Di tengah cuaca panas yang menyengat, suasana khusyuk tampak menyelimuti Green Hall SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo pada Senin (26/10/2026). Ratusan warga sekolah, mulai dari guru hingga para siswa, berkumpul untuk melaksanakan Salat Sunnah Istisqa (salat minta hujan) secara berjamaah.
Kegiatan ibadah ini mengusung tema “Muhasabah dan Perbanyak Istighfar: Mengapa Hujan Belum Turun?”. Pelaksanaan salat ini dipimpin langsung oleh Ust. Ya’qub Chamidi, S.S., M.Pd. sebagai imam, sementara khutbah disampaikan oleh Ust. Muhammad Basir, S.Pd.I., M.Ag. sebagai khatib.
Tata Cara Sesuai Tuntunan Tarjih Muhammadiyah
Sebelum salat dimulai, Ust. Ya’qub memberikan penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan Salat Istisqa kepada para jamaah. Beliau memaparkan bahwa ibadah ini dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan ketentuan takbir tambahan yang khas.
“Pada rakaat pertama dilakukan sebanyak 8 kali takbir, sedangkan pada rakaat kedua sebanyak 6 kali takbir. Setiap mengucap takbir, tangan diangkat sesuai dengan putusan tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” jelas Ust. Ya’qub di hadapan para jamaah.
Pesan Khatib: Muhasabah dan Kembali kepada Allah
Usai menunaikan salat dua rakaat, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian khutbah oleh Ust. Muhammad Basir. Dalam khutbahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri atas musibah kekeringan yang sedang melanda, serta merenungkan apakah kondisi ini terjadi akibat kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat manusia.
Ust. Basir mengajak jamaah untuk senantiasa mengamalkan tiga hal penting:
- Beristigfar memohon ampunan kepada Allah SWT.
- Bertaubat secara sungguh-sungguh atas segala khilaf.
- Istiqomah atau kontinu dalam berbuat kebaikan, dengan harapan kelak dapat meraih ridha-Nya dan masuk surga.
Rangkaian ibadah ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh sang khatib. Dalam momen tersebut, Ust. Basir juga mempraktikkan sunnah setelah Salat Istisqa, yakni membalikkan selendang atau sorban di pundak. Sorban yang semula berada di bahu kanan dibalik dan dipindahkan ke kiri, di mana bagian yang sebelumnya di luar menjadi di dalam, dan posisi atas menjadi di bawah, sebagai simbol perubahan nasib dari kekeringan menuju rahmat Allah SWT.
Harapan Guru dan Siswa
Pelaksanaan salat Istisqa ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga sekolah. Guru kelas, Intan Oktania Riza, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi sarana bersama untuk menundukkan hati memohon rahmat Ilahi.
“Dengan melaksanakan salat Istisqa, kami semua menundukkan hati dalam doa, memohon rahmat dan keberkahan dari Allah SWT. Semoga setiap doa yang terucap menjadi jalan turunnya hujan yang membawa kebaikan dan keberkahan,” ungkap Intan.
Senada dengan sang guru, salah satu siswa SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Kheyla Kertanegara, turut menyampaikan harapan tulusnya usai mengikuti kegiatan tersebut.
“Semoga setelah melaksanakan salat Istisqa ini segera turun hujan sehingga panasnya tidak terlalu menyengat, dan semoga bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi bisa segera mereda,” pungkas Kheyla penuh harap. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments