Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Prof. Din Syamsuddin: Ukhuwah Islamiyyah untuk Merawat alam, Menjaga kehidupan

Iklan Landscape Smamda
Prof. Din Syamsuddin: Ukhuwah Islamiyyah untuk Merawat alam, Menjaga kehidupan
Prof. Din Syamsuddin di Halalbihalal PDM Kota Malang. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang menggelar Halalbihalal Keluarga Besar Muhammadiyah Kota Malang pada Ahad (19/4/2026) pukul 07.00 WIB di Lanal TNI AU Kota Malang. Kegiatan Halalbihalal 1447 H ini mengangkat tema “Merawat Alam, Menjaga Kehidupan.”

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Din Syamsuddin sebagai pembicara menyampaikan bahwa Muhammadiyah turut mempopulerkan istilah halalbihalal. Sebelumnya, istilah yang digunakan adalah silaturahim Idulfitri.

Ia menjelaskan bahwa istilah halalbihalal telah digunakan Muhammadiyah sejak tahun 1924, atau 12 tahun setelah organisasi ini berdiri, sebagaimana tercatat dalam dokumen Suara Muhammadiyah. Secara makna, halalbihalal mengandung pesan bahwa siapa pun yang memiliki ganjalan terhadap saudaranya hendaknya saling menghalalkan atau memaafkan.

“Di negara-negara Muslim lainnya tidak ada tradisi halalbihalal. Salah satu tanda orang beriman adalah memberi maaf kepada saudaranya. Inilah saatnya kita saling memaafkan,” ujarnya.

Ia juga mengajak jamaah untuk saling mendoakan dengan ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum”, seraya menjelaskan bahwa praktik tersebut memiliki dasar hadis, yakni kebiasaan para sahabat yang saling mendoakan pada Idulfitri dan Iduladha, serta disetujui oleh Rasulullah.

Selain itu, ia menyampaikan ucapan “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin” sebagai bentuk doa agar menjadi insan yang berbahagia dan memperoleh kebaikan. “Ucapan-ucapan seperti ini sangat baik karena kita saling mendoakan,” tambahnya.

Din juga mengajarkan doa Rasulullah:
Allahumma la taj’alhu akhiral ‘ahdi min shiyamina iyyah, fa in ja’altahu faj’alni marhuman wa la taj’alni mahruman.

Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai yang terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menetapkannya, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku orang yang Engkau jauhkan.”

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya merajut kasih sayang sebagai inti silaturahim, khususnya bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam secara umum. Menurutnya, ukhuwah Islamiyah harus terus dijaga, dirawat, dan dikembangkan tanpa terpecah oleh perbedaan organisasi.

Ia juga mengingatkan agar warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) tidak mudah diadu domba. Ia menyinggung sejarah pada era 1950-an ketika kedua organisasi sempat berhadapan akibat provokasi pihak tertentu yang ingin melemahkan umat Islam.

Dalam konteks kekinian, Din menyoroti krisis lingkungan sebagai tantangan besar peradaban manusia. Ia menyebut berbagai istilah seperti perubahan iklim, pemanasan global, hingga global boiling sebagai tanda nyata kerusakan lingkungan yang terjadi, termasuk di Indonesia.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Kita tetap menjaga ukhuwah Islamiyah. Dengan agama lain, kita juga menghormati sebagaimana prinsip lakum dinukum waliyadin,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan etika ukhuwah Islamiyah sebagaimana dirumuskan Majelis Ulama Indonesia (MUI), salah satunya adalah menyambut sesama Muslim dengan kasih sayang, bukan kebencian atau permusuhan.

Sesuai tema kegiatan, ia mengajak seluruh peserta untuk menjaga kehidupan dan merawat alam. Ia menekankan pentingnya konsep hayatan thayyibah, yakni kehidupan yang baik sebagai fondasi untuk mewujudkan baldatun thayyibatun.

Dalam konteks internal Muhammadiyah, ia mengajak warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk memperkuat ukhuwah tanpa hasad, dengki, dan kebencian yang dapat memicu konflik organisasi.

Ia juga berbagi pengalaman saat menjabat sebagai Ketua PP Pemuda Muhammadiyah. Ia belajar bahwa dalam organisasi, perbedaan pendapat adalah hal wajar, tetapi harus disikapi dengan bijak.

“Dalam rapat boleh berdebat keras, tetapi setelah itu tetap saling merangkul. Jika ada perbedaan, jangan dibawa ke ruang publik karena dapat merusak organisasi,” pesannya.

Ia menegaskan pentingnya menjaga etika organisasi, termasuk ketika tidak sepakat dengan keputusan. Menurutnya, setelah keputusan ditetapkan, setiap anggota harus tetap menghormati dan menjalankannya.

“Kalau ada perbedaan, jangan dibawa ke media sosial atau ruang publik karena bisa membuat organisasi menjadi porak-poranda,” tegasnya.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 23/04/2026 11:04
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡