Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menggali Makna Sejati Ahlul Qur’an dalam Kajian Qur’an Insight: “Dari Tilawah Menuju Transformasi Kehidupan”

Iklan Landscape Smamda
Menggali Makna Sejati Ahlul Qur’an dalam Kajian Qur’an Insight: “Dari Tilawah Menuju Transformasi Kehidupan”
Kegiatan “Qur’an Insight: Kajian Tadabbur” Divisi Kajian JQH IMM Al-Qossam Umsura bersama Ustadz Fajrul Islam Ats-Tsauri SHI MAg di Masjid Al khoory Umsura, Senin (08/06/2026). (Arfad Zaka Oktafian/PWMU.CO).
pwmu.co -

Divisi Kajian Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz (JQH) IMM Al-Qossam Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) sukses menyelenggarakan kegiatan “Qur’an Insight: Kajian Tadabbur”, Senin (08/06/2026).

Mengusung tema “Bagaimana Menjadi Ahlul Qur’an” di Masjid Al khoory Umsura, kajian ini menghadirkan Ustadz Fajrul Islam Ats-Tsauri SHI MAg sebagai pemateri.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi seputar makna sejati menjadi Ahlul Qur’an serta bagaimana Al-Qur’an dapat mentransformasi kehidupan seorang muslim.

Lebih lanjut, kegiatan ini terhadiri oleh seluruh jajaran struktural IMM Al-Qossam, struktural JQH IMM Al-Qossam, kader IMM Al-Qossam angkatan 2025, serta beberapa tamu undangan lainnya.

Turut hadir Ketua Umum IMM Fakultas Ushuluddin periode sebelumnya, yaitu Ustadz Lucki, yang diketahui memiliki hubungan dekat dengan pemateri.

Di sela-sela kajian, suasana sempat mencair dengan candaan ringan antara Ustadz Lucki dan Ustadz Fajrul Islam Ats-Tsauri. Hal tersebut membuat forum terasa hangat, santai, namun tetap penuh hikmah dan kekhidmatan.

Keutamaan Tadabbur Al-Qur’an

Dalam mukaddimahnya, Ustadz Fajrul, sapaan akrabnya menjelaskan keutamaan orang-orang yang berkumpul untuk membaca, mempelajari, dan mentadabburi Al-Qur’an.

Antara lain akan mendapatkan ketenangan hati (as-sakinah), rahmat Allah SWT, dikelilingi oleh para malaikat, serta disebut namanya oleh Allah di hadapan makhluk langit.

Ia juga menjelaskan bahwa istilah “Al-Qur’an” memiliki makna yang sangat mulia. Hal ini berbeda dengan bacaan biasa seperti koran atau majalah, karena tilawah hanya digunakan untuk sesuatu yang suci dan agung, yaitu Kitabullah.

Kemudian, Ustadz Fajrul menjelaskan bahwa salah satu keutamaan Al-Qur’an adalah menjadi syafaat bagi pembacanya di yaumul qiyamah.

Namun demikian, ia menekankan bahwa menjadi Ahlul Qur’an bukan hanya sebatas mampu membaca atau menghafal Al-Qur’an.

Mengutip penjelasan Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah, ia menyampaikan bahwa Ahlul Qur’an sejati adalah orang yang mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, juga menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, meskipun belum hafal seluruh isi Al-Qur’an.

SMPM 5 Pucang SBY

3 Golongan Pewaris Al-Qur’an

Kajian kemudian berlanjut pada pembahasan QS Al-Fathir ayat 32 tentang tiga golongan pewaris Al-Qur’an.

Golongan pertama adalah ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ (zhalimun linafsih), yaitu orang yang menzalimi dirinya sendiri. Mereka membaca atau menghafal Al-Qur’an, namun Al-Qur’an belum benar-benar membimbing kehidupannya.

Mereka masih mengikuti hawa nafsu, bahkan terkadang menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk kepentingan pribadi dan memotong-motong ayat demi membenarkan pendapatnya sendiri.

Dalam penyampaian materinya, Ustadz Fajrul juga mencontohkan fenomena sebagian orang yang memiliki ilmu namun digunakan untuk membodohi orang lain.

Ia menyampaikan bahwa orang yang hanya menjadikan hafalan “sebatas sampai tenggorokan” tanpa pengamalan termasuk dalam golongan ini.

Golongan kedua adalah مُقْتَصِدٌ (muqtashid), yaitu golongan pertengahan. Mereka telah membaca dan menghafal Al-Qur’an serta mulai berusaha mengamalkannya, namun masih berada dalam tahap belajar dan memperbaiki diri.

Menurut Ustadz Fajrul, banyak santri atau penuntut ilmu berada pada fase ini, yaitu fase perjuangan menuju kedekatan yang lebih sempurna dengan Al-Qur’an.

Mereka sudah mencintai Al-Qur’an, tetapi pengaruh Al-Qur’an dalam kehidupannya belum sepenuhnya tampak secara luas.

Adapun golongan ketiga adalah سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (sabiqun bil khairat), yaitu orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Inilah profil Ahlul Qur’an yang sesungguhnya. Mereka bukan hanya membaca dan menghafal, tetapi menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Akhlaknya menjadi lebih baik, tutur katanya lebih lembut, dan hidupnya dipenuhi semangat menebarkan manfaat kepada sesama.

Ia mengingatkan bahwa orang-orang pada level ini bahkan mulai meninggalkan sebagian perkara mubah demi menjaga kualitas hubungannya dengan Allah SWT.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 09/06/2026 17:15
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu