Suasana haru bercampur bangga menyelimuti ruang kelas 2 SD Muhammadiyah Manyar (SDMM). Selama tiga hari berturut-turut, mulai Senin hingga Rabu, (8–10/6/2026), sekolah yang dikenal dengan inovasinya ini sukses menggelar Student Laboratory Conference (SLC) untuk jenjang kelas 2.
Ajang tahunan ini menjadi wadah bagi 90 siswa yang tersebar di tiga kelas—2 Limas, 2 Kubus, dan 2 Prisma (ICP)—untuk unjuk kemampuan, kreativitas, serta memamerkan hasil proyek pembelajaran yang telah mereka tekuni selama semester 2. Setiap harinya, ada 10 siswa di masing-masing kelas yang tampil secara bergantian. Dalam durasi 15 menit, setiap anak harus menyajikan hasil karya, menjawab pertanyaan dari orang tua dan refleksi.
Siswa kelas reguler mempresentasikan proyek mereka menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, siswa dari kelas International Class Program (ICP) tampil memukau dengan mempresentasikan materi menggunakan bahasa Inggris penuh, serta tetap menyisipkan pembuka dan penutup berbahasa Inggris saat mempresentasikan materi Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.
Air Mata Haru dari Puisi “Ibuku Pahlawanku”
Salah satu momen paling menyentuh hati terjadi pada sesi SLC Bahasa Indonesia. Di mata pelajaran ini, siswa ditantang membuat puisi bertema orang tua dan membacakannya langsung di hadapan ayah atau ibu mereka.
Keheningan seketika pecah menjadi isak haru saat Ananda Fiona, siswi kelas 2 Prisma, membacakan puisi karyanya yang berjudul “Ibuku Pahlawanku”. Sang mama yang duduk tepat di hadapannya tak kuasa membendung air mata, terharu mendengar bait demi bait puisi yang dibacakan putrinya.
“Jujur, saya kaget dan sama sekali tidak menyangka Fiona bisa membuat puisi seindah dan semenyentuh itu. Air mata saya langsung keluar begitu saja. Rasanya campur aduk antara haru, bangga, dan bahagia melihat perkembangan putri saya yang luar biasa di SDMM ini. Terima kasih ustaz dan ustadzah yang telah membimbing Fiona.” Ujar mama Fiona penuh haru.
Menanggapi keberhasilan sesi ini, Ustadzah Heyma selaku guru Bahasa Indonesia kelas 2 menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian para siswa.
“Melalui proyek puisi ini, kami ingin anak-anak tidak hanya belajar merangkai kata, tetapi juga belajar mengekspresikan rasa cinta dan terima kasih kepada orang tua mereka. Melihat mereka berani tampil dan berhasil menyentuh hati orang tuanya adalah sebuah kebahagiaan terbesar bagi kami sebagai pendidik.”
Kejutan Bahasa Jawa: Lancar dan Bikin Orang Tua Terheran-heran
Selain sesi puisi, kejutan lain datang dari proyek Bahasa Jawa. Siswa yang memilih mata pelajaran ini memamerkan spinner gambar cerita tentang kegiatan sehari-hari.
Secara mengejutkan, anak-anak ini menyampaikan presentasi dengan bahasa Jawa yang sangat lancar. Hal ini sukses membuat orang tua mereka kagum. Pasalnya, dalam kehidupan sehari-hari di rumah, anak-anak tersebut sangat jarang berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Bahkan, beberapa siswa yang orang tuanya bukan asli suku Jawa pun mampu tampil dengan fasih tanpa canggung.
Ragam Proyek Kreatif Berdurasi 2 Pekan
Keberhasilan SLC ini tidak lepas dari kerja keras siswa selama kurang lebih dua pekan dalam mempersiapkan 13 jenis proyek dari berbagai mata pelajaran, antara lain:
Komputer: Menggambar shape di Microsoft Word
Bahasa Jawa: Membuat spinner gambar cerita kegiatan sehari-hari
Seni Rupa: Kreasi daur ulang dari tutup botol dan sedotan
Bahasa Indonesia: Menulis puisi tentang orang tua
Seni Musik: Bernyanyi dan bermain musik lagu daerah
Al-Islam: Membuat komik tentang akhlak terhadap lingkungan
Bahasa Arab: Membuat mini zoo (makets kebun binatang) hewan-hewan
Pendidikan Pancasila: Membuat spinner aturan di rumah dan di sekolah
Science Cambridge: Membuat maket Food Pyramid (Piramida Makanan)
PJOK: Menulis kandungan gizi pada makanan dan minuman
Matematika: Menyajikan data dalam bentuk diagram dan piktogram
Seni Teater: Mendongeng fabel legendaris “Singa dan Tikus”
English (Reguler): Membuat jadwal pelajaran berbentuk hewan yang lucu
English (ICP): Membuat City Scale Model (Maket Miniatur Kota)
Kegiatan Student Laboratory Conference (SLC) tahun ini kembali membuktikan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk bersinar. Melalui ruang apresiasi seperti ini, siswa kelas 2 SDMM tidak hanya belajar tentang teori di dalam kelas, melainkan juga melatih mental keberanian, kemandirian, dan keterampilan berkomunikasi yang krusial bagi masa depan mereka.
Setiap tetes air mata haru orang tua dan setiap tepuk tangan yang menggema adalah bukti nyata bahwa benih-benih pemimpin masa depan sedang tumbuh dengan indah di sekolah ini. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments