Lebih dari 2.000 jamaah salat iduladha 1447 Hijriah memadati Lapangan Kopen yang berada di barat daya Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Rabu (27/5/2026).
Para jamaah tampak khusyuk mengikuti khutbah iduladha yang disampaikan Ustadz Muhammad Iqbal Lc. MA, alumnus Universitas Islam Madinah.
Jumlah jamaah tahun ini meningkat dibanding biasanya karena kehadiran para santri Al-Ishlah yang terdiri atas siswa kelas VII dan VIII SMPM 12 Paciran serta kelas X dan XI MA Al-Ishlah Sendangagung.
Staf Pengasuhan Santri Al-Ishlah, Ustadz Habib Chirzin S.P, membenarkan bahwa para santri turut bergabung bersama warga Muhammadiyah dalam pelaksanaan salat iduladha di Lapangan Kopen.
Menurutnya, lokasi tersebut dipilih karena memiliki area yang luas dan paling dekat dengan lingkungan pondok pesantren.
“Kita hanya jalan kaki seratus meter nyampai lokasi salat id, dan jika kita menyatu dengan masyarakat kita merasa lebih menunjukkan persatuan dan merasa bagian dari masyarakat,” ungkap pria asal Modo, Lamongan tersebut.
Ia menjelaskan, sekitar 1.400 santri putra dan putri telah diarahkan untuk menjaga ketertiban selama pelaksanaan ibadah agar tidak mengganggu kenyamanan jamaah lainnya.
“Santri putra dan putri yang berjumlah 1400 an telah kita arahkan agar tertib dalam menjalankan ibadah bersama masyarakat, tidak membuat mereka terganggu, maka santri datang lebih awal jam 05.00 WIB sudah bergerak dari asrama ke Kopen, ambil posisi bagian Utara dan pulang di akhir menunggu sampai warga Muhammadiyah Sendangagung beranjak dan bergerak pulang,” terang guru mata pelajaran Geografi di MA Al-Ishlah tersebut.
Menurut Chirzin, kedisiplinan para santri mendapat apresiasi dari masyarakat sekitar.
“Alhamdulillah instruksi dijalankan dengan baik oleh santri, sehingga warga pun mengagumi tertibnya santri berjamaah, kata salah satu warga, santri Al-Ishlah luar biasa, kehadirannya di Kopen Huwal Awwalu wal Akhiru,” kutip Chirzin dari masyarakat.
Dalam khutbahnya, Ustadz Muhammad Iqbal menjelaskan besarnya pengorbanan Nabi Ibrahim alaihi salam sebagai bukti keimanan kepada Allah SWT.
Ia mengajak jamaah untuk kembali mengingat kisah Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai teladan dalam kehidupan.
Allah memerintahkan umat Nabi Muhammad SAW untuk mengingat perjalanan hidup Nabi Ibrahim yang sarat pengorbanan demi mencari ridha Allah.
“Setidaknya semasa hidup Nabi Ibrahim melalui 3 pengorbanan besar untuk membuktikan imannya;
- Dirinya sendiri pernah dibakar di dalam api
- Diperintahkan meninggalkan anak dan istri (Ismail dan ibunya) di lembah yang sepi tanpa ada tumbuhan
- Diperintahkan menyembelih anaknya (Ismail),” terang alumnus Universitas Islam Madinah tahun 2016 tersebut.
Menurutnya, iman tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui pengorbanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
“Iman harus dibuktikan dengan pengorbanan. Jika Nabi Ibrahim rela berkorban sedemikian rupa demi mencari ridha Allah, kita pun harus mau mengorbankan kesenangan dan kenyamanan kita dalam rangka mencari ridha Allah,” pesannya kepada jamaah.





0 Tanggapan
Empty Comments