Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Warisan Para Nabi: Jalan Pendidikan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Warisan Para Nabi: Jalan Pendidikan Muhammadiyah
ilustrasi AI
Oleh : Mulyo Wibowo Mahasiswa Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya

Nabi Muhammad SAW bersabda:

Innal ‘ulamaa-a waratsatul anbiyaa’, innal anbiyaa-a lam yuwarritsuu diinaaran wa laa dirhaman, innamaa warritsul ‘ilma, faman akhadza bihi faqad akhadza bihazzin waafir.

Artinya: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak.” (H.R. At-Tirmidzi & Abu Dawud).

Hadis ini tidak hanya menjelaskan keutamaan ilmu, tetapi juga menjadi penyemangat bagi manusia untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

Hadis tersebut mengajarkan bahwa warisan terbesar para nabi bukanlah harta, kekuasaan, atau kedudukan, melainkan ilmu yang mampu membawa manusia menuju kebaikan.

Harta dapat habis, kekuasaan dapat berakhir, tetapi ilmu akan terus hidup dan memberikan manfaat bahkan setelah pemiliknya meninggal dunia.

Oleh karena itu, menjadi penuntut ilmu merupakan ikhtiar untuk mengambil bagian dari warisan para nabi.

Semangat tersebut semakin terasa ketika melihat peran Muhammadiyah dalam dunia pendidikan.

Sejak KH Ahmad Dahlan mendirikannya pada tahun 1912, Muhammadiyah menjadikan pendidikan sebagai sarana dakwah dan pembaruan umat.

Pilihan ini menunjukkan pandangan yang jauh ke depan karena melakukan perubahan pada masyarakat tidak cukup melalui ceramah dan nasihat semata, tetapi juga melalui pendidikan yang mampu membentuk pola pikir, karakter, dan kesadaran sosial.

Pendidikan menjadi instrumen strategis untuk menciptakan masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.

Pendidikan Muhammadiyah dan Warisan Ilmu Para Nabi 

Salah satu keunggulan Muhammadiyah terletak pada keberhasilannya mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu sistem pendidikan.

Pada masa ketika sebagian masyarakat masih memandang keduanya sebagai dua ranah yang terpisah, Muhammadiyah menghadirkan gagasan bahwa seorang muslim harus memiliki pemahaman agama yang kokoh sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di era perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang sangat cepat, keseimbangan tersebut menjadi semakin penting.

Kecerdasan intelektual harus beriringan dengan kematangan moral dan spiritual. Tujuannya, agar ilmu pengetahuan dapat bermanfaat secara bijak dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, konsep pendidikan Muhammadiyah tetap relevan dalam menjawab berbagai tantangan zaman.

Gagasan pendidikan Muhammadiyah memiliki keterkaitan erat dengan Teori Sosial Intelektual Profetik.

Teori ini memandang bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berfungsi untuk memahami dan menjelaskan realitas sosial, tetapi juga harus menjadi sarana transformasi sosial yang berlandaskan nilai-nilai kenabian.

Seorang intelektual tidak cukup hanya menguasai ilmu dan menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengarahkan ilmunya demi kemaslahatan masyarakat.

Dengan demikian, ilmu tidak berhenti pada ranah akademik, melainkan mewujud dalam tindakan nyata yang mampu menghadirkan perubahan sosial yang lebih baik.

Teori ini dibangun atas tiga pilar utama: Pertama, humanisasi yang berarti memanusiakan manusia. 

Pendidikan tidak seharusnya hanya menghasilkan individu yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak, peduli, dan mampu menghargai sesama.

Mengukur keberhasilan pendidikan tidak hanya dari prestasi belajar, melainkan juga dari kemampuan seseorang dalam memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Nilai humanisasi tercermin dalam pendidikan Muhammadiyah yang menempatkan pembentukan karakter dan kepedulian sosial sebagai bagian penting dari proses pendidikan.

Kedua, liberasi yang berarti membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan.

Dalam konteks ini, pendidikan menjadi sarana pemberdayaan masyarakat.

Kehadiran sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi Muhammadiyah di berbagai daerah menunjukkan komitmen nyata dalam memperluas akses pendidikan.

Melalui pendidikan, masyarakat memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup, memperluas wawasan, dan membangun masa depan yang lebih baik.

Dengan demikian, ilmu tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan diri, tetapi juga sebagai instrumen kemajuan sosial.

Ketiga, transendensi yang berarti menjadikan keimanan kepada Allah sebagai landasan dalam penggunaan ilmu.

Aspek ini sangat penting di era digital saat ini.

Kemajuan teknologi telah memudahkan manusia memperoleh informasi dan pengetahuan, tetapi tidak semua informasi membawa kebaikan.

Oleh karena itu, nilai-nilai keimanan dan tanggung jawab moral harus mampu menjadi penyerta ilmu.

Pendidikan Muhammadiyah mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya alat untuk mencapai keberhasilan duniawi, tetapi juga sarana untuk beribadah dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Ilmu, Dakwah, dan Peradaban yang Berkemajuan 

Warisan para nabi berupa ilmu harus dipahami sebagai amanah yang perlu dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Setiap orang yang memperoleh ilmu memiliki tanggung jawab untuk mengamalkannya dan menyebarluaskannya demi kemanfaatan bersama.

Dalam konteks inilah sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai amal usaha pendidikan Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai tempat lahirnya generasi penerus yang akan melanjutkan estafet ilmu dan dakwah.

Keberadaan lembaga pendidikan Muhammadiyah menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah tidak hanya menyerukan pentingnya ilmu, tetapi juga menghadirkannya secara langsung kepada masyarakat.

Dari lembaga-lembaga tersebut lahir guru, dokter, akademisi, pengusaha, pemimpin, dan berbagai profesi lainnya yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Pada akhirnya, pendidikan merupakan investasi terbaik untuk masa depan umat.

Selama pendidikan tetap menjadi perhatian utama, Muhammadiyah akan terus melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berkemajuan.

Sebagaimana para nabi mewariskan ilmu kepada umatnya, Muhammadiyah melalui lembaga-lembaga pendidikannya turut berperan dalam menjaga dan meneruskan warisan tersebut.

Oleh karena itu, memperkuat pendidikan Muhammadiyah bukan hanya tentang meningkatkan kualitas sekolah atau perguruan tinggi, melainkan juga tentang menjaga amanah para nabi.

Dari ilmu yang benar akan lahir manusia yang berakhlak, masyarakat yang tercerahkan, serta peradaban yang maju dan berkemajuan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 20/06/2026 23:31
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu