“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, adalah salah satu putra terbaik bangsa. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908 dan wafat pada 24 Juli 1981, Hamka dikenal luas sebagai figur multidimensi: seorang ulama, filsuf, sastrawan, wartawan, penulis, sekaligus pendidik.
Sepanjang hidupnya, ia pernah berkecimpung dalam dunia politik melalui Partai Masyumi, dipercaya menjadi Ketua pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta mengabdikan sebagian besar waktunya untuk dakwah dan gerakan pembaruan Islam melalui Muhammadiyah.
Dedikasi besarnya diakui dunia internasional lewat penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Al-Azhar, Mesir, dan Universitas Kebangsaan Malaysia.
Untuk merawat warisan pemikirannya, Muhammadiyah mengabadikan namanya sebagai Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), sementara negara menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Dakwah Melalui Lisan, Tulisan, dan Keteladanan
Jika ada ulama yang dikenal hanya karena kekuatan ceramahnya, atau sebagian lain dikenang semata karena kedalaman kitab-kitabnya, maka Buya Hamka melampaui keduanya.
Ia dikenang karena kelisanan sekaligus keaktifan penanya, bahkan lebih dari itu: lewat keteladanan hidup.
Dakwahnya tidak hanya menggema di atas mimbar-mimbar formal, tetapi juga tetap hidup, bernyawa, dan berbicara dalam setiap lembar buku yang ditulisnya.
Bagi Muhammadiyah, Buya Hamka bukan sekadar tokoh besar di masa lalu. Ia adalah mata air pemikiran yang terus mengalir untuk menyegarkan semangat Islam Berkemajuan.
Lewat rekam jejaknya, ia membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat berarti harus mencintai ilmu, menghargai fungsi akal, sekaligus menjaga kemurnian iman.
Baginya, agama tidak boleh menjauhkan manusia dari gerbang kemajuan; justru agama harus hadir sebagai cahaya yang menerangi jalan peradaban.
Membangun Peradaban Lewat Pendidikan dan Pers
Hamka sangat memahami bahwa kemajuan umat tidak akan pernah lahir dari kemarahan, melainkan harus ditumbuhkan melalui jalur pendidikan.
Oleh karena itu, ia secara konsisten mendorong budaya membaca yang kuat, menghidupkan tradisi menulis, memantik keberanian berpikir kritis, serta mendorong lahirnya generasi baru yang menguasai ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan modern.
Baginya, Al-Qur’an adalah petunjuk sepanjang zaman yang selalu relevan untuk menjawab setiap tantangan kehidupan manusia.
Selain berkiprah sebagai ulama dan sastrawan, Buya Hamka merupakan tokoh pers yang sangat berpengaruh pada masanya.
Ia mendirikan majalah Panji Masyarakat, sebuah media dakwah dan wadah pemikiran Islam yang menjadi rujukan utama kaum intelektual Muslim kala itu.
Melalui media tersebut, Hamka membuktikan bahwa pers memiliki fungsi yang jauh lebih mulia daripada sekadar menyampaikan berita, yakni sebagai sarana mencerdaskan umat, membangun karakter bangsa, serta menyuarakan wajah Islam yang moderat, mencerahkan, sekaligus mencintai Indonesia.
Sastra yang Menggetarkan Hati dan Kelapangan Jiwa
Yang menarik, Hamka tidak membatasi ruang dakwahnya hanya pada teks-teks keagamaan yang kaku.
Novel-novel legendaris karyanya, seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, berhasil menjadi media dakwah yang dikemas secara lembut namun tetap mampu menggetarkan hati pembacanya.
Melalui karya fiksi tersebut, ia membuktikan secara nyata bahwa sastra dapat menjadi jalan setapak menuju keluhuran akhlak, dan goresan pena mampu meninggalkan jejak sejarah yang jauh lebih panjang daripada sebuah pidato.
Perjalanan hidup Buya Hamka juga mengalirkan pelajaran berharga tentang keteguhan sikap.
Terpaan fitnah, dinginnya bilik penjara, dan berbagai ujian hidup lainnya sama sekali tidak membuat ia kehilangan kejernihan berpikir ataupun keluasan hatinya.
Bahkan kepada orang-orang yang pernah menyakiti dan menzaliminya secara politik, Hamka memilih jalur memaafkan.
Sikap mulia ini mengingatkan kita semua bahwa kemuliaan sejati seorang ulama tidak hanya tampak dari seberapa luas ilmu yang dikuasainya, melainkan dari seberapa lapang jiwa yang dimilikinya.
Relevansi Warisan Hamka di Era Modern
Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk media sosial hari ini, warisan pemikiran Hamka terasa semakin relevan bagi bangsa.
Umat hari ini membutuhkan lebih banyak sosok yang gemar membaca daripada sibuk menyebarkan prasangka, individu yang lebih senang membuka ruang dialog daripada bertengkar, serta figur yang lebih suka membangun daripada sekadar mencela.
Semangat literasi yang diwariskan Hamka melalui buku-bukunya dan majalah Panji Masyarakat mengajarkan sebuah pesan kuat: bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari sebuah tulisan yang jujur, cerdas, dan mencerahkan.
Buya Hamka kini memang telah berpulang, tetapi cahaya keteladanannya tidak pernah padam.
Selama masih ada orang yang mencintai ilmu, menulis untuk menebar kebaikan, berdakwah dengan hikmah, dan mengabdi tanpa pamrih, selama itu pula semangat Hamka akan tetap hidup.
Sebagaimana pesan Al-Qur’an bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, dan sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, itulah warisan terbesar Buya Hamka—ilmu yang diamalkan, akhlak yang diteladankan, dan pengabdian yang terus menginspirasi sepanjang zaman.***





0 Tanggapan
Empty Comments