Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lautan Manusia Menuju Jamarat, Jamaah KBIHU Jabal Nur Selesaikan Lempar Jumrah Aqabah

Iklan Landscape Smamda
Lautan Manusia Menuju Jamarat, Jamaah KBIHU Jabal Nur Selesaikan Lempar Jumrah Aqabah
Lautan Manusia Menuju Jamarat, Jamaah KBIHU Jabal Nur Selesaikan Lempar Jumrah Aqabah
pwmu.co -

Dinamika pelaksanaan ibadah haji kembali dirasakan jamaah KBIHU Jabal Nur Kloter 116 Embarkasi Surabaya saat berada di Mina, Rabu (27/5/2026) atau 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah.

Setelah bermalam di Muzdalifah dan kembali ke tenda Mina, jamaah awalnya menerima informasi bahwa lempar Jumrah Aqabah baru akan dilaksanakan setelah salat Ashar. Informasi tersebut membuat jamaah bersiap beristirahat setelah perjalanan panjang dari Arafah dan Muzdalifah.

Namun, sebagaimana sering terjadi dalam pelaksanaan haji, jadwal kembali berubah.

Menjelang pukul 08:00 pagi muncul informasi baru bahwa lempar Jumrah Aqabah dapat dilaksanakan mulai pukul 09.00 waktu Arab Saudi. Seluruh jamaah pun kembali mempersiapkan diri.

Tepat pukul 09.00, rombongan KBIHU Jabal Nur mulai bergerak meninggalkan Markaz 78 menuju Jamarat.

Keluar dari tenda, rombongan berjalan ke arah kanan, kemudian berbelok kiri menuju Jalan King Faisal. Di atas flyover yang membentang panjang itu, tampak lautan manusia bergerak tanpa henti menuju dan dari Jamarat.

Jutaan jamaah dari berbagai negara berjalan tertib dalam arus yang terus mengalir.

Sebagian membawa payung, sebagian mengenakan topi pelindung panas, sementara yang lain hanya berteduh di bawah kain ihram mereka.

Pemandangan tersebut menghadirkan kekaguman tersendiri.

“Sejauh mata memandang hanya terlihat manusia yang berjalan menuju tujuan yang sama, yaitu menyempurnakan ibadah hajinya,” ungkap salah satu jamaah.

Menelusuri Terowongan Mina

Dari flyover, rombongan kemudian turun dan bergabung dengan arus besar jamaah menuju Jamarat.

Perjalanan dilanjutkan melewati Terowongan Mina yang selama ini lebih dikenal karena sejarah tragedi yang pernah terjadi di masa lalu.

Terowongan itu sangat lebar dengan tiga jalur utama. Jalur kanan dan kiri digunakan untuk pejalan kaki, sedangkan jalur tengah disiapkan bagi kursi roda dan kendaraan bantuan.

Meski tersedia eskalator berjalan, seluruh fasilitas tersebut tidak dioperasikan karena padatnya arus manusia yang melintas.

Menurut catatan aplikasi Strava yang digunakan penulis, jarak perjalanan dari tenda hingga Jamarat mencapai sekitar tujuh kilometer.

Di dalam terowongan, suasana tetap nyaman. Lampu penerangan menyala terang dan kipas angin raksasa yang terpasang di bagian atas membantu mengurangi panas.

Setelah melewati dua terowongan panjang, rombongan akhirnya tiba di kompleks Jamarat.

Tujuh Kerikil Menuju Kesempurnaan Haji

Karena hari itu merupakan 10 Dzulhijjah, jamaah hanya diwajibkan melempar Jumrah Aqabah.

Saat melewati Jumrah Ula dan Jumrah Wustha, rombongan tidak berhenti dan langsung menuju lokasi Jumrah Aqabah.

Suasana di sekitar tempat lempar jumrah tampak sangat padat. Ribuan jamaah berusaha mendekati area lemparan.

SMPM 5 Pucang SBY

Agar lebih nyaman, rombongan KBIHU Jabal Nur bergerak menyusuri bagian ujung yang relatif lebih longgar dibandingkan titik awal.

Setelah menemukan posisi yang aman, masing-masing jamaah menyiapkan tujuh butir kerikil yang sebelumnya diperoleh saat mabit di Muzdalifah.

Satu per satu kerikil dilemparkan sambil mengucapkan takbir.

“Bismillahi Allahu Akbar.”

Alhamdulillah, seluruh jamaah dapat menyelesaikan lempar Jumrah Aqabah dengan lancar dan tertib.

Setelah itu mereka keluar dari area Jamarat sambil memanjatkan doa syukur kepada Allah SWT.

Dari Talbiyah Menjadi Takbir

Ada suasana yang berbeda antara perjalanan menuju dan pulang dari Jamarat.

Saat berangkat, hampir seluruh jamaah melantunkan talbiyah:

_Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik._

Namun setelah selesai melempar jumrah, lantunan yang terdengar berubah menjadi gema takbir Idul Adha.

_“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.”_

Takbir bergema dari berbagai penjuru, dilantunkan oleh jamaah dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Timur Tengah.

Meski berasal dari bahasa, budaya, dan bangsa yang berbeda, seluruh jamaah menyuarakan kalimat yang sama.

Perjalanan pulang juga menjadi pelajaran tentang pentingnya saling menghormati. Tidak tampak perebutan jalan atau saling mendahului secara kasar.

Jamaah memberi ruang kepada yang lebih tua, membantu pengguna kursi roda, dan saling menolong ketika ada yang kesulitan.

“Di tengah jutaan manusia, kami belajar bahwa ibadah haji bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang akhlak dan kepedulian kepada sesama,” ujar salah seorang jamaah.

Sekitar dua jam setelah pelaksanaan lempar Jumrah Aqabah, rombongan KBIHU Jabal Nur akhirnya kembali ke tenda Mina dengan selamat sebelum masuk waktu Zuhur.

Revisi Oleh:
  • Satria - 06/06/2026 09:35
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu