Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

FKG Umsura Gelar Bakti Sosial dan Kurban di Banyulegi Mojokerto

Iklan Landscape Smamda
FKG Umsura Gelar Bakti Sosial dan Kurban di Banyulegi Mojokerto
Dari Pemeriksaan Gigi hingga Distribusi Kurban, Pengabdian Umsura Hangatkan Banyulegi
pwmu.co -

Perjalanan yang pernah membawa saya menyusuri bentang alam Kalimantan Timur yang megah dan menantang, kembali teringat ketika membaca kisah dari Dusun Glagah, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Dahulu, saya pernah melintasi derasnya Sungai Mahakam dan menyaksikan perjuangan masyarakat pedalaman yang harus menumpang perahu ketinting berjam-jam demi mendapatkan layanan kesehatan dasar. Saya juga merasakan hangatnya budaya gotong royong masyarakat Dayak di Kutai yang hidup di tengah rimbunnya hutan tropis.

Nuansa serupa ternyata saya temukan kembali di ujung utara Mojokerto, tepatnya di Desa Banyulegi yang terdiri atas empat dusun, yakni Banyulegi, Ngarus, Balong, dan Dusun Glagah sebagai pusat pemerintahan desa.

Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Toni, Kepala Dusun Glagah Supriyanto, serta dukungan Ketua PCM Gumrek Sulistia, masyarakat menyambut hangat kedatangan “pasukan putih” dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Pada Selasa (26/5/2026), Pendopo Desa Banyulegi yang berada di Dusun Glagah mendadak ramai oleh suara anak-anak dan obrolan warga.

Hari itu, FKG Umsura menggelar bakti sosial berupa penyuluhan dan pemeriksaan gigi gratis bagi masyarakat setempat.

Empat dokter gigi spesialis turun langsung dalam kegiatan tersebut, yakni drg. Prima Nerito, Sp.KGA., M.Kes., M.H., drg. Rangga Suryo Fathrianto, Sp.Pros., drg. Aryo Sutowijoyo, Sp.KG., dan drg. Bingah Fitri Melati, Sp.KGA..

Mereka didampingi 35 mahasiswa kader IMM Ayurveda Komisariat Kedokteran FKG Umsura yang turut terjun melayani masyarakat.

Sebanyak 90 peserta yang terdiri atas santri TPQ Masjid Al Islam Dusun Glagah, TPQ Mushola Al Amiin, serta ibu-ibu Dusun Glagah mengikuti pemeriksaan dengan antusias.

Mayoritas warga bekerja sebagai buruh, petani, peternak, dan karyawan swasta. Akses terhadap layanan dokter gigi spesialis masih menjadi tantangan tersendiri karena faktor jarak dan biaya.

Dari hasil pemeriksaan, tim medis menemukan kasus terbanyak berupa gigi berlubang (karies) dan radang saraf gigi (pulpitis), baik yang bersifat baru maupun menahun.

Permasalahan kesehatan gigi tersebut ternyata berdampak besar terhadap produktivitas masyarakat dan proses belajar anak-anak.

Melihat tingginya antusiasme warga, guru-guru SDN Banyulegi berharap program serupa juga dapat menyasar peserta didik di sekolah.

Gayung bersambut, FKG Umsura berencana menjadikan Desa Banyulegi sebagai desa binaan agar program kesehatan gigi dapat berjalan berkelanjutan.

Langkah tersebut menjadi bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat pedesaan.

SMPM 5 Pucang SBY

Kehadiran civitas akademika Umsura di Banyulegi tidak hanya berhenti pada pelayanan kesehatan.

Momentum itu bertepatan dengan perayaan iduladha 1447 Hijriah yang berlangsung di halaman Masjid Al Islam Dusun Glagah.

Bertindak sebagai imam sekaligus khatib salat iduladha adalah Dr. dr. Muhammad Anas, SpOG.

Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema tentang hakikat ibadah Kurban sebagai sarana menghapus kesombongan intelektual dan sekat sosial demi menghadirkan kesetaraan dan keadilan di tengah masyarakat.

Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat modern yang kerap terjebak dalam sekat status sosial, gelar akademik, maupun jabatan.

Melalui ibadah Kurban, manusia diajak kembali pada semangat gotong royong dan kesetaraan sosial.

Pesan khutbah itu kemudian diwujudkan dalam aksi nyata melalui penyembelihan hewan Kurban yang dilakukan IMM Ayurveda bersama masyarakat Dusun Glagah.

Terdapat dua ekor sapi dan empat ekor kambing yang disembelih, terdiri atas satu sapi dan tiga kambing dari IMM Ayurveda serta satu sapi dan satu kambing dari warga desa.

Dari proses tersebut, panitia berhasil mendistribusikan 280 kantong daging Kurban kepada masyarakat.

Menariknya, distribusi dilakukan dengan prinsip keadilan sosial yang mengutamakan warga yang benar-benar membutuhkan, seperti janda lanjut usia, anak yatim, dan buruh tani dengan penghasilan terbatas.

Sementara warga yang dinilai mampu secara ekonomi dengan sukarela berada di urutan berikutnya.

Prinsip tersebut menjadi gambaran nyata bahwa ibadah Kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan instrumen pemerataan kesejahteraan sosial bagi masyarakat kecil.

Di penghujung kegiatan, senyum warga Dusun Glagah menjadi bukti bahwa perpaduan ilmu pengetahuan, pengabdian, dan semangat gotong royong mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat akar rumput.

Revisi Oleh:
  • Satria - 27/05/2026 19:11
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu