Transformasi budaya serta perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang berlangsung di tengah menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) menjadi tantangan besar yang harus dijawab dunia pendidikan.
Hal ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5/2026), yang diikuti ribuan dosen dan karyawan kampus putih.
Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menjadi respons terhadap perubahan, tetapi harus menjadi solusi atas berbagai persoalan global.
Nazar, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa tantangan global tidak lagi dapat dihadapi dengan pendekatan pendidikan konvensional. Keterbatasan sumber daya alam di tengah meningkatnya kebutuhan manusia menjadi ancaman serius yang menuntut perubahan paradigma pendidikan.
“Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa hal tersebut hanya dapat dicapai melalui peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam arah pengembangannya, Nazar juga mengaitkan pendidikan modern dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara.
Menurutnya, filosofi pendidikan nasional tersebut harus diterjemahkan secara kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis, tetapi menjadi kekuatan transformasi sosial yang nyata.
Untuk mewujudkan visi tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan:
- Service Excellence Hub — peningkatan kualitas layanan pendidikan
- Industry Solution Partner — menjawab kebutuhan nyata dunia industri
- Innovation and Talent Incubator — mendorong lahirnya inovasi dan talenta unggul
“Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat.
Dalam rangkaian peringatan Hardiknas, UMM juga memberikan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi, antara lain:
- Dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak
- Peraih rekor MURI tahun 2026
- Dosen dengan masa pengabdian 25 tahun
- Humas terbaik tingkat fakultas dan program studi
- Mahasiswa berprestasi tingkat universitas
Momentum Hardiknas di UMM tahun ini menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa berjalan dalam pola lama (status quo). Perguruan tinggi dituntut untuk lebih kritis, responsif, dan solutif dalam menghadapi tantangan global.
Pendidikan harus hadir sebagai jawaban nyata, bukan sekadar wacana.





0 Tanggapan
Empty Comments