Film Hamka Volume 3 akhirnya akan tayang di bioskop pada tanggal 19 November 2026, di mana film ini mengisahkan masa kecil Hamka hingga pengembaraannya mencari ilmu, sebuah pencarian jati diri untuk menemukan mission dalam hidup.
Sebagai anak seorang ulama besar, Dr. Karim Amrullah, atau lebih dikenal H. Rasul, orang pertama Indonesia yang mendapat gelar Dr. Dari Universitas Al Azhar Kairo Mesir, tentu Hamka muda menjadi harapan masyarakat umum, kelak di kemudian hari ia akan meneruskan legasi ayahnya sebagai ulama.
Apalagi sang ayahnya sendiri berharap anak laki-lakinya itu menjadi ulama pula serupa dirinya. Apa yang diharapkan H. Rasul tidak semudah yang dibayangkan, bahkan harapan tersebut hampir patah di tengah jalan.
Namun demikian, Hamka membayar cita-cita ayahnya dengan caranya sendiri.
Dengan modal keberanian dan keyakinan, pada usia 15 tahun Hamka Merantau ke jawa, di Jawa dia belajar ke pada kakak iparnya AR Sutan Mansur, murid terpintar ayahnya sekaligus menantunya, kemudian berguru kepada pemimpin Muhammadiyah KH. Fakhruddin, lalu belajar dengan guru bangsa HOS. Cokroaminoto, sekaligus belajar dari ahli sosiologi, RM. Suryopranoto.
Dapat dibayangkan dalam usia belasan tahun, Hamka telah belajar dengan para pemikir hebat, Tokoh pergerakan, perintis dan pejuang kemerdekaan, wajar kalau kemudian hal itu membentuk pribadi Hamka menjadi manusia yang unik dan langka.
Setelah perantauan di jawa dirasa cukup ia kembali ke kampung halaman. Di kampungnya bakat keulamaan yang mengalir dari ayahnya telah bercampur dengan Islam progresif yang didapatkan dari Jawa, kondisi tersebut membuat Hamka muda menjadi revolusioner.
Jawa yang hangat oleh udara politik waktu itu, sedikit banyak mempengaruhi kepribadian Hamka, dalam buku otobiografi yang ia tulis sendiri, dengan jujur Hamka mengatakan
“Ketika di Jawa barulah saya mendapat inti ajaran Islam yang sesungguhnya, sedangkan ketika di kampung saya baru belajar riwayat dan matan dari sebuah kitab, lebih-lebih saat melihat nasib rakyat Jawa yang sangat menderita atas kolonialisme.”
Islam progresif tersebut nampak dari tablig-tablignya yang telah mengunakan cara baru dan lebih modern, dan pada masa itu cara demikian sangat digemari anak-anak muda revolusioner.
Inti tabligh Hamka menekankan bahwa Islam harus menjadi ruh perjuangan dari setiap pergerakan, Islam tidak boleh hanya mengatur ibadah di dalam masjid, tetapi Islam harus tampil memberikan solusi terhadap persoalan umat, khususnya membebaskan rakyat dari kesewenang-wenangan kaum penjajah.
Meskipun begitu, Hamka merasa ilmu agamanya masih dangkal, sebagaimana kebiasaannya, dengan modal tekad yang kuat dan keyakinan yang mantap, tanpa meminta ongkos ayahnya, ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus manambah ilmu dan pengalamannya.
Cita-cita H. Rasul hendak mengirim Hamka belajar ke Makkah dalam usia 10 tahun, waktu itu dibayar oleh Hamka dengan caranya sendiri. Inilah gambaran bilamana seseorang telah mendapatkan mission dalam hidup. Kalau orang telah mempunyai misi bagaimanapun terjal sebuah jalan, kaki akan terus melangkah untuk menggapai cita-cita.
Menariknya dalam pengembaraannya ke Makkah ada dinamika yang cukup ritmis dan romantis, situasi tersebut dapat kita dapati saat perkenalannya dengan mojang bandung, maklum darah muda, suka kepada lawan jenis adalah bagian dari Fitrah manusia.
Nah dalam film Hamka Volume 3 ini, kisah cinta tersebut tidak luput diangkat oleh sang sutradara sebagai bagian dari sisi melo drama dari sebuah film,
Oleh karena itu, film ini menarik untuk kita saksikan, utamanya bagi anak muda yang saat ini mengalami defisit keteladan dari seorang tokoh, baik tokoh agama yang karismatik atau tokoh pergerakan politik yang beretika dan berintegritas.
Mari kita temukan beragam makna dari sebuah film dokumenter Tokoh besar yang pernah lahir di bumi Indonesia, selamat menyaksikan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments