Sa’diyah itulah nama kecilnya. Ia akrab dipanggil Bu Brahim sejak menikah dengan Ibrahim. Lahir di Magelang pada 10 Desember 1928 dari seorang ayah Ahmad bin Salim dan ibu Siti Muhani. Ia lahir dari keluarga besar dengan sembilan bersaudara. Sejak remaja Sa’diyah Ibrahim aktif sebagai wanita pejuang Kemerdekaan dengan membantu di dapur umum.
Pada tahun 1952 ia pindah ke Surabaya dan tinggal di Ngaglik baru Gg VI no. 11 sampai tahun 1963 sebelum pindah ke Pucang. Dari Pucang ia pindah ke Gubeng Airlangga sebagai kediaman terakhir sampai akhir hayatnya.
Tahun 1954 ia bekerja sebagai kasir di Harian Umum di Surabaya hingga tahun 1970-an sementara suaminya aktif sebagai pendidik di SMP Muhammadiyah 5 Surabaya. Setelah berhenti sebagai kasir di Harian Umum ia bekerja sebagai karyawan di Rumah Sakit Bersalin Aisyiyah Pacarkeling, Surabaya sampai tahun 1997.
Sebelum aktif di Aisyiyah, Sa’diyah aktif di Dapur Umum Perjuangan Kemerdekaan bersama-sama Jenderal Sarbini waktu itu. Jiwa aktivisnya ini muncul bukan karena titisan bakat dari orang tua dan saudara-saudaranya. Tapi muncul dari diri Sa’diyah yang ulet, gigih, rajin dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Ia ingin merubah keadaan dan berpihak kepada sesama yang kala itu masih sangat terbelakang secara ekonomi, sosial dan budaya. Semangat memberdayakan dan memajukan ini yang akhirnya mengantarkan ia menjadi wanita aktifis.
Aktivitasnya di luar rumah akhirnya mempertemukannya dengan Salmi Sismono yang akhirnya bersama-sama aktif di Aisyiyah Daerah Surabaya. Hari-hari ia lalui dengan aktivitasnya di Aisyiyah Daerah yang berkantor di Peneleh.
Tahun 1967, Sa’diyah, Salmi Sismono dan kawan-kawan merintis berdirinya Aisyiyah Wilayah Jawa Timur. Tahun 1968 berdirilah Aisyiyah Jawa Timur. Pada periode pertama berdirinya Aisyiyah Wilayah ini, Sa’diyah dipercaya sebagai Bendahari II mendampingi Salmi Sismono sebagai Ketua hingga berakhirnya kepengurusan tahun 1971.
Pada tahun 1971-1974 kepemimpinan Aisyiyah masih dipercayakan kepada Salmi Sismono. Pada periode ini Sa’diyah menjabat sebagai Wakil Ketua I. Pada periode ketiga kepengurusan sejak berdirinya, tahun 1974-1977 hasil Musyawarah Wilayah kembali mengantarkan Salmi Sismono sebagai ketua Aisyiyah Wilayah Jawa Timur untuk kali ketiga.
Pada periode ini Sa’diyah tetap menempati posisi Wakil Ketua I seperti periode sebelumnya. Selama tiga masa kepemimpinan Salmi Sismono ini program organisasi lebih banyak diarahkan kepada penataan organisasi, pendidikan dan pengajaran, dakwah dan pembinaan kesejahteraan umat.
Penataan organisasi dilakukan dengan membentuk kepemimpinan Aisyiyah di tingkat Daerah, Cabang dan Ranting di daerah-daerah yang memang telah terbentuk Muhammadiyah. Adapun program pendidikan dan penagjaran dilaksanakan dengan membina sekolah, khususnya sekolah Taman Kanak-kanak Busthanul Athfal (TK ABA), seperti TK ABA di Plampitan Gg. VIII.
Sementara program kesejahteraan umat diwujudkan dalam bentuk pembinaan terhadap amal-amal usaha seperti Rumah Sakit Bersalin Aisyiyah di jalan Pacarkeling. Program dakwah Islamiyah dilakukan melalui kegiatan pengajian keislaman khusus ibu-ibu dan remaja putri, dengan tempat bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya. Program-program tersebut dilaksanakan seiring dengan adanya penambahan struktur organisasi dalam Aisyiyah yang secara khusus membidangi pendidikan dan pengajaran, dakwah dan pertolongan.
Pasca kepemimpinan Salmi Sismono, Musyawarah Wilayah Aisyiyah tahun 1978 mengantarkan Sa’diyah Ibrahim sebagai Ketua, dibantu Salmi Sismono (wakil ketua), Musyrifah Maksum (wakil ketua), Nur Nafisah M.Arifin Nur (sekretaris), Makhsusiyah Abdillah (sekretaris I), Muntikhana A. Chatib (sekretaris II), Qomariyah Usman Muttaqin (bendahara), Cholidah Umar (bendahara I), dan Zakiyyah Najamuddin (bendahara II).
Kepengurusan ini ditetapkan melalui surat Pengesahan PP Aisyiyah nomor 011/A-2/1979, 11 Rabiul Akhir 1399, bertepatan dengan 11 Maret 1979. Surat ditandatangani oleh Baroroh Baried (ketua) dan Hadiefah Zuharon (sekretaris). Kepemimpinan Sa’diyah ini berlanjut hingga 1985. Ini terjadi karena Muhammadiyah dan Aisyiyah di tingkat Pusat tidak menyelenggarakan Muktamar sehingga berimbas kepada kepemimpinan di tingkat Wilayah.
Musyawarah Wilayah Aisyiyah Jawa Timur yang diselenggarakan pada tahun 1985 pasca muktamar ke-41 Muhammadiyah dan Aisyiyah kembali memilih Sa’diyah sebagai ketua Aisyiyah Wilayah. Periode ini berlangsung mulai 1986-1990. Terpilihnya Sa’diyah karena memang dianggap mampu mengemban amanat organisasi selama kepemimpinan sebelumnya. Ia dibantu oleh Nur Nafisah Arifin, Machsusiyah Abdillah, Cholidah Umar, Musyrifah Maksum, dan Muntikhanah Khotib.
Kerja keras yang dilakukan Sa’diyah tidak sia-sia. Hal ini juga yang mengantarkan sebagai salah satu wanita berprestasi di Jawa Timur. Pada tahun 1984; ia meraih penghargaan dari Gubernur Jatim Wahono kala itu. Penghargaan ini diberikan kepada Sa’diyah sebagai Wanita Penggerak Sosial tingkat Jawa Timur.
Sa’diyah juga aktif melakukan kerjasama dengan pihak-pihak asing seperti Kanada dan Kuwait untuk program bantuan Panti Asuhan. Karena di samping aktif di Aisyiyah Wilayah dan bekerja di Rumah Sakit, Sa’diyah juga aktif membina Panti Asuhan Aisyiyah di Barata.
Keberhasilannya di organisasi ternyata tidak mengahalangi tugas domestiknya dalam membina keluarga. Ia sanggup mengantarkan putra putrinya yang berjumlah 14 orang (10 orang laki-laki dan 4 perempuan) menjadi orang-orang sukses menapaki masa depannya.
Sampai akhir hayatnya, ia bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga besarnya. Hingga akhirnya pada bulan April tahun 2000 Allah swt memanggilnya ke haribaan-Nya untuk selamanya. Semoga Allah membalas segala apa yang diusahakannya. Amiin





0 Tanggapan
Empty Comments