Menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain merupakan nasihat yang sudah lama kita kenal. Namun, di tengah derasnya perkembangan media sosial, ada hal lain yang tak kalah penting, bahkan mungkin lebih sulit dilakukan: menjaga jari.
Sebab, hari ini seseorang tidak harus bertatap muka untuk menyakiti orang lain. Cukup dengan satu sentuhan di layar gadget, sebuah komentar bisa melukai perasaan, tulisan dapat merusak kehormatan, dan informasi yang belum tentu benar bisa menyebar ke ribuan orang.
Pesan itulah yang disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustad Muchamad Arifin, di hadapan ratusan jamaah Kajian Komunitas Masyarakat Madani Bojonegoro, Ahad (8/11/2026), di Masjid Attaqwa, Jalan Teuku Umar, Bojonegoro.
Dalam kajian bertema “Dinamika Dakwah di Era Perkembangan Medsos” tersebut, ia mengajak jamaah agar tidak sekadar cakap menggunakan teknologi, tetapi juga bijak mengendalikan diri.
“Dahulu kita diajarkan menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Sekarang kita juga harus belajar menjaga jari. Sebab, satu sentuhan di layar gadget bisa menyebarkan fitnah, kebencian, hoaks, bahkan menghancurkan kehormatan seseorang,” ungkapnya.
Menurutnya, media sosial bukan ruang bebas nilai. Setiap tulisan, komentar, dan informasi yang dibagikan tetap mengandung tanggung jawab moral dan agama. Karena itu, ia mengajak masyarakat membiasakan tabayyun, berpikir sebelum berkomentar, serta tidak mudah terpancing provokasi.
Ia juga mengingatkan bahwa media sosial sejatinya merupakan peluang besar bagi dakwah. Setiap orang bisa menyebarkan kebaikan, tidak harus menunggu menjadi mubalig atau penceramah. Tulisan yang mencerahkan, komentar yang menyejukkan, dan informasi yang menginspirasi juga merupakan bagian dari dakwah.
“Jangan sampai kita rajin membagikan pesan-pesan kebaikan, tetapi jari kita justru digunakan untuk menyakiti orang lain. Jangan hanya ingin viral, tetapi lupa memberikan manfaat,” pesannya.
Kajian tersebut menjadi pengingat bahwa membangun masyarakat madani di era digital tidak cukup dengan kecakapan teknologi. Dibutuhkan kedewasaan berpikir, kejernihan hati, dan tanggung jawab dalam bermedia sosial.
Sebab, jari yang sama bisa menjadi jalan menyebarkan ilmu atau menebarkan fitnah, mempererat persaudaraan atau justru memantik permusuhan.
Jaga lisan, jaga tulisan, dan jaga jari. Jadikan media sosial sebagai ladang amal dan sarana menebarkan kebaikan, bukan tempat menyemai kebencian. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments