Dalam operasi pencarian dan pertolongan, keberanian saja tidak cukup. Seorang relawan harus mampu membaca medan, menentukan arah, mengambil keputusan, berkomunikasi, bekerja dalam tim, sekaligus menjaga keselamatan korban dan tim penolong.
Kemampuan itulah yang ditempa dalam Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) SAR Madya Jungle Rescue yang digelar Lembaga Resiliensi Bencana (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah di kawasan Gunung Telon, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo.
Sebanyak 15 relawan SAR Muhammadiyah dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah mengikuti pelatihan selama lima hari, Rabu-Ahad (23-27/9/2026).
Gunung Telon dipilih bukan sekadar sebagai tempat pelatihan. Karakter hutan dan perbukitan di kawasan tersebut menjadi medan bagi peserta untuk menguji kemampuan membaca situasi lapangan, melakukan navigasi, bertahan hidup, hingga menjalankan pencarian dan pertolongan dalam kondisi yang penuh tantangan.
Sekretaris MDMC PWM Jawa Tengah Huda Khoirun Nahar mengatakan, peserta yang mengikuti diklat merupakan relawan yang sebelumnya telah memiliki dasar pengetahuan dan keterampilan SAR, khususnya di medan hutan dan rimba.
“Kami sedang menempa para relawan Muhammadiyah yang sudah memiliki dasar hutan rimba agar dapat memperbaiki dan meningkatkan ilmunya, sehingga lebih profesional dalam penanganan darurat bencana yang ada di Jawa Tengah maupun di Indonesia,” kata Huda.
Menurut dia, peningkatan kompetensi penting karena kondisi geografis Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi.
Situasi yang membutuhkan operasi pencarian dan pertolongan juga tidak selalu berupa bencana alam, tetapi dapat berupa kecelakaan, orang hilang, maupun keadaan darurat di wilayah dengan medan sulit.
“Dalam situasi tertentu, relawan yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian dapat menjadi unsur awal yang membantu penanganan sebelum dukungan dari tim lain tiba,” terang Huda.
Karena itu, relawan SAR tidak cukup hanya memiliki semangat kerelawanan. Mereka membutuhkan pengetahuan, keterampilan teknis, kedisiplinan, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan kondisi lapangan.
Ditempa dengan Pelatihan Berbasis Kompetensi
Huda Khoirun Nahar menjelaskan, Diklat SAR Madya Muhammadiyah Jawa Tengah menggunakan pendekatan Competency Based Training (CBT) atau pelatihan berbasis kompetensi.
Ada tiga aspek yang menjadi perhatian: pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Peserta tidak hanya menerima materi di ruang belajar. Pengetahuan yang diperoleh langsung diuji melalui simulasi dan latihan lapangan.
“Materinya cukup beragam. Peserta mendapatkan pembekalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan serta fikih kebencanaan sebagai landasan nilai dalam menjalankan aktivitas kemanusiaan,” terangnya.
Materi teknis meliputi Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) atau Medical First Response (MFR), manajemen perjalanan gunung dan hutan, pemahaman iklim dan medan, navigasi darat, komunikasi lapangan, serta teknik evakuasi pada medan sulit atau High Angle Rescue Technique (HART).
“Peserta juga mendapatkan materi survival, botani dan zoologi praktis, E-SAR (Search and Rescue Explorer), serta pembinaan fisik,” kata Huda.
Metode pembelajarannya tidak berhenti pada penyampaian teori. Peserta diajak melalui studi kasus dan analisis operasi, simulasi lapangan, latihan berulang, praktik lapangan terpadu, pembelajaran kolaboratif, serta refleksi dan evaluasi melalui After Action Review.
“Dengan pola tersebut, setiap materi diarahkan agar dapat digunakan dalam situasi operasi yang menuntut ketepatan, kecepatan, keselamatan, dan koordinasi,” ujarnya.
Membaca Medan, Menentukan Langkah
Huda juga mengungkapkan, salah satu kemampuan penting yang dilatih adalah navigasi darat. Dalam operasi SAR di kawasan hutan dan pegunungan, kemampuan membaca peta tidak bisa dipisahkan dari kemampuan memahami kondisi nyata di lapangan.
“Di Gunung Telon, peserta tidak hanya mengenali simbol dan informasi pada peta. Mereka dituntut menghubungkan informasi tersebut dengan karakter medan yang dihadapi.,” kataya
Kemampuan itu, timpal dia, diperlukan untuk menentukan arah perjalanan, memperkirakan kondisi jalur, memilih rute, sekaligus mempertimbangkan keselamatan personel selama operasi.
“Kesalahan membaca medan dapat memengaruhi efektivitas pencarian. Karena itu, navigasi menjadi salah satu kompetensi penting bagi relawan SAR tingkat madya,” jelas Huda.
Peserta juga dilatih melakukan teknik pencarian melalui pendekatan Search and Rescue Explorer (E-SAR) agar mampu menjalankan pencarian secara sistematis dan terkoordinasi.
SAR Bukan Kerja Satu Orang
Menurut Huda, operasi pencarian dan pertolongan hampir selalu membutuhkan kerja tim. Komunikasi yang jelas, pembagian tugas, koordinasi antarpersonel, serta kemampuan mengambil keputusan menjadi bagian yang tidak kalah penting dari keterampilan teknis.
Karena itu, peserta tidak hanya diuji secara individual. Mereka juga mengikuti latihan kolaboratif dan simulasi yang menempatkan mereka dalam situasi yang membutuhkan kerja sama.
“Kemampuan menganalisis situasi menjadi salah satu kompetensi yang ditargetkan. Peserta diharapkan mampu mengenali kondisi lapangan, mengidentifikasi kebutuhan, memperhitungkan risiko, lalu menentukan langkah sesuai situasi yang dihadapi,” papar dia.
Keselamatan juga menjadi perhatian utama. Setiap operasi SAR memiliki potensi risiko. Relawan harus memahami batas kemampuan personel, kondisi medan dan cuaca, kebutuhan logistik, serta keselamatan korban maupun tim penolong.
Huda menambahkan, diklat tersebut tidak hanya membangun kemampuan individu. Ada tujuan lain yang tak kalah penting: memperkuat jejaring SAR Muhammadiyah di Jawa Tengah.
Peserta berasal dari berbagai kabupaten/kota. Pertemuan dalam satu pelatihan menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi lintas daerah.
“Jejaring itu penting ketika sebuah kondisi kedaruratan membutuhkan dukungan personel dari wilayah lain,” jelasnya.
Dengan kompetensi yang semakin seragam, relawan dari berbagai daerah diharapkan dapat bekerja lebih terpadu ketika berada dalam satu operasi.
Kesamaan pemahaman mengenai prosedur, komunikasi, teknik pencarian, evakuasi, dan keselamatan menjadi modal untuk membangun pola kerja yang lebih terkoordinasi.
Huda berharap pelaksanaan diklat selama lima hari tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang nantinya menjadi penerima manfaat kerja-kerja kemanusiaan para relawan.
“Harapan kami, dengan pelaksanaan kegiatan ini, kami bisa memberikan yang terbaik kepada penerima manfaat nantinya,” ujarnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments