10/2026).
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang belajar bagi PCM Pekajangan untuk mendalami pengelolaan Lazismu dan penguatan organisasi. PCM Gombong sendiri meraih predikat Best of the Best PCM se-Indonesia dalam ajang Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) Award VI 2025 di Banjarmasin.
Rombongan PCM Pekajangan terdiri atas jajaran pimpinan cabang, pengurus Lazismu Kantor Layanan (KL) Pekajangan, serta amil dari tingkat ranting. Dalam rangkaian kegiatan, rombongan mengunjungi Kantor Lazismu PCM Gombong dan mengikuti sesi diskusi bersama jajaran PCM Gombong, Pimpinan Cabang Aisyiyah Gombong, serta Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Gombong.
Penghimpunan Zakat dan Kepercayaan Masyarakat
Ketua PCM Pekajangan, H. Abdul Shomad, S.E., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Lazismu KL Pekajangan untuk mempelajari strategi penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah yang diterapkan Lazismu PCM Gombong.
Ia berharap penghimpunan dana Lazismu KL Pekajangan dapat meningkat hingga mendekati capaian Lazismu Gombong yang dalam pertemuan disebut hampir mencapai Rp3 miliar. Periode penghimpunan dan cakupan angka tersebut perlu dipastikan lebih lanjut.
Dalam sesi diskusi, Ketua Lazismu KL Pekajangan, Ustadz Hamdan Masduki, mengajukan pertanyaan mengenai cara mengoordinasikan penghimpunan zakat agar dapat dikelola melalui satu lembaga. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan sebagian warga yang masih menyalurkan zakat secara langsung kepada penerima tanpa melalui lembaga.
Persoalan tersebut menjadi tantangan bagi pengelolaan zakat secara kelembagaan. Penghimpunan yang terkoordinasi dinilai perlu didukung pemahaman warga mengenai peran lembaga, tata kelola yang baik, serta manfaat pengelolaan dana secara terencana.
Selain penghimpunan, diskusi juga menyoroti kualitas pelayanan kepada penerima manfaat. Lazismu PCM Gombong mengembangkan pelayanan ambulans bagi masyarakat yang membutuhkan transportasi kesehatan. Dalam pemaparan kegiatan, layanan tersebut disebut memperoleh kepercayaan dari berbagai kalangan, termasuk masyarakat non-Muslim.
Pengalaman itu menjadi bahan pembelajaran bagi Lazismu KL Pekajangan untuk mengembangkan layanan yang tidak hanya berorientasi pada jumlah dana yang terkumpul, tetapi juga pada manfaat yang dirasakan masyarakat.
Mendung Temiyung dari Lazismu KL Pekajangan turut mengajukan pertanyaan mengenai cara meningkatkan kualitas manajemen Lazismu agar semakin baik dan dipercaya masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua PCM Gombong, Abah Heri Pramono, S.Pd., menekankan pentingnya kesungguhan dalam memberikan pertolongan. Menurutnya, pelayanan sosial perlu dilakukan secara menyeluruh dan tidak berhenti pada pemberian bantuan awal.
“Menolong harus totalitas, jangan menyengsarakan. Jadi, harus sampai selesai,” pesannya.
Pesan tersebut menekankan bahwa kepercayaan masyarakat tidak hanya dibangun melalui penghimpunan dana, tetapi juga melalui kualitas penyaluran bantuan dan tanggung jawab lembaga dalam mendampingi penerima manfaat.
Kaderisasi Tidak Bisa Bertumpu pada AUM
Selain pengelolaan Lazismu, diskusi juga menyentuh persoalan kaderisasi di lingkungan Muhammadiyah. Arif Rachman Hakim menyampaikan refleksi mengenai sejarah perkembangan Muhammadiyah di Pekajangan, yang tumbuh di kawasan Pantura dengan masyarakat yang banyak bergerak di bidang usaha dan perdagangan.
Ia menyoroti tantangan ketika perkembangan amal usaha menjadi perhatian besar organisasi, sementara pertumbuhan kader dari jamaah dan ranting belum berjalan seimbang. Kondisi tersebut berisiko membuat kaderisasi lebih banyak bertumpu pada orang-orang yang bekerja di AUM daripada tumbuh melalui proses pembinaan di lingkungan persyarikatan.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa pengembangan AUM perlu berjalan beriringan dengan pembinaan kader. Amal usaha dapat menjadi ruang pengabdian dan pengembangan profesionalitas, tetapi keberlanjutan gerakan juga membutuhkan keterlibatan anggota, jamaah, dan ranting.
Arif juga menyoroti pentingnya koordinasi penghimpunan dana Lazismu melalui satu pintu. Kebiasaan sebagian warga menyalurkan zakat secara langsung kepada penerima menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi melalui edukasi dan peningkatan kepercayaan terhadap pengelolaan zakat secara kelembagaan.
Sementara itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPK SDI) PCM Pekajangan, Gusnadi, menekankan bahwa kaderisasi merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur persyarikatan.
Menurutnya, Angkatan Muda Muhammadiyah perlu memperoleh dukungan, ruang untuk berkembang, dan kesempatan terlibat aktif dalam kegiatan organisasi. PCM, ranting, AUM, serta organisasi otonom perlu membangun sinergi agar regenerasi kepemimpinan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut diperlukan untuk menumbuhkan kader yang tidak hanya memiliki kemampuan profesional, tetapi juga memahami nilai perjuangan Muhammadiyah, memiliki kepedulian sosial, dan siap melanjutkan kepemimpinan persyarikatan.
Kunjungan PCM Pekajangan ke PCM Gombong memberikan ruang untuk membahas dua hal yang saling berkaitan: pengelolaan dana umat dan keberlanjutan kaderisasi. Penguatan Lazismu membutuhkan tata kelola yang baik dan kepercayaan masyarakat, sedangkan kaderisasi memerlukan keterlibatan bersama dari tingkat cabang hingga ranting.
Bagi PCM Pekajangan, hasil diskusi tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kinerja Lazismu KL Pekajangan sekaligus memperkuat proses pembinaan kader. Dengan demikian, pengelolaan sumber daya dan regenerasi organisasi dapat berjalan bersama untuk memperluas manfaat gerakan Muhammadiyah bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments