Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Payaman, Kabupaten Lamongan, berhasil masuk delapan besar Ranting Muhammadiyah Unggulan tingkat Jawa Timur dan ditetapkan sebagai salah satu perwakilan Jawa Timur dalam ajang Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) Award VII tahun 2026 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Penetapan tersebut tertuang dalam surat LPCR Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Nomor 197/II.15/B/2026 tertanggal 27 Oktober 2026 tentang Hasil Penilaian CRM Unggulan Tingkat Jawa Timur Tahun 2026. Melalui surat tersebut, LPCR PWM Jawa Timur menetapkan sejumlah cabang, ranting, dan masjid sebagai nominator yang akan mewakili Jawa Timur dalam CRM Award VII tingkat nasional.
Keberhasilan PRM Payaman menjadi salah satu ranting terpilih tidak terlepas dari tahapan penilaian nominator CRM Unggulan yang dilaksanakan pada Ahad (25/10/2026) di Agro Mulia, Prigen, Pasuruan. Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari unsur cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah se-Jawa Timur.
Dalam tahapan penilaian tersebut, Fadlan, S.H., Wakil Ketua PRM Payaman, memaparkan presentasi bertajuk “PRM Payaman, Ranting Gudang Kader.” Presentasi itu mengangkat kekuatan utama PRM Payaman dalam membangun dakwah persyarikatan melalui kaderisasi yang berkelanjutan, pengembangan amal usaha, serta persebaran kader di berbagai bidang kehidupan.
Kaderisasi Menjadi Ruh Gerakan Dakwah
Dalam paparannya, Fadlan menjelaskan bahwa perjalanan PRM Payaman dari generasi ke generasi memperlihatkan kesinambungan visi dan misi gerakan dakwah Muhammadiyah. Semangat tersebut terangkum dalam orientasi utama PRM Payaman, yakni mencetak kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa.
Kaderisasi tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga diwujudkan melalui berbagai amal usaha dan kegiatan dakwah yang menyentuh bidang pendidikan, keagamaan, ekonomi, hingga pengabdian masyarakat.
Di bidang keagamaan, PRM Payaman memiliki Masjid Al-Jihad yang megah dan nyaman sebagai pusat kegiatan ibadah sekaligus aktivitas dakwah. Selain itu, PRM Payaman juga memiliki dan membina tujuh musala yang menjadi bagian dari penguatan dakwah di tengah masyarakat.
Sementara itu, sektor pendidikan menjadi salah satu pilar penting dalam gerakan PRM Payaman. Lembaga pendidikan yang dikelola mencakup Satuan PAUD Sejenis (SPS), Kelompok Bermain (KB), dan TK ABA. Salah satu yang menjadi perhatian adalah PAUD unggulan Kabupaten Lamongan yang dikenal dengan sebutan PAUD Inovasi Aisyiyah.
Lembaga pendidikan tersebut bahkan menjadi tujuan studi tiru bagi berbagai lembaga pendidikan sejenis, baik dari dalam maupun luar kota hingga luar provinsi. Hal ini menunjukkan peran PRM Payaman dalam mengembangkan praktik pendidikan anak usia dini yang menjadi rujukan bagi lembaga lain.
Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, PRM Payaman memiliki Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Capaian pendidikan juga tercermin dari para lulusan yang setiap tahun diterima di berbagai perguruan tinggi negeri.
Penguatan pendidikan Al-Qur’an dan ilmu agama turut dilakukan melalui lembaga pendidikan nonformal, seperti TPA/TPQ dan Madrasah Diniyah (Madin). Selain itu, terdapat Rumah Tahfidz Aisyiyah dengan gedung yang representatif, yang berfokus membimbing anak-anak menghafal Al-Qur’an sejak usia dini hingga tingkat SD/MI.
Adapun pembinaan hafalan Al-Qur’an dan pendalaman ilmu agama bagi jenjang MTs dan MA dilanjutkan melalui Pondok Pesantren Al-Jihad, yang memiliki asrama putra dan putri secara terpisah.
Rangkaian amal usaha tersebut menjadi bagian dari ekosistem pendidikan dan kaderisasi yang dibangun PRM Payaman untuk menyiapkan generasi penerus yang memiliki bekal keilmuan, keagamaan, dan komitmen terhadap persyarikatan.
Menggerakkan Ekonomi dan Dakwah Diaspora
Selain bidang keagamaan dan pendidikan, PRM Payaman juga mengembangkan amal usaha di sektor ekonomi. Salah satunya adalah Amsyar Mart, swalayan yang menyediakan kebutuhan alat tulis kantor (ATK), perlengkapan sekolah, serta kebutuhan sehari-hari. PRM Payaman juga memiliki usaha kantin sebagai bagian dari aktivitas ekonomi yang dikembangkan.
Kekuatan gerakan PRM Payaman juga menjangkau warga Muhammadiyah yang bekerja di luar negeri. Hal ini tercermin melalui keberadaan Himpunan Tenaga Kerja Perantauan (HTKP), sebuah wadah perkumpulan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Payaman yang memiliki semangat untuk tetap berjuang dan berdakwah melalui Muhammadiyah di tengah aktivitas pekerjaan mereka.
Dari gerakan HTKP tersebut, tumbuh perkembangan dakwah Muhammadiyah di Malaysia hingga melahirkan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM).
HTKP di Malaysia juga mengembangkan amal usaha berupa Warung HTKP. Dari pengalaman usaha tersebut, muncul inspirasi yang kemudian mendorong studi tiru oleh PCIM hingga lahirnya WASOLA (Warung Soto Lamongan), yang dikenal sebagai salah satu bentuk pengembangan usaha kuliner dalam gerakan ekonomi warga Muhammadiyah.
Kisah ini memperlihatkan bahwa gerakan PRM Payaman tidak berhenti pada lingkungan lokal. Kaderisasi dan semangat berorganisasi yang tumbuh di ranting turut mendorong lahirnya gerakan dakwah dan pengembangan usaha di lingkungan diaspora Muhammadiyah di luar negeri.
Melahirkan Kader di Berbagai Tingkatan dan Profesi
Salah satu poin penting yang dipaparkan Fadlan adalah persebaran kader Muhammadiyah asal Payaman yang berkiprah di berbagai tingkatan kepemimpinan persyarikatan.
Kader-kader yang tumbuh dari lingkungan Payaman turut mewarnai aktivitas sejumlah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di wilayah sekitarnya. Kiprah mereka juga menjangkau kepemimpinan di tingkat daerah, wilayah, hingga pusat.
Sejumlah kader disebut pernah atau sedang mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Wakil Ketua PDM Surabaya, serta mantan Ketua PDM Situbondo. Persebaran kader tersebut juga menjangkau PWM Jawa Timur, PWM Daerah Istimewa Yogyakarta, PWM Kalimantan Selatan, hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Di luar struktur organisasi, kader Muhammadiyah asal Payaman juga berkiprah dalam berbagai profesi, termasuk eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Di antaranya adalah H. Husnul Aqib yang berkiprah di DPRD Jawa Timur, M. Rafiq yang pernah menjadi anggota DPRD Lamongan, serta H. A. Zahri, S.H., M.H., yang menjabat Ketua Pengadilan Agama Pasuruan. Ada pula Dr. Sriyatin, S.H., M.Ag., M.H., yang berkiprah sebagai Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Agama Surabaya.
Persebaran kader juga mencakup beragam profesi di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pelayanan masyarakat. Di antaranya dokter, dokter gigi, dokter hewan, tenaga laboratorium, apoteker, perawat, bidan, dosen di perguruan tinggi negeri maupun swasta, baik di dalam maupun luar negeri, guru, petani, pedagang, hingga pengusaha.
Di lingkungan diaspora Muhammadiyah, kader asal Payaman juga dipercaya memegang amanah organisasi. Salah satunya adalah M. Lazim, Ketua HTKP, yang dipercaya menjadi Ketua PRIM Klang Lama, Malaysia.
Keberagaman kiprah tersebut menjadi gambaran bahwa kaderisasi di PRM Payaman tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan organisasi, tetapi juga membentuk sumber daya manusia yang mampu berkontribusi di berbagai sektor kehidupan.
Kebanggaan sekaligus Amanah untuk Melangkah ke Tingkat Nasional
Sekretaris PRM Payaman, Rif’an, S.Pd., menyampaikan bahwa keberhasilan masuk delapan besar ranting unggulan Jawa Timur dan memperoleh kesempatan mewakili provinsi dalam CRM Award 2026 merupakan kebanggaan tersendiri bagi pimpinan ranting dan warga Muhammadiyah Payaman.
Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi motivasi untuk mempersiapkan diri lebih matang dalam menghadapi penilaian di tingkat nasional.
“Lolosnya PRM Payaman ke ajang nasional ini adalah kebanggaan tersendiri bagi PRM dan warga Muhammadiyah Payaman. Tentu ini harus disiapkan dengan lebih matang untuk memperoleh hasil yang terbaik,” ujar Rif’an.
Keberhasilan PRM Payaman melangkah ke CRM Award VII tingkat nasional menjadi momentum untuk memperkenalkan praktik gerakan Muhammadiyah di tingkat ranting yang bertumpu pada kaderisasi, pengembangan amal usaha, penguatan pendidikan, kemandirian ekonomi, serta perluasan dakwah hingga ke luar negeri.
Dengan mengusung semangat “PRM Payaman, Ranting Gudang Kader,” PRM Payaman menunjukkan bahwa kekuatan sebuah ranting tidak hanya diukur dari banyaknya amal usaha yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuannya melahirkan kader yang berkelanjutan, menggerakkan masyarakat, dan memberikan kontribusi nyata bagi persyarikatan, umat, serta bangsa.
Kini, PRM Payaman bersiap membawa semangat tersebut ke panggung nasional melalui CRM Award 2026, dengan harapan dapat memberikan hasil terbaik sekaligus memperkuat peran ranting sebagai ujung tombak gerakan Muhammadiyah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments