Di tengah derasnya arus informasi, perubahan sosial, dan tekanan kehidupan modern, manusia dihadapkan pada beragam pilihan yang tidak selalu mudah. Informasi yang melimpah belum tentu membawa kebenaran. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup juga dapat menyeret seseorang pada keputusan yang merugikan. Sementara itu, perbedaan pandangan kerap berkembang menjadi pertentangan ketika tidak disikapi dengan bijaksana.
Dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an memberikan tuntunan agar manusia memiliki pegangan dalam menjalani kehidupan. Salah satu ayat yang relevan untuk direnungkan adalah Surah Al-Baqarah ayat 257.
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَࣖ ٢٥٧
“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya (iman). Sedangkan orang-orang yang kufur, pelindung-pelindung mereka adalah tagut. Mereka (tagut) mengeluarkan mereka (orang-orang kafir itu) dari cahaya menuju aneka kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”
Ayat tersebut menegaskan kedudukan Allah sebagai pelindung orang-orang beriman yang menuntun mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sebaliknya, ayat ini menggambarkan bagaimana pengaruh yang menyesatkan dapat membawa manusia menjauh dari petunjuk. Pesannya tidak berhenti pada keyakinan teologis, tetapi juga mengajak manusia merenungkan pegangan yang mendasari pilihan dan tindakannya.
Salah satu hal yang menarik untuk direnungkan ialah penggunaan kata zulumat dalam bentuk jamak dan nur dalam bentuk tunggal. Dalam refleksi kehidupan, perbedaan bentuk kata tersebut dapat mengingatkan kita bahwa jalan penyimpangan memiliki banyak rupa, sedangkan cahaya iman menjadi pedoman untuk menuntun manusia dalam menjalani kehidupan. Kegelapan dapat hadir dalam bentuk kebodohan, ketidakjujuran, hawa nafsu, maupun tindakan yang merugikan orang lain.
Namun, refleksi ini tidak berarti bahwa setiap persoalan kehidupan dapat disederhanakan menjadi pertentangan antara orang yang benar dan orang yang salah. Manusia tetap membutuhkan ilmu, pertimbangan akal, dan keterbukaan untuk belajar. Iman justru seharusnya mendorong seseorang untuk semakin jujur dalam mencari kebenaran, adil dalam mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Dalam konteks kehidupan digital, misalnya, manusia menghadapi arus informasi yang bergerak begitu cepat. Berita bohong, ujaran kebencian, dan narasi provokatif dapat menyebar luas sebelum kebenarannya diperiksa. Informasi yang belum terverifikasi berpotensi menyesatkan pemahaman dan merusak hubungan antarmanusia.
Nilai tabayyun menjadi penting dalam menghadapi persoalan tersebut. Memeriksa sumber informasi, membandingkan pemberitaan, serta menahan diri sebelum membagikan kabar merupakan bentuk tanggung jawab moral. Seorang Muslim tidak cukup hanya menghindari penyebaran kebohongan, tetapi juga perlu membangun kebiasaan menggunakan informasi secara bijaksana. Dengan demikian, nilai iman tercermin dalam tindakan nyata ketika berinteraksi di ruang digital.
Tantangan lain muncul dalam kehidupan ekonomi. Pinjaman daring ilegal dan judi daring, misalnya, dapat menjerat seseorang dalam masalah keuangan yang berkepanjangan. Keinginan memperoleh keuntungan secara instan dapat mendorong keputusan yang mengabaikan risiko, tanggung jawab, dan nilai-nilai yang diyakini.
Dalam menghadapi situasi tersebut, nilai qana’ah atau sikap merasa cukup dapat menjadi salah satu pegangan. Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha atau menerima ketidakadilan, melainkan mengembangkan sikap bijaksana dalam memenuhi kebutuhan dan mengelola keinginan. Sikap ini perlu disertai ikhtiar yang halal, literasi keuangan, serta keberanian mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan ekonomi.
Persoalan ekonomi juga tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial yang melingkupi seseorang. Karena itu, kepedulian terhadap mereka yang terjerat utang atau mengalami kesulitan finansial perlu diwujudkan melalui dukungan, edukasi, dan akses terhadap bantuan yang sesuai. Nilai spiritual akan semakin bermakna ketika mendorong tumbuhnya tanggung jawab pribadi sekaligus kepedulian sosial.
Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, tantangan lainnya adalah polarisasi akibat perbedaan pandangan politik, golongan, maupun pilihan sosial. Perbedaan pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan bersama. Persoalan muncul ketika perbedaan tersebut melahirkan kebencian, fitnah, diskriminasi, atau penolakan terhadap hak orang lain.
Pesan Surah Al-Baqarah ayat 257 dapat menjadi pengingat agar manusia senantiasa menjadikan nilai kebenaran sebagai pegangan dalam menyikapi perbedaan. Keimanan semestinya mendorong seseorang untuk berlaku adil, menjaga lisan, dan menghormati martabat sesama. Menjadi bagian dari masyarakat yang beragam tidak mengharuskan setiap orang memiliki pandangan yang sama, tetapi menuntut kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, Surah Al-Baqarah ayat 257 mengajak manusia untuk senantiasa memeriksa arah hidupnya. Cahaya iman tidak cukup dimaknai sebagai keyakinan yang tersimpan dalam hati, tetapi perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari. Kejujuran dalam menyampaikan informasi, kebijaksanaan dalam mengelola keinginan, keadilan dalam menyikapi perbedaan, dan kepedulian terhadap sesama merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.
Di tengah berbagai tantangan zaman, manusia membutuhkan pegangan yang tidak hanya memberi ketenangan batin, tetapi juga membimbingnya untuk bertindak benar. Dengan menjadikan petunjuk Allah sebagai pedoman, disertai ilmu dan tanggung jawab sosial, kita dapat berupaya keluar dari beragam kegelapan menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments