Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jatikalang menggelar Shalat iduladha 1447 Hijriah di Lapangan Bulu Tangkis RT 07 RW 01, Rabu (27/5/2026).
Sejak pagi, suasana khusyuk terasa di tengah gema takbir yang mengalun dari ratusan jamaah yang memadati lokasi salat. Dengan mengenakan pakaian terbaik, warga hadir untuk menunaikan ibadah sekaligus menyimak khutbah yang sarat makna tentang pengorbanan dan ketakwaan.
Tercatat lebih dari 350 jamaah mengikuti pelaksanaan Shalat iduladha tersebut.
Bertindak sebagai imam dan khatib, Ustadz Mohamad Abdul Rokim, S.Pd.I., M.Pd.I., menyampaikan khutbah yang menggugah kesadaran spiritual jamaah.
Dalam khutbahnya, ia mengisahkan bahwa Nabi Ibrahim merupakan sosok kaya raya yang memiliki banyak harta, termasuk unta, lembu, dan ribuan domba. Namun, Allah SWT tidak menguji Nabi Ibrahim melalui harta benda, melainkan melalui sesuatu yang paling dicintainya, yakni Nabi Ismail AS.
“Kalau hanya menyembelih puluhan unta, itu mudah. Tapi ketika yang diminta adalah anaknya sendiri, di situlah letak ujian keimanan,” ungkapnya.
Menurutnya, ujian berat tersebut juga dirasakan Siti Hajar yang harus menerima perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan setelah lama menanti kehadiran buah hati.
Keduanya menunjukkan keteladanan ketaatan melalui sikap sami’na wa atho’na atau “kami dengar dan kami taat”.
“Setiap Kita Adalah Ibrahim”
Dalam bagian khutbah yang paling menyentuh, khatib mengajak jamaah merenungkan makna terdalam ibadah Kurban.
“Setiap kita adalah Ibrahim, dan setiap Ibrahim punya Ismail. Ismailmu mungkin hartamu, jabatanmu, gelarmu, bahkan egomu…”
Ia menegaskan bahwa yang diminta Allah SWT bukan sekadar penyembelihan hewan Kurban, tetapi kemampuan manusia mengikhlaskan sesuatu yang paling dicintainya.
“Ibrahim tidak diperintah untuk membunuh Ismail. Ibrahim hanya diminta membunuh rasa kepemilikan terhadap Ismail. Karena sejatinya, semua adalah milik Allah,” lanjutnya.
Pesan tersebut membuat suasana khutbah semakin hening. Jamaah larut dalam perenungan bahwa setiap manusia memiliki “Ismail” masing-masing yang harus diuji keikhlasannya.
Khatib kemudian menguatkan pesan tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَّنَا لَ اللّٰهَ لُحُـوْمُهَا وَلَا دِمَآ ؤُهَا وَلٰـكِنْ يَّنَا لُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَـكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa esensi Kurban terletak pada ketakwaan, bukan sekadar ritual penyembelihan.
Dalam khutbahnya juga disampaikan ciri-ciri orang yang taat kepada Allah SWT, yakni taat menjalankan perintah, sabar dalam ujian, menegakkan salat, dan gemar berinfak.
Semangat iduladha juga terlihat dari tingginya partisipasi warga dalam pelaksanaan Kurban.
Ta’mir Masjid Al Hidayah dan Musholla Al Istiqomah berhasil menghimpun sejumlah hewan Kurban dari warga, lembaga pendidikan, hingga LAZISMU Sidoarjo.
Untuk kategori sapi, terdapat tiga kelompok pekurban, yakni dua sapi dari partisipasi warga dan satu sapi dari keluarga besar SMP Muhammadiyah 6 Krian.
Sementara untuk kategori kambing, partisipasi datang dari warga, lembaga pendidikan, LAZISMU Sidoarjo, hingga SD Muhammadiyah 1 Krian.
Pelaksanaan iduladha di Jatikalang tahun ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan, tetapi juga momentum memperkuat nilai ketaatan, keikhlasan, dan kepedulian sosial.
Di tengah dinginnya pagi dan hangatnya kebersamaan jamaah, pesan khutbah itu terus menggema:
Setiap manusia adalah Ibrahim. Dan setiap manusia memiliki “Ismail” yang harus diikhlaskan demi meraih ketakwaan kepada Allah SWT.





0 Tanggapan
Empty Comments