Usia 73 tahun tak menghalangi Siti Juriyah untuk bersaing di meja tenis. Pengurus Aisyiyah Ranting Bratang, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Surabaya, ini berhasil mengalahkan empat lawan yang lebih muda sebelum akhirnya menjadi runner up tunggal putri dalam Semarak Milad ke-114 Muhammadiyah.
Siti Juriyah yang telah memiliki enam cucu itu menjadi perhatian peserta dan penonton dalam lomba badminton dan tenis meja di Mudipat Sport Center SD Muhammadiyah 4 Surabaya (Mudipat), Sabtu (7/11/2026).
Dengan langkah tenang dan pukulan penuh perhitungan, dia melewati pertandingan demi pertandingan. Perjalanannya baru terhenti di partai final setelah mengakui keunggulan lawan.
Namun, kekalahan di laga puncak tak mengurangi kebahagiaannya. Bagi Siti Juriyah, bertanding membawa nama ranting menjadi pengalaman yang menyenangkan.
“Saya semangat karena ya membela ranting saya, Mas. Senang pokoknya main dengan bahagia,” ujarnya sambil tersenyum.
Kisah Siti Juriyah menjadi salah satu momen menarik dalam lomba yang digelar PCM Ngagel untuk menyemarakkan Milad ke-114 Muhammadiyah bertema Bersama Satukan Bangsa.
Adu Smash dan Spin Lintas Generasi
Sejak pagi, Mudipat Sport Center dipenuhi peserta dan pendukung dari berbagai Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), amal usaha Muhammadiyah (AUM), dan organisasi otonom (Ortom) di wilayah Ngagel.
Lomba badminton dan tenis meja mempertemukan peserta lintas generasi. Anak-anak muda tampil dengan tenaga dan kelincahan. Sedangkan peserta yang lebih senior mengandalkan pengalaman serta ketenangan membaca permainan.
Sebelum bertanding, mereka saling berjabat tangan. Begitu pertandingan dimulai, suasana berubah. Smash, spin, dan reli panjang membuat penonton ikut tegang menunggu poin demi poin.
Dalam lomba badminton, panitia membagi pertandingan menjadi dua kategori, yakni AUMDIK dan PRM atau Ortom.
Kategori AUMDIK diikuti pasangan Sugeng-Maulana, Sofwan-Andi, Rozaq-Anwar, Zainal-Teguh, Madrus-Iskandar, Narto-Yusuf, Ahmed-Ian, serta Muklisin-Munib.
Sementara kategori PRM atau Ortom diikuti PRM Pucangan, PRM Manyar, Pemuda, PRM Bratang, PRM Kalibokor, PRM Bagong, PRM Juwingan, dan PRM Ngagel Rejo.
Seluruh pertandingan menggunakan sistem gugur dengan skor 42 dan sistem rally point. Format ini membuat setiap pasangan harus menjaga konsentrasi karena satu poin bisa menentukan kelanjutan pertandingan.
Lomba tenis meja mempertandingkan nomor tunggal putri dan ganda putra. Peserta datang dari Kalibokor, Spemma, Pucangan, Bratang, Bagong, Pemuda, Smamda, Mudipat, Ngagel Rejo, Manyar, Kreatif, hingga Juwingan.
Di meja yang tak terlalu luas, pertandingan berlangsung tak kalah sengit. Smash keras peserta muda beradu dengan spin dan permainan terukur dari peserta yang lebih senior.
Reli panjang membuat penonton menahan napas. Setiap pukulan menjadi kesempatan untuk merebut poin, sekaligus mempertahankan peluang melaju ke babak berikutnya.
Di tengah persaingan itu, Siti Juriyah menunjukkan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berolahraga dan berkompetisi.
Empat lawan yang lebih muda berhasil dia lewati. Meski akhirnya harus puas di posisi kedua, perjalanannya menjadi cerita yang paling membekas dari nomor tunggal putri.
Milad Jadi Ajang Mempererat Persaudaraan
Bagi PCM Ngagel, lomba olahraga bukan sekadar mencari juara. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan warga Muhammadiyah dari berbagai ranting, AUM, dan Ortom yang selama ini disibukkan dengan aktivitas masing-masing.
Melalui badminton dan tenis meja, mereka bisa bertemu, saling mengenal, dan membangun kebersamaan dalam suasana yang sehat dan gembira.
Semangat itu sejalan dengan pesan Ketua PCM Ngagel H Ahmad Zaini MPd dalam kegiatan Milad Muhammadiyah ke-113 tahun lalu.
“Saya berharap lomba menjadi ajang silaturahim dan mempererat persaudaraan, bukan semata-mata mengejar kemenangan,” katanya.
Kisah Siti Juriyah tahun ini memperlihatkan semangat tersebut. Dia bertanding bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk membela rantingnya.
“Senang pokoknya main dengan bahagia,” katanya.
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dalam berkompetisi tidak selalu ditentukan oleh piala. Semangat, keberanian, dan kebersamaan juga menjadi bagian dari kemenangan.
Rangkaian Semarak Milad Muhammadiyah ke-114 PCM Ngagel berlangsung sejak 4 November 2026. Selain badminton dan tenis meja, kegiatan ini juga menghadirkan lomba menghias tumpeng, paduan suara, dan gobag sodor yang digelar di Mudipat, Smamda, dan Spemma.
Agenda berikutnya adalah Pawai Milad dan Defile pada 14 November 2026, kemudian Apel Milad pada 18 November 2026.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PCM Ngagel merayakan milad dengan melibatkan warga Muhammadiyah lintas generasi.
Di Mudipat Sport Center, semangat itu terlihat dari anak muda yang beradu smash hingga Siti Juriyah yang tetap berjuang di meja tenis pada usia 73 tahun.
Dia memang pulang sebagai runner up. Namun, kisahnya menunjukkan bahwa semangat membela ranting, menjaga kebugaran, dan menikmati pertandingan tak mengenal batas usia. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments