Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Retaknya Kepercayaan, Retaknya Harapan

Iklan Landscape Smamda
Retaknya Kepercayaan, Retaknya Harapan
Foto: stocksy.com
Oleh : Agus Wahyudi Pemimpin Redaksi PWMU.CO

Ada sesuatu yang sedang retak di negeri ini. Retaknya mungkin tidak terdengar seperti suara bangunan yang runtuh. Ia tidak menimbulkan debu yang mengepul. Namun, retakan itu menjalar perlahan, memasuki ruang-ruang batin manusia. Yang retak itu adalah kepercayaan.

Kepercayaan kepada pemimpin. Kepercayaan kepada sesama. Bahkan, pada titik tertentu, kepercayaan terhadap masa depan.

Fenomena ini tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh sedikit demi sedikit, dipupuk oleh kekecewaan yang berulang, janji yang tak kunjung menjadi kenyataan, serta kenyataan hidup yang terasa semakin berat.

Hari demi hari, rasa percaya itu terkikis. Yang tersisa adalah keraguan. Dari keraguan lahirlah skeptisisme. Dari skeptisisme tumbuh apatisme. Ketika apatisme menguasai hati, masyarakat kehilangan energi untuk berharap.

Saya mendengar banyak cerita. Tentang keluh seorang ayah yang setiap malam menghitung kembali penghasilannya, bukan karena ingin menabung, melainkan karena khawatir uang itu tidak cukup membawa keluarganya hingga akhir bulan. Dia mencoret satu demi satu kebutuhan yang sebenarnya penting, hanya agar dapur tetap mengepul.

Saya mendengar kegelisahan seorang ibu yang kini harus berpikir berkali-kali sebelum memasukkan barang ke dalam keranjang belanja. Harga-harga terus merangkak naik, sementara pendapatan berjalan di tempat. Ia tetap tersenyum di hadapan anak-anaknya, tetapi diam-diam menyembunyikan kecemasan saat menghitung sisa uang di dompet.

Saya mendengar kecemasan para pekerja yang dibayangi ketidakpastian. Ada yang telah puluhan tahun mengabdi, tetapi tetap dihantui rasa waswas akan hari esok.

Saya mendengar anak-anak muda yang datang membawa ijazah dan mimpi. Mereka ikut mengantre panjang demi sebuah kesempatan, tetapi pulang membawa penolakan demi penolakan.

Saya mendengar pelaku usaha kecil yang tokonya semakin sepi. Saya mendengar para petani yang mengeluhkan biaya produksi yang terus meningkat. Saya mendengar nelayan yang hasil tangkapannya tak lagi sebanding dengan ongkos melaut.

Saya mendengar guru yang merasa pengabdiannya belum sepenuhnya dihargai. Saya juga mendengar mahasiswa yang mulai bertanya-tanya, apakah pendidikan benar-benar masih menjadi jalan terbaik untuk mengubah nasib.

Suara-suara itu datang dari berbagai penjuru. Dari desa hingga kota. Dari mereka yang berpendidikan tinggi hingga mereka yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Dari mereka yang bekerja di balik meja hingga yang setiap hari bertarung dengan terik matahari.

Mereka mungkin berbeda pekerjaan, berbeda usia, dan berbeda latar belakang. Namun, mereka memikul beban yang sama: kehidupan yang terasa semakin berat.

Yang lebih mengkhawatirkan, luka itu tidak hanya berhenti pada persoalan ekonomi. Perlahan-lahan ia berubah menjadi krisis kepercayaan.

Orang mulai sulit percaya bahwa keadaan akan membaik. Sulit percaya bahwa suara mereka masih didengar. Sulit percaya bahwa keadilan masih memiliki tempat. Yang lahir kemudian bukan sekadar kekecewaan, melainkan kelelahan untuk berharap.

Padahal, saya masih meyakini bahwa sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, jalan tol yang panjang, atau angka-angka pertumbuhan ekonomi.

Sebuah bangsa berdiri kokoh karena adanya kepercayaan di antara warganya. Ketika kepercayaan hilang, bangunan sebesar apa pun akan terasa rapuh.

Sebab, kepercayaan adalah modal sosial yang tidak dapat dibangun dengan anggaran, tetapi hanya dapat dirawat dengan kejujuran dan keteladanan.

Islam mengajarkan bahwa amanah adalah fondasi kehidupan. Rasulullah saw. dikenal sebagai Al-Amin, sosok yang dipercaya bahkan sebelum diangkat menjadi nabi.

Gelar itu tidak lahir dari pidato. Tidak pula dibangun oleh pencitraan. Gelar itu lahir dari kejujuran yang dijaga, dari integritas yang tidak berubah oleh keadaan, dan dari kesetiaan pada kebenaran meski tidak selalu menguntungkan.

Karena itu, hilangnya kepercayaan bukanlah persoalan kecil. Ia adalah pertanda bahwa nilai-nilai amanah mulai memudar dalam kehidupan bersama.

SMPM 5 Pucang SBY

***

Dalam sebuah kajian, saya diingatkan bahwa sebagai orang beriman, kita tidak boleh membiarkan kekecewaan berubah menjadi keputusasaan.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat ini bukan sekadar penghiburan bagi hati yang sedang terluka. Ia adalah penegasan bahwa harapan selalu memiliki tempat di sisi Allah, sekalipun manusia mulai kehilangan alasan untuk berharap.

Seorang mukmin boleh menangis. Boleh mengeluh kepada Allah. Boleh merasa letih menghadapi kehidupan. Namun, ia tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya. Di balik setiap kesulitan, selalu ada hikmah yang mungkin belum sanggup kita pahami hari ini.

Harapan bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Harapan adalah keberanian untuk tetap jujur ketika kebohongan tampak menguntungkan.

Tetap berbuat baik ketika kebencian terasa lebih mudah. Tetap menjaga amanah ketika pengkhianatan mulai dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Barangkali, bangsa ini memang sedang mengalami krisis kepercayaan. Namun, sejarah selalu mengajarkan bahwa setiap kebangkitan tidak pernah dimulai dari keramaian. Ia lahir dari hati-hati yang tetap jernih ketika keadaan menjadi keruh.

Karena itu, tugas kita hari ini bukan hanya menuntut hadirnya pemimpin yang dapat dipercaya. Lebih dari itu, kita harus berani bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih menjadi pribadi yang dapat dipercaya oleh keluarga kita, oleh tetangga kita, oleh teman-teman kita, dan yang paling penting, oleh Allah SWT?

Sebab, kepercayaan tidak lahir dari pidato. Kepercayaan lahir dari keteladanan. Amanah tidak tumbuh dari slogan. Ia tumbuh dari kejujuran yang dipraktikkan setiap hari.

Mungkin kita tidak mampu mengubah keadaan negeri ini seorang diri. Mungkin pula kita tidak memiliki kuasa untuk memperbaiki seluruh kebijakan. Namun, kita selalu memiliki kuasa untuk menjaga hati agar tidak ikut retak.

Jangan sampai keadaan yang buruk membuat kita menjadi pribadi yang buruk. Jangan sampai banyaknya kebohongan membuat kita menganggap dusta sebagai sesuatu yang lumrah. Jangan sampai hilangnya amanah di sekitar kita justru menghilangkan amanah dari diri kita.

Boleh jadi Allah tidak akan bertanya kepada kita, “Mengapa negerimu menjadi seperti ini?” Namun, Allah pasti akan bertanya, “Apa yang engkau lakukan ketika negerimu sedang seperti ini?”

Pertanyaan itulah yang seharusnya lebih sering kita renungkan daripada sekadar menyalahkan keadaan.

Semoga ketika banyak orang mulai kehilangan kepercayaan kepada manusia, kita tidak pernah kehilangan kepercayaan kepada Allah. Sebab, selama iman masih terjaga, harapan tidak akan pernah benar-benar mati.

Dan selama masih ada orang-orang yang memilih jujur di tengah kebohongan, memilih amanah di tengah pengkhianatan, memilih peduli di tengah sikap masa bodoh, serta tetap berdoa di tengah keputusasaan, negeri ini masih memiliki alasan untuk berharap.

Karena sesungguhnya, kebangkitan sebuah bangsa tidak selalu dimulai dari gedung-gedung kekuasaan. Kebangkitan sering kali berawal dari hati-hati yang kembali takut kepada Allah, dari manusia-manusia biasa yang memilih tetap menjadi orang baik ketika dunia sedang kehilangan teladan.

Semoga kita menjadi bagian dari mereka. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 10/07/2026 22:58
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu