Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tahalul di Mina, Dicukur Gratis Pak Yono dan Belajar Makna Kepasrahan kepada Allah

Iklan Landscape Smamda
Tahalul di Mina, Dicukur Gratis Pak Yono dan Belajar Makna Kepasrahan kepada Allah
Pak Yono melakukan potong rambut para jamaah yang ingin Tahallul di Mina, Rabu (27/5/2026). (Moh. Ernam)
pwmu.co -

Setelah menyelesaikan lempar Jumrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah, jamaah KBIHU Jabal Nur Kloter 116 Embarkasi Surabaya kembali ke tenda di Mina untuk melaksanakan tahalul, salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji.

Bagi jamaah laki-laki, tahalul dilakukan dengan mencukur rambut hingga gundul sebagai tanda berakhirnya sebagian besar larangan ihram.

Awalnya penulis sempat bingung mencari tempat potong rambut.

Di sekitar tenda memang ada beberapa orang yang menawarkan jasa cukur dengan tarif sekitar 10 Riyal atau setara Rp50 ribuan. Harga yang sebenarnya masih cukup wajar mengingat kondisi di Mina yang serba terbatas.

Namun di tengah kebingungan itu, tiba-tiba datang bantuan yang tidak terduga.

Adalah Satriono, jamaah KBIHU Jabal Nur asal Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, yang akrab disapa Pak Yono.

Dengan ramah ia menawarkan diri untuk mencukur rambut jamaah yang ingin bertahalul.

Tanpa banyak bicara, penulis pun mengikuti Pak Yono menuju area teduh di depan tenda.

“Sudah sini saja,” ujarnya sambil menyiapkan alat cukur.

Ternyata model rambut yang tersedia hanya satu.

Gundul total.

Tidak ada pilihan lain.

Dalam waktu kurang dari lima menit, proses tahalul pun selesai.

Rambut yang sejak kecil belum pernah dicukur habis akhirnya jatuh satu per satu ke tanah Mina.

Melihat hasilnya di cermin, penulis hanya bisa tersenyum. “Ternyata gundul juga tidak terlalu buruk,” canda penulis.

Tukang Cukur Dadakan yang Dicari Jamaah

Keahlian Pak Yono rupanya cepat menyebar dari mulut ke mulut.

Tidak lama kemudian, satu per satu jamaah mulai berdatangan untuk meminta dicukur. Bahkan beberapa jamaah dari luar KBIHU Jabal Nur ikut mengantre.

Yang menarik, semua layanan itu dilakukan secara sukarela. Pak Yono tidak memungut biaya sepeser pun. Peralatan cukur yang digunakan juga miliknya sendiri.

“Gratis saja,” katanya singkat ketika ditanya soal biaya.

SMPM 5 Pucang SBY

Sejak hari Idul Adha hingga hari-hari Tasyrik, Pak Yono terus membantu jamaah yang ingin bertahalul.

Banyak jamaah yang merasa terbantu karena tidak perlu mencari tempat cukur di tengah padatnya aktivitas ibadah haji.

Antre Kamar Mandi Lebih Menantang

Jika proses mencukur rambut berlangsung cepat, tantangan berikutnya justru datang setelah tahalul.

Yaitu antre mandi.

Jumlah jamaah yang sangat banyak membuat kamar mandi selalu dipenuhi antrean panjang.

Ada yang ingin mandi, buang air kecil, maupun buang air besar.

Semua harus sabar menunggu giliran.

Begitu selesai mandi dan berganti pakaian biasa, suasana terasa berbeda. Kain ihram yang selama beberapa hari melekat di tubuh kini bisa dilepas.

Larangan-larangan ihram sebagian besar sudah berakhir. Jamaah kembali bisa mengenakan pakaian sehari-hari dengan lebih nyaman.

Pelajaran dari Sehelai Rambut

Di balik prosesi yang terlihat sederhana, tahalul menyimpan makna yang sangat dalam.

Rambut merupakan bagian tubuh yang sering menjadi kebanggaan seseorang. Namun dalam ibadah haji, rambut justru dicukur habis sebagai bentuk ketundukan kepada Allah SWT.

Tahalul mengajarkan bahwa seorang hamba tidak boleh menyisakan kesombongan sedikit pun di hadapan Sang Pencipta.

Apa yang selama ini dianggap sebagai mahkota diri rela dilepaskan demi menjalankan perintah Allah.

Di Mina, jamaah belajar bahwa kepatuhan kepada Allah tidak selalu diwujudkan dalam hal-hal besar.

Kadang cukup dengan merelakan sehelai rambut jatuh ke tanah sebagai simbol kepasrahan dan penghambaan yang sempurna.

Dan di situlah sesungguhnya makna tahalul menemukan keindahannya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 06/06/2026 09:43
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu