SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui salah satu siswinya, Gisela Nur Gravila Rakapratiwi.
Siswi kelas 8B tersebut mulai serius menekuni olahraga ekstrem downhill setelah sebelumnya dikenal sebagai atlet BMX Race. Meski baru pertama kali mengikuti kompetisi downhill tingkat nasional, Gisela sukses menembus peringkat 4 dalam ajang 76 Ultimate Indonesian Downhill (IDH) Series 1 di Bukit Hijau yang berlangsung pada 22–24 Mei 2026.
Bagi sebagian orang, downhill merupakan olahraga yang memacu adrenalin dan penuh risiko karena dilakukan di jalur pegunungan ekstrem dengan kecepatan tinggi.
Namun bagi Gisela, downhill justru menjadi ruang untuk belajar keberanian, fokus, dan mengalahkan rasa takut dalam diri.
“Saya senang sekaligus gugup saat mengikuti perlombaan. Rasanya nervous, tapi juga excited karena ini pengalaman pertama saya di downhill,” ungkapnya.
Trek Bukit Hijau dikenal sebagai salah satu lintasan paling ekstrem dan terjal di Indonesia. Jalurnya dipenuhi batu besar, akar pohon, dan obstacle berbahaya yang menuntut kesiapan mental serta teknik para rider.
Perjalanan Gisela dimulai sejak Kamis saat menjalani walking track, yakni menyusuri lintasan perlombaan dengan berjalan kaki untuk mempelajari karakter trek.
Meski beberapa kali terperosok akibat jalur yang curam, hal itu tidak menyurutkan semangatnya dalam mempelajari racing line terbaik dan mengenali titik-titik berbahaya di lintasan.
Sebelum mengikuti perlombaan, Gisela menjalani persiapan serius mulai dari latihan fisik, mental, hingga pengecekan kondisi sepeda.
“Persiapan saya sebelum berangkat menuju Indonesian Downhill yaitu berlatih dengan giat seperti latihan fisik, latihan mental, dan lain-lain. Kalau sepeda ada trouble tertentu biasanya dibenahi dulu sebelum balapan,” jelasnya.
Pada Jumat, Gisela mengikuti sesi free practice untuk mencoba kecepatan dan menentukan racing line terbaik.
Momen paling menegangkan terjadi saat seeding run pada Sabtu. Dalam sesi penentuan urutan start final tersebut, Gisela mengalami kecelakaan cukup keras di area rock garden, lintasan batu curam dengan ketinggian hampir empat meter.
Ia mengalami cedera di bagian paha dan perut hingga petugas medis sempat bersiap mengevakuasinya menggunakan tandu.
Namun di tengah rasa sakit, Gisela memilih bangkit dan melanjutkan perlombaan hingga garis finish demi tetap memperoleh poin.
Usai balapan, ia harus beristirahat di tenda paddock sambil melakukan kompres es untuk meredakan cedera. Bahkan pada malam harinya, ia masih mengonsumsi obat pereda nyeri agar siap tampil pada final run keesokan harinya.
Meski kondisi tubuh belum sepenuhnya pulih, Gisela tetap tampil maksimal pada final run hari Minggu.
Semangat pantang menyerah yang dimilikinya akhirnya membuahkan hasil membanggakan. Dalam debutnya di dunia downhill nasional, ia berhasil finis di posisi keempat.
“Alhamdulillah, pada perlombaan downhill pertamanya itu Gisela berhasil meraih peringkat 4,” tuturnya.
Menurutnya, hasil tersebut menjadi pengalaman berharga untuk terus belajar dan berkembang menjadi rider yang lebih kuat.
Ke depan, Gisela akan mempersiapkan diri menghadapi Kejuaraan Nasional (Kejurnas) di Pangandaran, Jawa Barat pada Juli mendatang.
Setelah itu, ia juga dijadwalkan mengikuti Ultimate IDH Series 2 di Ternadi Bike Park pada Agustus dan seri ketiga di Arjuno Bike Park.
Sebelum terjun ke downhill, Gisela telah lebih dulu menorehkan prestasi di cabang BMX Race.
Pada 2024, ia berhasil meraih juara 3 BMX Race. Kemudian pada 2025, Gisela kembali meraih juara 3 dalam ajang Banyuwangi C1 Race BMX.
Sementara pada 2026, ia sukses finis di posisi 4 dalam Indonesian Downhill Series.
Menurutnya, perlombaan paling berkesan sejauh ini adalah Race BMX Banyuwangi karena diikuti rider dari Malaysia dengan jumlah peserta yang sangat banyak.
“Menurut saya perlombaan yang paling berkesan ada di Race BMX Banyuwangi karena ada tiga rider dari Malaysia dan pesertanya lebih dari 20 orang,” katanya.
Ke depan, Gisela berharap mampu terus berkembang dan suatu hari berdiri di podium tertinggi.
“Harapan saya ke depan bisa menginjak podium 1,” ujarnya penuh semangat.
Ia juga berharap dapat terus membawa nama baik sekolah dan Kota Batu melalui prestasi di dunia olahraga sepeda downhill.
Di akhir ceritanya, Gisela turut menyampaikan rasa terima kasih kepada “Macca”, sepeda MTB kesayangannya yang selalu menemaninya menaklukkan lintasan ekstrem.
“Doakan saya dan Macca agar bisa terus kuat, berani, dan meraih prestasi yang lebih baik di perlombaan berikutnya,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments