Dalam suasana yang penuh perhatian, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra Dalilah Candrawati MAg, menyampaikan tausiyah pendidikan yang menyentuh akar persoalan keberlanjutan generasi.
Pada tausiyah yang berlangsung Minggu (07/06/2026) itu, ia mengingatkan dengan tegas: kita tidak boleh mengesampingkan Anak Berkebutuhan Khusus. Mereka berhak mendapat kesempatan yang sama dan perhatian yang khusus.
Dalilah menegaskan pesan Al-Qur’an yang mendalam tentang keprihatinan jika meninggalkan generasi yang lemah—baik lemah fisik, psikologis, maupun intelektual.
Inilah yang menjadikan Aisyiyah hadir sebagai lembaga yang tekun mengembangkan potensi di akar rumput, di lapisan masyarakat yang sering luput dari jangkauan pengawasan pusat.
Keberadaan PRA (Pengurus Ranting Aisyiyah) menjadi sangat penting untuk menjangkau kelas bawah yang belum tersentuh secara optimal.
Ia mengingatkan sejarah mulia Aisyiyah. Lahirnya Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) pada 1919, yang tepat berusia 100 tahun pada 2019 lalu, merupakan bukti nyata komitmen panjang.
Bahkan di masa Belanda, TK Aisyiyah Bustanul Athfal mendapat julukan “Froebel Kindergarten ‘Aisyiyah,” karena menjadi Taman Kanak-kanak pertama di Indonesia yang diperuntukkan bagi kaum pribumi.
Mendidik Anak Sesuai Zamannya
Mengutip sabda Rasulullah SAW, “Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya,” Dra. Dalilah menyoroti tantangan pendidikan di masa kini dengan penuh kebijaksanaan.
Di era sosial media dan teknologi digital yang melaju begitu pesat, orang tua dan pendidik dituntut lebih peka. Kemajuan ini bukan untuk ditolak, melainkan dibimbing agar dapat dimanfaatkan secara positif, membawa manfaat dan bukan kerusakan.
Dalilah mengingatkan agar hadirin semua mewaspadai penyebaran berita hoax yang semakin marak. Baik generasi tua maupun muda perlu dibekali daya kritis agar tidak mudah terpancing emosi dan terpecah belah.
Pendidikan hari ini, katanya, harus mampu menjawab realitas zaman tanpa kehilangan akar nilai.
Dalam tausiah tersebut, ia menyampaikan pula Tujuan dan Nilai Dasar TK Aisyiyah Bustanul Athfal yang menjadi pedoman utama:
Tujuan TK Aisyiyah Bustanul Athfal
1. Terbentuknya insan yang bertakwa
2. Terwujudnya anak berakhlak mulia
3. Terbangunnya model psikososial anak
4. Terbentuknya multi intelegensia anak.
Nilai Dasar
1. Iman dan keyakinan yang terpancar dalam sikap
2. Ilmu yang terinternalisasi dan ditunjukkan dalam kemajuan
3. Amal yang memberi manfaat bagi dunia dan akhirat
Tujuan dan nilai-nilai ini menggambarkan visi pendidikan yang utuh. Bukan hanya mengasah kecerdasan akal, tetapi juga membentuk hati yang bertakwa, akhlak yang luhur, serta kepribadian yang sehat secara psikososial.
Anak diajak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan beramal saleh—manusia yang memberi manfaat, baik di dunia maupun di akhirat.
Menumbuhkan Akar Pengetahuan dan Toleransi pada Anak
Di samping itu, Dalilah juga menekankan sebuah pendekatan pendidikan yang sederhana namun mendalam.
Anak-anak tidak hanya diajarkan untuk berpikir kritis, tetapi juga didorong agar sering bertanya dan memelihara rasa penasaran terhadap segala hal di sekitarnya. Rasa ingin tahu itu, menurutnya, menjadi pintu utama bagi perkembangan pengetahuan mereka tentang dunia.
Dalam kesederhanaan pertanyaan-pertanyaan kecil yang muncul dari mulut anak, tersembunyi kekuatan besar. Setiap “mengapa” dan “bagaimana” yang diajukan adalah benih pengetahuan yang sedang tumbuh.
Dengan membiarkan anak bertanya leluasa, kita memberi mereka kesempatan untuk memahami dunia bukan sebagai sesuatu yang datar dan sudah jadi. Melainkan sebagai ruang yang luas, penuh misteri, dan layak dijelajahi dengan akal yang terus terasah.
Tak berhenti di sana, pendidikan ini juga meletakkan pondasi yang sangat penting: nilai toleransi terhadap perbedaan. Di tengah masyarakat yang semakin beragam, kemampuan menghargai perbedaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Dengan menanamkan sikap ini sejak dini, anak-anak dibekali kekuatan untuk tumbuh sebagai manusia yang tidak mudah terpecah oleh perbedaan suku, agama, budaya, atau pandangan.
Toleransi menjadi akar yang kuat agar mereka dapat hidup damai dan bermakna dalam lingkungan sosial yang kompleks.
Fondasi Anak Aisyiyah Bustanul Athfal
Wakil Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur menegaskan kembali pentingnya penanaman dan pembiasaan karakter pada anak.
Bukan sekadar tambahan, pembentukan karakter ini merupakan inti dari pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan generasi yang utuh, baik dari segi rohani maupun perilaku sosial.
Karakter Anak Aisyiyah Bustanul Athfal yang diidamkan mencakup empat pilar utama. Pertama, spiritualitas yang mendalam melalui penghayatan Ilahiyah.
Anak diajak mengenal dan merasakan kehadiran Tuhan bukan hanya melalui hafalan, melainkan melalui kesadaran hati yang hidup sehari-hari.
Kedua, kebaikan perilaku yang dibangun sejak dini, disertai sikap berkemajuan: berpikir kritis dan selalu suka bertanya. Rasa penasaran yang sehat ini diharapkan menjadi pendorong anak untuk terus belajar dan memahami dunia dengan akal yang terbuka.
Ketiga, nasionalisme yang kuat, penuh semangat, dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Anak diajarkan mencintai tanah airnya dengan cara yang tulus, bukan sekadar simbol, melainkan sebagai bagian dari identitas dirinya.
Keempat, semangat perdamaian yang nyata: berteman dengan siapa saja dan saling menolong tanpa pandang bulu. Ini menjadi bekal agar mereka tumbuh sebagai insan yang mampu membangun harmoni di tengah keragaman.
Melalui penekanan ini, Aisyiyah mengingatkan bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang bisa ditunda.
Ia harus ditanam dan dibiasakan setiap hari, mulai dari hal-hal kecil. Ketika spiritualitas, kebaikan, kemajuan berpikir, cinta tanah air, dan semangat perdamaian menyatu dalam diri anak, maka lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan bermanfaat bagi bangsa.
Melalui tausiah ini, Dalilah kembali mengingatkan bahwa pendidikan sejati adalah merawat seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.
Membekali mereka dengan iman, akhlak, ilmu, dan semangat berkemajuan agar mampu menghadapi zamannya dengan penuh harapan dan tanggung jawab.





0 Tanggapan
Empty Comments