Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SD Mudipat Target Luncurkan 1.000 Judul Buku pada Milad ke-114 Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
SD Mudipat Target Luncurkan 1.000 Judul Buku pada Milad ke-114 Muhammadiyah
Kepala SD Mudipat Edy Susanto menyampaikan sambutan dalam peluncuran dan bedah buku guru dan siswa. Foto: Mudipat
pwmu.co -

Komitmen SD Muhammadiyah 4 Surabaya (Mudipat) dalam membangun budaya literasi terus diperkuat. Sekolah yang dikenal sebagai salah satu sekolah Muhammadiyah unggulan di Kota Surabaya itu, menargetkan peluncuran sebanyak 1.000 judul buku pada momentum Milad ke-114 Muhammadiyah yang akan diperingati pada November 2026 mendatang.

Program ambisius tersebut disampaikan Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya, Edy Susanto, M.Pd., dalam acara peluncuran dan bedah buku massal yang digelar di Auditorium The Millennium Building (TMB) lantai 4, Gedung Din Syamsuddin, Kamis (18/6/2026).

Menurut Edy, target penerbitan seribu judul buku merupakan bagian dari upaya sekolah untuk memperkuat gerakan literasi sekaligus menumbuhkan tradisi menulis di lingkungan pendidikan.

“Saya sudah merevisi RAB (Rencana Anggaran Belanja) sekolah. Insya Allah akan kita wujudkan peluncuran seribu judul buku itu sebagai upaya untuk menguatkan gerakan literasi di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Pria yang baru saja dilantik untuk ketiga kalinya sebagai Kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya tersebut menjelaskan, program tersebut tidak hanya melibatkan guru dan siswa, tetapi juga menggandeng berbagai unsur yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan Mudipat.

Di antaranya adalah para alumni, wali murid, serta mitra sekolah yang selama ini turut berkontribusi dalam mendukung perkembangan dan kemajuan lembaga pendidikan tersebut.

“Kita memiliki sekitar 150 tenaga pendidik, ribuan alumni, serta berbagai mitra yang selama ini sangat membantu kemajuan sekolah. Semua potensi itu akan kita libatkan,” kata Edy.

Secara teknis, pelaksanaan program ini dipercayakan kepada Mulyanto, salah seorang guru Mudipat. Menurut Edy, pihak sekolah memberikan ruang seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi melalui karya tulis.

Beragam genre buku akan diterima dalam program tersebut. Mulai dari kumpulan cerpen, puisi, novel, buku motivasi, buku keterampilan (how to), hingga berbagai bentuk karya lainnya.

“All genre. Kita memberikan kebebasan kepada mereka yang berminat dalam program ini. Batas minimalnya sekitar 58 hingga 60 halaman,” tegasnya.

Menjadi Gerakan Literasi Bersama

Program penerbitan 1.000 judul buku itu mendapat apresiasi dari Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Surabaya, Ah. Zaini, M.Pd. Dalam sambutannya, ia mengaku bangga atas konsistensi Mudipat dalam menjaga dan mengembangkan ekosistem literasi di sekolah.

Menurutnya, apa yang dilakukan SD Muhammadiyah 4 Surabaya merupakan langkah yang tidak biasa dan patut menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lainnya.

“Ini luar biasa. Waktu mendengar pidato Pak Edy tadi, saya jadi kepingin ikut menulis buku juga,” ungkapnya yang disambut tepuk tangan para peserta.

Zaini kemudian mengenang masa-masa awal dirinya menjadi guru di SD Muhammadiyah. Saat itu, kondisi sekolah belum berkembang seperti sekarang. Namun semangat untuk berprestasi telah tumbuh sejak lama.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia bercerita, suatu ketika SD Muhammadiyah 4 Surabaya mengikuti kompetisi antarsekolah dan berhasil meraih salah satu gelar juara. Kemenangan tersebut disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh warga sekolah.

“Waktu itu antusiasmenya luar biasa. Kita sampai membaca takbir berkali-kali seperti kemenangan dalam Perang Badar,” kenangnya sambil tersenyum.

Zaini juga mengingatkan pentingnya budaya menulis dalam perspektif Islam. Ia mengutip firman Allah dalam Surat Al-Qalam ayat pertama, “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.”

Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada pena dan aktivitas menulis. Bahkan, Allah bersumpah dengan menyebut pena sebagai simbol ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.

“Surat Al-Qalam mengajarkan kepada kita bahwa menulis bukan sekadar aktivitas biasa. Allah sendiri memuliakan pena dan apa yang ditulis manusia. Artinya, tradisi literasi merupakan bagian dari perintah agama sekaligus fondasi kemajuan sebuah peradaban,” ujar Zaini.

Literasi sebagai Jalan Membangun Peradaban

Lebih lanjut, Zaini menilai berbagai karya yang telah lahir dari tangan para guru dan siswa Mudipat menjadi bukti bahwa budaya literasi di sekolah tersebut bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi tradisi yang hidup dan terus melahirkan prestasi.

Baginya, membiasakan anak-anak menulis sejak usia dini merupakan investasi penting dalam membangun peradaban bangsa.

“Ini adalah langkah konkret dalam membangun peradaban. Ketika anak-anak kita sejak dini sudah dibiasakan menulis, dan para gurunya menjadi teladan dengan merilis tiga buku sekaligus, maka spirit inspirasi dan prestasi itu tidak akan pernah berhenti,” ujarnya.

Program penerbitan 1.000 judul buku yang dicanangkan SD Muhammadiyah 4 Surabaya menjadi salah satu ikhtiar besar dalam menumbuhkan generasi pembelajar sekaligus penulis.

Dengan melibatkan seluruh ekosistem sekolah, Mudipat berharap gerakan literasi tidak hanya melahirkan karya-karya baru, tetapi juga membentuk budaya berpikir kritis, kreatif, dan produktif di kalangan siswa maupun masyarakat.

Jika target tersebut tercapai, maka peluncuran seribu judul buku pada Milad ke-114 Muhammadiyah mendatang akan menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah gerakan literasi di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/06/2026 11:24
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu