Suasana teduh di kawasan Wisata Bendungan Serut, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, tampak berbeda dari biasanya pada Kamis pagi (09/07/2026).
Deru air bendungan yang berpadu dengan rimbunnya pepohonan berkolaborasi apik dengan gelak tawa puluhan pendidik.
Hari itu, jajaran guru dan staf SMP Muhammadiyah 1 Blitar sengaja menanggalkan sejenak rutinitas ruang kelas demi menggelar agenda Family Gathering.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari tersebut bukan sekadar tamasya biasa. Di tengah tuntutan dunia pendidikan yang kian dinamis, momentum ini dimanfaatkan sebagai sarana pengisian energi baru sekaligus mempererat tali silaturahmi antar-sejawat.
Nge-grill di Tepi Bendungan
Yang menarik, konsep acara dikemas secara kasual dan mandiri, dengan agenda utama memasak bersama alias nge-grill di tepi bendungan.
Tidak ada sekat antara guru senior maupun junior. Semua membaur menjadi satu. Ada yang bertugas menyalakan kompor portabel, menyiapkan bumbu, hingga membalik lembaran daging, sosis di atas panggangan.
Asap tipis yang membubung membawa aroma gurih, mengiringi obrolan-obrolan santai yang diselingi candaan segar.
Wakil Kepala Sekolah (Waka) Bidang Kurikulum SMP Muhammadiyah 1 Blitar, Jian Mey SPd, menyatakan bahwa agenda family gathering ini merupakan inisiatif penting yang sudah direncanakan sejak jauh hari.
Menurutnya, memilih lokasi di Bendungan Serut Kabupaten Blitar adalah keputusan yang tepat untuk menyegarkan pikiran.
“Kami sengaja memilih tempat yang dekat dengan alam, namun tetap representatif untuk berkumpul. Bendungan Serut ini menawarkan ketenangan. Setelah berbulan-bulan para guru dihadapkan pada dokumen kurikulum, asesmen siswa, dan target akademis, mereka butuh refreshing yang berkualitas” ujarnya hangat.
Pererat Gotong Royong dan Komunikasi
Lebih lanjut, Waka Kurikulum menjelaskan bahwa esensi dari kegiatan nge-grill bersama ini adalah gotong royong dan komunikasi informal.
Dalam dunia sekolah, kolaborasi antar-guru tidak hanya dibangun di atas kertas atau dalam rapat-rapat resmi. Komunikasi yang cair di luar jam sekolah justru sering kali menjadi kunci solidnya sebuah tim.
“Saat nge-grill seperti ini, semua berbagi peran. Ada yang memotong daging, ada yang menyalakan kompor, ada yang menghidangkan. Ini adalah simulasi kecil dari kerja tim (teamwork) kita di sekolah. Kami ingin membangun chemistry yang lebih kuat, sehingga ketika kembali ke sekolah nanti, koordinasi antar-lini bisa berjalan jauh lebih mulus” tambahnya.
Prosesi memasak bersama ini memang berhasil mencairkan suasana. Beberapa guru yang biasanya tampil formal dengan seragam dinas di depan kelas, hari itu terlihat santai mengenakan pakaian kasual, lengkap dengan celemek panggangan.
Gelak tawa pecah saat beberapa potongan daging dirasa terlalu matang atau saat api tiba-tiba membesar akibat tetesan lemak. Momen-momen humanis seperti inilah yang menurutnya mahal dan jarang ditemukan di rutinitas harian sekolah..
Perubahan kurikulum yang dinamis, seperti implementasi Kurikulum Merdeka yang menuntut kreativitas tinggi, diakui memberikan tekanan tersendiri bagi para pendidik.
Oleh karena itu, kesiapan mental dan kebahagiaan para guru menjadi prioritas manajemen sekolah. Guru yang bahagia akan menularkan energi positif kepada para siswanya di ruang kelas.
Pelaksanaan family gathering pada Kamis (09/07/2026) ini juga dinilai sangat strategis. Waktu tersebut bertepatan dengan masa transisi menjelang dimulainya tahun ajaran baru. Setelah jeda libur semester, para guru perlu dikumpulkan kembali untuk menyamakan persepsi, visi, dan semangat sebelum menyambut kedatangan para siswa baru.
Mantapkan Fondasi Internal
Waka Kurikulum menegaskan bahwa tantangan pendidikan ke depan akan semakin kompleks. Pihak sekolah tidak hanya fokus pada capaian akademis siswa, tetapi juga pada pembentukan karakter dan digitalisasi pembelajaran. Untuk menghadapi hal tersebut, fondasi internal berupa soliditas tenaga pendidik harus dimantapkan terlebih dahulu.
“Tahun ajaran baru sudah di depan mata. Tantangan jelas berbeda, karakteristik siswa yang masuk juga pasti baru. Melalui kegiatan hari ini, kami melakukan recharge energi. Kami ingin memastikan bahwa seluruh guru SMP Muhammadiyah 1 Blitar masuk ke tahun ajaran baru dengan semangat yang penuh, pikiran yang segar, dan komitmen yang satu” papar sang Waka Kurikulum dengan optimis.
Pihak sekolah berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda rutin tahunan dengan konsep yang terus diperbarui. Sebab, investasi pada kebersamaan dan kesejahteraan mental staf pengajar diyakini akan berdampak langsung pada kualitas layanan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat Blitar.
Pemilihan Wisata Bendungan Serut sebagai lokasi acara juga mendapat apresiasi dari para peserta. Destinasi wisata yang terletak di Kabupaten Blitar ini menyuguhkan pemandangan air bendungan yang luas dengan latar belakang perbukitan hijau.
Angin sepoi-sepoi yang berembus konstan sepanjang hari berhasil mengusir hawa panas, membuat para guru betah berlama-lama duduk beralaskan tikar di bawah pohon.
Selain nge-grill, beberapa guru juga memanfaatkan momen ini untuk berfoto bersama dengan latar belakang ikon bendungan. Kedekatan yang tercipta hari itu seolah menegaskan bahwa SMP Muhammadiyah 1 Blitar bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sebuah keluarga besar yang saling mendukung satu sama lain.
Acara kemudian ditutup dengan sesi doa bersama dan makan siang massal dari hasil panggangan yang sudah disiapkan sejak pagi. Rona bahagia terpancar dari wajah-wajah para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Mereka pulang tidak hanya membawa cerita seru tentang daging yang gosong atau asap yang pedih di mata, tetapi membawa pulang semangat baru untuk kembali mengabdi, mencerdaskan anak bangsa di bumi Blitar.





0 Tanggapan
Empty Comments