Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah Teguhkan Akidah Islam di Tengah Pergeseran Pemikiran Kontemporer

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah Teguhkan Akidah Islam di Tengah Pergeseran Pemikiran Kontemporer
Ustadi Hamsah memyampaikan materi pemetaan pemikiran akidah Islam Seminar Sehari Risalah Akidah Islam Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah di UMY, Sabtu (27/9/2025). Foto: Istimewa
pwmu.co -

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memandang penting adanya pemetaan pemikiran akidah Islam kontemporer untuk menjawab tantangan zaman.

Gagasan itu dipaparkan oleh Ustadi Hamsah dalam makalah berjudul Pemetaan Pemikiran Akidah Islam Kontemporer, yang ditujukan sebagai bahan refleksi dan pengayaan pemikiran bagi warga Muhammadiyah.

Ustadi menjelaskan, akidah sebagai fondasi pemahaman keagamaan dalam Islam bersifat permanen dari sisi substansi, namun fleksibel dari segi interpretasi.

Karena itu, perkembangan pemikiran akidah senantiasa berjalan seiring perubahan sosial, politik, dan intelektual umat.

“Paradigma pemikiran teologis pada masa klasik sangat berbeda dengan era kontemporer. Memahami pergeseran ini penting agar akidah tetap relevan,” ujarnya dalam Seminar Sehari Risalah Akidah Islam Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat  (PP) Muhammadiyah di UMY, Sabtu (27/9/2025).

Dalam pemaparannya, Ustadi merujuk pada lima paradigma sejarah Islam yang diidentifikasi oleh Hans Küng, seorang teolog Swiss.

Paradigma itu mencakup fase komunitas Islam awal, imperium Arab, Islam sebagai agama dunia, era ulama dan sufi, hingga modernisasi.

Setiap periode menghadirkan tantangan baru yang memunculkan penekanan berbeda dalam pemahaman akidah.

Pada fase komunitas awal, akidah dirumuskan berdasarkan nilai-nilai dasar yang ditanamkan Nabi Muhammad saw.

Fase imperium Arab menandai lahirnya perdebatan teologis awal bersamaan dengan ekspansi Islam. Islam kemudian berkembang menjadi peradaban dunia kosmopolit dengan pusat di Cordoba, Baghdad, dan Basrah.

Namun, memasuki era ulama dan sufi, pemikiran Islam mengalami stagnasi akibat ortodoksi, hingga kemudian menghadapi tantangan kolonialisme dan modernisasi pada abad ke-19.

Makalah itu juga menguraikan periodisasi pemikiran kalam klasik yang berkembang dalam lima fase.

SMPM 5 Pucang SBY

Mulai dari perdebatan tentang status pelaku dosa besar antara Khawarij dan Murji’ah, perdebatan kehendak Tuhan versus kehendak manusia antara Qadariyah dan Jabariyah, hingga lahirnya mazhab rasionalis Mu’tazilah dan teologi moderat Asy’ariyah-Maturidiyah.

Memasuki fase ortodoksi, perbedaan Sunni dan Syiah semakin menguat, dan pada era modern muncul tantangan baru dari sekularisme, agnostisisme, hingga ateisme.

Selain menelusuri sejarah, Ustadi juga menyinggung tipologi pemikiran Islam kontemporer yang dikemukakan Abdullah Saeed dan Tariq Ramadan.

Menurutnya, perkembangan pemikiran kini bergeser dari model klasik yang deduktif dan teosentris menuju model kontemporer yang lebih induktif, antropo-sentris, dan kosmosentris.

Muhammadiyah, lanjutnya, berupaya mengembangkan konsep tauhid fungsional yang memandang Islam sebagai sistem nilai yang mendorong perubahan sosial, keadilan, dan kemajuan.

Dia menambahkan, gagasan Amin Abdullah tentang tiga dimensi keberagamaan subjektif, objektif, dan intersubjektif dapat menjadi kerangka penting untuk memahami implementasi akidah di tengah masyarakat modern.

Dengan begitu, akidah tidak berhenti sebagai wacana doktrinal, tetapi menjadi etika sosial yang hidup.

“Makalah ini merupakan refleksi terbatas yang terbuka untuk diskusi lebih lanjut. Pengembangan substansi dan perspektif keilmuan yang lebih spesifik perlu diprioritaskan, agar akidah Islam dapat terus menjadi landasan kokoh bagi gerakan Muhammadiyah,” tutur Ustadi.

Melalui pemetaan tersebut, Muhammadiyah diharapkan mampu menegaskan kembali peran akidah dalam menjawab tantangan global.

Akidah tidak hanya menjaga kemurnian tauhid, tetapi juga berfungsi sebagai sumber nilai yang menggerakkan umat menuju peradaban yang adil, berkemajuan, dan berkeadaban. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu