Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jelajah Heritage Peneleh, Murid Mudipat Ini Pilih Mencatat Sejarah di Kertas

Iklan Landscape Smamda
Jelajah Heritage Peneleh, Murid Mudipat Ini Pilih Mencatat Sejarah di Kertas
Lazuardy Arkoun Abqaraya mencatat keterangan pemandu sejarah Kuncarsono Prasetyo saat di sekolah tertua Muhammadiyah di Surabaya (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)
pwmu.co -

Di era ketika hampir setiap momen diabadikan melalui kamera ponsel, murid sekolah dasar (SD) ini memilih cara berbeda untuk menyimpan kenangan. Bukan dengan swafoto atau merekam video. Melainkan mencatat setiap kisah sejarah saat menjelajah kawasan Peneleh, di atas atas selembar kertas.

Murid itu adalah Lazuardy Arkoun Abqaraya, murid kelas V SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya. Itu dilakukan dalam kegiatan Fun Walk for Philanthropy in Historical Area yang digelar di kawasan bersejarah Peneleh, Sabtu (4/7/2026). Raya –panggilan akrabnya—adalah salah satu peserta yang tekun mengikuti penjelasan pemandu sejarah. Meski hanya pada sesi awal saat di titik destinasi.

Pagi itu, sekitar 80 peserta memadati kawasan Peneleh untuk mengikuti napak tilas sejarah dalam rangka memeriahkan Milad ke-24 Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Jawa Timur. Jalanan yang biasanya dipenuhi lalu lintas berubah menjadi ruang belajar terbuka yang menghubungkan peserta dengan jejak lahirnya Muhammadiyah dan tokoh-tokoh besar bangsa.

Sejak rombongan mulai berjalan, Raya mengambil tugas berada di barisan paling depan. Ia ikut memegang banner bertuliskan Fun Walk for Philanthropy in Historical Area, lengkap dengan tulisan Kampoeng Peneleh Soerabaia. Juga banner yang berisi tema Milad ke-24 Lazismu, “Zakat Semakin Berdampak Nyata 2026.”

Namun, tugas itu hanya dijalankannya saat berpindah dari satu titik ke titik berikutnya. Begitu rombongan tiba di lokasi sejarah, banner segera diletakkan. Raya kemudian menghampiri ayahnya untuk mengambil papan dada-kertas dan pulpen yang disimpan di dalam tas ransel ayahnya.

Sejak itulah fokusnya berubah. Raya mengambil tempat berdiri tidak jauh dari pemandu sejarah. Mendengarkan setiap penjelasan dengan saksama, lalu menuliskan poin-poin penting yang menurutnya perlu diingat. Tangannya bergerak memenuhi selembar kertas dengan tulisan-tulisan singkat.

“Biar bisa cerita ke teman-teman atau guruku kalau aku pernah ke tempat-tempat bersejarah ini,” ujarnya.

Kebiasaan membawa catatan ternyata bukan tanpa alasan. Raya mengaku sering lupa ketika diminta menceritakan kembali pengalaman mengikuti kegiatan sejarah.

“Biasanya ayah dan mama tanya-tanya kalau selesai acara begini-an. Tapi aku sering jawabnya lupa. Makanya aku bawa kertas untuk mencatat,” katanya sambil tersenyum.

SMPM 5 Pucang SBY

Catatan yang dibuatnya tidak panjang. Di setiap lokasi ia hanya menuliskan nama tempat serta informasi penting yang disampaikan pemandu. Baginya, catatan itu sudah cukup menjadi pengingat ketika suatu hari ingin membuka kembali ingatannya atau membagikan cerita kepada orang lain.

Kegiatan Fun Walk for Philanthropy in Historical Area sendiri bukan sekadar jalan sehat. Panitia merancang perjalanan ini sebagai napak tilas sejarah yang memperkenalkan kawasan Peneleh sebagai salah satu pusat perkembangan Muhammadiyah sekaligus pergerakan nasional di Surabaya.

Perjalanan dimulai dari Gedung Kemanusiaan Lazismu Surabaya di Jalan Achmad Jais No. 34 A-1, Plampitan. Dari sana, peserta berjalan menuju Masjid Plampitan, tempat yang pernah menjadi lokasi tabligh KH Ahmad Dahlan saat berkunjung ke Surabaya.

Konsep Otomatis
Raya mencatat keterangan pemandu sejarah Kuncarsono Prasetyo saat di depan Toko Buku Peneleh (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)

Rombongan kemudian singgah di SD Muhammadiyah 2 Surabaya. Sekolah Muhammadiyah tertua di Kota Pahlawan yang dibangun pada 1930. Perjalanan berlanjut menuju Toko Buku Peneleh, tempat pengajian Muhammadiyah yang terdokumentasi sejak tahun 1916.

Selanjutnya, peserta mengunjungi Rumah HOS Tjokroaminoto, rumah yang dikenal sebagai tempat berkumpul dan belajar sejumlah tokoh pergerakan nasional. Napak tilas ditutup di Rumah Kelahiran Bung Karno di Pandean Gang IV.

Selama perjalanan dari satu titik ke titik lain, peserta diajak memahami bahwa Peneleh bukan sekadar kawasan tua. Melainkan ruang yang menyimpan jejak lahirnya pemikiran-pemikiran besar yang membentuk perjalanan Indonesia.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 05/07/2026 16:18
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu