Di era ketika algoritma lebih sering didengar daripada suara mimbar, masjid dituntut untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman. Dakwah hari ini bukan hanya tentang siapa yang berbicara, tetapi bagaimana pesan itu menjangkau hati umat di ruang-ruang digital.
Kesadaran inilah yang menggerakkan Masjid Jendral Sudirman Surabaya untuk belajar langsung dari Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran—sebuah masjid yang berhasil membaca arah masa depan.
Pengurus Masjid Jendral Sudirman Surabaya melaksanakan kegiatan study tiru ke Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran. Kegiatan ini diikuti oleh lima orang perwakilan Takmir Masjid Jendral Sudirman yang berada di bawah naungan PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah) Gubeng, beralamat di Jl. Dharmawangsa No. 2, Gubeng, Surabaya. Study tiru ini menjadi bagian dari ikhtiar serius dalam meningkatkan kualitas pengelolaan masjid, khususnya pada sektor media dan dakwah digital.
Kegiatan ini berawal dari keikutsertaan utusan Masjid Jendral Sudirman dalam Rapat Koordinasi Majelis Tabligh PDM Surabaya yang diselenggarakan di Mojokerto beberapa waktu lalu. Dalam forum tersebut, Masjid Ar-Royyan hadir sebagai salah satu pemateri yang menginspirasi, terutama dalam pengelolaan media masjid yang progresif dan berdampak luas. Dari forum itulah lahir gagasan tindak lanjut berupa study tiru.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi, Ahad, 1 Februari 2026. Meski bertepatan dengan hari libur, semangat memakmurkan masjid dan berdakwah tetap menyala. Rombongan Masjid Jendral Sudirman tiba dan diwakili oleh Ustadz Amir Mahmud, Bapak Totok, Saudara Damai, Saudara Farel, dan Bapak Winarto. Mereka datang membawa semangat baru, tekad kuat, serta kesiapan untuk berbenah.
Antusiasme pada Sesi Diskusi
Kehadiran rombongan disambut hangat oleh marbot-marbot muda Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, di antaranya Saleh, Fikri, Syahen, Ardi, dan Hilmi. Dalam suasana terik matahari yang menyengat, obrolan ringan namun sarat makna pun mengalir, mengawali diskusi serius seputar pengelolaan masjid di era digital.
Antusiasme terlihat jelas saat kedua belah pihak membahas perkembangan dan tantangan pengelolaan media masjid.
“Kami sangat tertarik dengan pengelolaan media di Masjid Ar-Royyan ini. Bagaimana caranya dalam waktu delapan bulan konten-kontennya bisa viral dan meraih 19.000 pengikut?” ujar Winarto dalam diskusi yang berlangsung di Cafe Kemadjoean, lantai dua Masjid Ar-Royyan.
Akun media sosial Masjid Ramah Musafir dengan berbagai konten humanis dan inspiratif berhasil mencuri perhatian publik. Masjid Ar-Royyan pun semakin menegaskan bahwa media sosial bukan sekadar alat publikasi, melainkan instrumen dakwah yang strategis dan penuh nilai.
Menanggapi hal tersebut, Hilmi selaku pimpinan proyek konten Masjid Ar-Royyan menyampaikan, “Viral yang kami dapatkan hanyalah bonus. Yang utama adalah konsistensi dan keistiqamahan dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan.” Pernyataan ini menegaskan bahwa keberhasilan digital lahir dari proses panjang dan komitmen yang kuat.
Strategi Konten
Diskusi berlanjut pada pembahasan strategi konten untuk masjid yang beroperasi 24 jam, serta upaya keberlanjutan program makan gratis setiap hari yang membutuhkan dukungan biaya besar. Dalam suasana reflektif, pengurus Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran mengajak seluruh peserta merenungi Firman Allah dalam Surat Muhammad ayat 7.
Ayat tersebut bermakna bahwa menolong agama Allah adalah dengan menjalankan perintah-Nya, berdakwah, dan berjuang di jalan-Nya. Allah menjanjikan pertolongan, kemudahan, serta keteguhan iman dan kedudukan yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat.
Setelah melaksanakan salat Zuhur berjamaah dan makan siang bersama, diskusi kembali dilanjutkan hingga akhirnya kegiatan study tiru ini berakhir pada pukul 14.00 WIB. Di penghujung pertemuan, Takmir Masjid Jendral Sudirman menyampaikan rencana tindak lanjut berupa pengajuan pelatihan manajemen media masjid yang akan diasuh langsung oleh tim Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran.
Kegiatan ini ditutup dengan satu tekad yang sama: berbenah dan berubah. Study tiru ini bukan sekadar kunjungan, melainkan awal dari transformasi. Ketika masjid berani belajar, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan zaman, maka dakwah akan menemukan jalannya sendiri menuju masa depan. Dari Masjid Ar-Royyan, cahaya itu memantul—mengajak masjid-masjid lain untuk bangkit, bergerak, dan memimpin peradaban. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments