Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mahasiswa Manajemen UMY Raih Dua Bronze Medal di IFLC 2026

Iklan Landscape Smamda
Mahasiswa Manajemen UMY Raih Dua Bronze Medal di IFLC 2026
M. Riko Yudianto memamerkan penghargaan yang diraih di IFLC 2026. Foto: Dok/Pri
pwmu.co -

Prestasi mahasiswa di tingkat internasional tidak semata ditentukan oleh kemampuan meraih medali, tetapi juga oleh keberanian membawa gagasan ke ruang kompetisi global. Hal itu ditunjukkan M. Riko Yudianto, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2022, yang meraih dua Bronze Medal dalam International Future Leaders Competition (IFLC) 2026.

Riko meraih penghargaan pada dua kategori berbeda, yakni Business Plan dan Essay. Capaian tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa tidak hanya dalam mengembangkan gagasan bisnis, tetapi juga mengolah pemikiran secara akademik dan menuangkannya dalam karya yang kompetitif.

IFLC 2026 berlangsung pada 25–26 Juli 2026 di Yogyakarta. Kompetisi ini diselenggarakan melalui kolaborasi Sentosa Foundation dengan Ikatan Mahasiswa Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM), dan mempertemukan mahasiswa serta generasi muda dari berbagai negara untuk menguji gagasan, inovasi, kepemimpinan, dan kemampuan akademik.

Bagi Riko, dua medali tersebut memiliki makna lebih dari sekadar penghargaan. Kompetisi menjadi ruang pembuktian bahwa mahasiswa perguruan tinggi Indonesia, khususnya UMY, memiliki kapasitas untuk membawa karya ke arena internasional.

“Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya tentang mendapatkan medali, tetapi juga menjadi sebuah pembuktian bahwa mahasiswa UMY dapat membawa karya dan bersaing di tingkat internasional,” ungkap Riko saat diwawancarai secara daring, Jumat (21/8/2026).

Prestasi tersebut diraih ketika Riko juga tengah berada dalam fase penting perkuliahannya. Persiapan mengikuti IFLC beriringan dengan penyelesaian skripsi dan naskah publikasi.

Situasi itu membuat Riko harus membagi perhatian untuk menyiapkan dua karya dengan karakter berbeda. Ia juga harus mempersiapkan materi pendukung, termasuk poster dan presentasi untuk menghadapi tahapan final.

Alih-alih menjadi hambatan, kondisi tersebut justru menjadi latihan manajemen waktu dan penentuan prioritas. Riko dituntut menjaga kualitas akademiknya sekaligus memastikan karya yang dibawa ke kompetisi memiliki gagasan yang kuat.

Tantangan semakin besar karena IFLC mempertemukannya dengan peserta dari berbagai latar belakang. Setiap peserta datang dengan gagasan, sudut pandang, dan pendekatan yang berbeda.

“Dari sisi persaingan, tentu peserta yang mengikuti kompetisi ini juga memiliki kemampuan dan gagasan yang beragam. Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi saya untuk memastikan bahwa karya yang saya bawa memiliki gagasan yang kuat dan dapat dipresentasikan dengan baik,” jelasnya.

Pengalaman itu membuat Riko menyadari bahwa kompetisi internasional tidak cukup dihadapi dengan keinginan untuk menang. Peserta harus memahami gagasan yang dibawa secara utuh sehingga mampu mempertanggungjawabkannya ketika berhadapan dengan dewan juri.

Menurut Riko, kemauan untuk mencoba, konsistensi, dan kemampuan mengatur waktu menjadi beberapa faktor penting dalam proses tersebut. Mengikuti dua kategori sekaligus juga membuatnya harus membagi fokus sejak tahap awal persiapan.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia tidak ingin karya yang dibuat hanya berorientasi pada pemenuhan persyaratan kompetisi. Karena itu, pemahaman terhadap substansi gagasan menjadi perhatian utama, terutama ketika karya tersebut harus dipresentasikan dan dipertahankan di hadapan juri.

Dukungan dosen, kampus, dan lingkungan sekitar turut membantu Riko melewati proses tersebut.

Bagi Riko, pengalaman mengikuti IFLC memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh melalui aktivitas perkuliahan. Kompetisi memaksanya mengembangkan kemampuan berpikir, menyusun gagasan secara sistematis, mengomunikasikan ide, sekaligus berhadapan dengan perspektif peserta dari berbagai latar belakang.

Ia menilai lingkungan akademik UMY memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas di luar kegiatan pembelajaran di kelas. Ruang tersebut menjadi penting karena kompetensi mahasiswa pada akhirnya tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan mengolah dan menyampaikan gagasan.

“Bagi saya, prestasi ini juga bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi menjadi bagian dari kontribusi untuk membawa nama baik Program Studi Manajemen dan UMY di tingkat internasional,” tuturnya.

Pengalaman berkompetisi juga membuka perspektif baru bagi Riko. Ia dapat melihat bagaimana peserta lain membangun ide, menyusun argumentasi, dan mempresentasikan gagasan mereka. Perbedaan tersebut justru memperkaya cara pandangnya dalam mengembangkan karya.

Ke depan, Riko tidak ingin dua Bronze Medal tersebut menjadi puncak perjalanan. Ia berencana menjadikan pengalaman IFLC sebagai pijakan untuk mengikuti kompetisi nasional maupun internasional berikutnya, sekaligus menghasilkan karya yang memiliki dampak lebih nyata.

Dia juga mengajak mahasiswa UMY untuk tidak terlalu lama menunggu merasa siap sebelum mengambil kesempatan.

Menurutnya, keberanian mencoba justru menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Dari pengalaman mengikuti kompetisi, seseorang dapat mengetahui kekurangan, mendapatkan perspektif baru, dan terus memperbaiki kualitas diri.

Dengan demikian, dua medali yang diraih Riko bukan sekadar catatan prestasi individual. Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana ruang kompetisi dapat menjadi laboratorium bagi mahasiswa untuk menguji gagasan, membangun kepercayaan diri, dan membawa kapasitas akademiknya keluar dari ruang kelas menuju panggung internasional. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 23/08/2026 21:54
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu