Bagi sebagian besar orang, puncak pencapaian adalah sebuah titik henti. Ketika seseorang telah berada di posisi tertinggi, dihormati oleh jutaan orang, dan setiap fatwanya menjadi rujukan utama, wajar jika ia mulai duduk santai menikmati buah dari perjuangan masa lalu. Namun, hukum alam itu seolah patah di tangan seorang ulama besar Baghdad, Ahmad bin Hanbal.
Di masa senjanya, saat gelar “Imam Kaum Muslimin” telah melekat erat di pundaknya, ada satu pemandangan yang kerap mengundang tanya. Beliau masih terlihat menenteng mihbarah, sebuah wadah tinta kuno yang terbuat dari kayu atau tanah liat dan biasa digunakan untuk menulis, ke mana pun kakinya melangkah.
Melihat pemandangan yang dianggap kurang proporsional dengan status keulamaan tersebut, seorang sahabat mendekat dan bertanya penuh keheranan, “Wahai Abu Abdillah, engkau telah mencapai kedudukan setinggi ini. Engkau adalah imam kaum Muslimin! Mengapa engkau masih membawa wadah tinta itu?”
Pada zaman itu, membawa wadah tinta ke mana-mana merupakan simbol seorang “santri amatir” atau penuntut ilmu pemula yang sedang bersungguh-sungguh mencari guru. Rasanya tidak lazim jika seorang mahaguru yang hafalan hadisnya mencapai ratusan ribu masih bersikap layaknya seorang pemula.
Namun, alih-alih merasa tersinggung, dari lisan Imam Ahmad justru meluncur sebuah kalimat legendaris yang getarannya melintasi zaman. Dialog penuh hikmah ini diabadikan dengan rapi oleh para ulama klasik, salah satunya oleh Imam adz-Dzahabi dalam karya monumentalnya, Siyar A’lam an-Nubala’:
أَنَا أَطْلُبُ العِلْمَ إِلَى أَنْ أَدْخُلَ القَبْرَ… مَعَ المِحْبَرَةِ إِلَى المَقْبَرَةِ
“Aku akan terus mencari ilmu hingga aku masuk ke dalam kubur … bersama tempat tinta ini, sampai aku masuk ke liang lahat.”
Ungkapan Ma’al Mihbarah ilal Maqbarah sebenarnya bukan sekadar kalimat puitis tanpa makna. Ia merupakan sebuah tamparan keras sekaligus otokritik bagi ego manusia modern. Kita hidup di era digital yang serba cepat, ketika banyak orang begitu mudah dihinggapi penyakit “merasa sudah selesai belajar”. Begitu selembar ijazah sarjana digenggam atau beberapa utas informasi viral di media sosial selesai dibaca, kita langsung merasa sah menjadi hakim atas segala urusan.
Padahal, wadah tinta yang tetap didekap Imam Ahmad di usia senja mengirimkan pesan sebaliknya tentang hakikat lifelong learning. Beliau mengajarkan bahwa ilmu Allah adalah samudra tanpa tepi, sedangkan manusia, setinggi apa pun gelarnya, hanyalah setetes air di dalamnya. Menuntut ilmu bukanlah proyek musiman yang memiliki tanggal kedaluwarsa, melainkan sebuah komitmen yang menyatu dengan setiap helaan napas.
Melalui filosofi wadah tinta ini, kita diajak untuk senantiasa memosisikan diri sebagai “gelas kosong”. Kerendahan hati (tawadhu) merupakan kunci agar pintu-pintu makrifat tidak tertutup oleh keangkuhan intelektual.
Jangan pernah merasa terlalu tua, terlalu pintar, atau terlalu tinggi untuk kembali duduk di bangku paling belakang sebagai seorang murid. Sebab, dalam sejarah peradaban Islam, musuh terbesar cahaya ilmu bukanlah ketidaktahuan, melainkan perasaan “merasa sudah tahu”. Pada titik ketika kita merasa telah menguasai segalanya, pada saat itulah sejatinya kebodohan mulai mengambil tempat.
Karena itu, pesan Imam Ahmad bin Hanbal tetap relevan untuk setiap zaman. Selama hayat masih dikandung badan, selama akal masih dianugerahkan kemampuan untuk berpikir, dan selama kesempatan untuk belajar masih terbuka, maka perjalanan mencari ilmu tidak boleh berhenti. Semangat ma’al mihbarah ilal maqbarah mengingatkan bahwa seorang pembelajar sejati tidak pernah menganggap dirinya telah sampai di garis akhir. Ia terus berjalan, terus bertanya, terus membaca, dan terus memperbaiki diri hingga akhir hayatnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments