Banyak orang ingin dicintai Allah sekaligus dihormati manusia, namun tidak semua mengetahui jalan yang tepat untuk meraihnya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw mengajarkan kunci sederhana namun mendalam: bersikap zuhud terhadap dunia dan tidak bergantung pada apa yang dimiliki orang lain.
Inilah prinsip hidup yang tidak hanya mendekatkan seseorang kepada cinta Allah, tetapi juga menghadirkan kemuliaan di hadapan manusia.
Konsep Utama Meraih Cinta Allah dan Manusia
Berdasarkan hadis dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, inti dari keduanya adalah melepaskan ketergantungan hati dari hal-hal yang bersifat duniawi.
Berikut redaksi hadis dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ؟ فَقَالَ: «اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
“Ada seseorang datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.’ Beliau menjawab, ‘Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Begitu pula, zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu’.” (HR Ibnu Majah: 4102. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 944 mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Hati kita lebih yakin dengan balasan di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita.
Orang yang zuhud, ketika bersedekah tidak takut miskin, karena dia yakin balasan Allah jauh lebih baik. Bahkan saat tertimpa musibah, dia lebih berharap pahala daripada sekadar kembalinya kenikmatan dunia.
Jadi, jika ingin dicintai Allah dan manusia, latih hati untuk tidak bergantung pada dunia. Jadikan akhirat sebagai tujuan utama. Karena di situlah letak ketenangan dan kemuliaan yang sebenarnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments