Selasa, 25 Agustus 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 09.30. Pagi itu, sebuah panggilan masuk ke handphone saya. Di seberang sana terdengar suara sahabat saya, Margo Utomo, Kepala Sekolah sebuah SMA di Nganjuk.
“Pak, nanti siang diajak Cak Qohar ngopi dan makan siang bersama teman-teman di Lamongan.”
Saya tersenyum. Nama Dr. Abdul Qohar AF., S.H., M.H. bukanlah nama yang asing bagi saya. Ia bukan sekadar sahabat, tetapi bagian dari perjalanan panjang kehidupan yang kami lalui bersama sejak masa SMP Negeri 2 hingga SMAN 1 Sukodadi Lamongan.
Persahabatan seperti ini tidak lahir dari jabatan, apalagi dari kepentingan. Ia tumbuh dari perjalanan panjang, dari bangku sekolah, dari tawa masa muda, dari cerita-cerita sederhana, dan dari pengalaman hidup yang kami lewati bersama.
Cak Qohar—begitu saya biasa menyapanya—memiliki kebiasaan yang sudah berlangsung lama. Setiap Ramadan, ia berusaha mengumpulkan kembali teman-teman lama untuk berbuka puasa bersama.
Setelah Idulfitri, tradisi itu berlanjut dalam bentuk halal bihalal. Seolah-olah ada kesepakatan yang tidak pernah tertulis: sejauh apa pun perjalanan hidup membawa kita, jangan pernah kehilangan jalan untuk kembali kepada persahabatan.
Kini, perjalanan karier Cak Qohar telah membawanya ke tempat yang tinggi. Berkiprah di Kejaksaan Agung hingga menjadi Direktur Penyidikan Jampidsus, kemudian dipercaya memimpin sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, tentu merupakan capaian yang luar biasa.
Namun, yang menarik bukanlah setinggi apa jabatan yang telah dicapainya.
Yang menarik adalah bagaimana ia tetap menjadi dirinya sendiri.
Di tengah kesibukan, tanggung jawab, dan kedudukan yang semakin besar, ia masih mau duduk bersama kami di rumah makan sederhana. Tidak ada meja khusus.
Tidak ada jarak. Tidak ada protokol. Tidak ada pembicaraan tentang siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Yang ada hanya sahabat.
Di meja makan itu, batas-batas sosial seperti menghilang. Ada anggota DPRD. Ada rektor. Ada kepala desa. Ada perangkat desa. Ada pensiunan. Ada PNS. Ada pengusaha. Ada petani. Bahkan ada sahabat yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek.
Kami duduk dalam satu lingkaran yang sama. Kami tertawa dengan lelucon yang sama. Kami saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.
Dan pada saat itulah saya kembali memahami satu hal penting: jabatan ternyata tidak pernah menjadi ukuran sejati sebuah persahabatan.
Seseorang boleh menjadi pejabat tinggi, tetapi tetap rendah hati. Seseorang boleh menjadi anggota legislatif, tetapi tetap merasa sebagai bagian dari masyarakat biasa.
Seseorang boleh menjadi rektor, kepala sekolah, pengusaha, atau pejabat pemerintahan, tetapi ketika duduk bersama sahabat-sahabat lama, semua kembali menjadi manusia biasa yang memiliki cerita, kenangan, kegembiraan, dan persoalan masing-masing.
Cak Qohar adalah salah satu contoh bahwa keberhasilan tidak harus membuat seseorang menciptakan jarak.
Justru semakin tinggi seseorang berdiri, semakin penting baginya untuk tetap menengok ke bawah—melihat sahabat-sahabatnya, melihat orang-orang yang pernah berjalan bersamanya, terutama mereka yang mungkin dalam perjalanan hidupnya “masih belum beruntung.”
Saya kira di situlah letak kemuliaan sebuah persahabatan. Bukan hanya hadir ketika kita sama-sama berhasil.
Tetapi tetap saling menguatkan ketika sebagian dari kita sedang berada dalam perjalanan panjang menuju keberuntungan.
Siang itu kami berbincang gayeng. Cerita mengalir begitu saja. Ada cerita tentang masa sekolah, pengalaman hidup, keluarga, pekerjaan, politik, pemerintahan, dan tentu saja cerita-cerita lucu yang membuat meja makan berkali-kali pecah oleh tawa.
Kami tidak sedang membahas bagaimana menjadi orang besar. Kami justru sedang menikmati bagaimana menjadi manusia biasa.
Secangkir kopi terasa lebih nikmat ketika diminum bersama sahabat. Sepiring makanan sederhana terasa lebih istimewa ketika dinikmati dalam suasana penuh keakraban.
Di rumah makan kelas rumahan itu, saya justru merasakan sesuatu yang mungkin sulit ditemukan di ruang-ruang resmi: ketulusan.
Tidak ada kamera yang harus disiapkan. Tidak ada pidato yang harus disampaikan. Tidak ada agenda politik yang harus diputuskan.
Hanya ada persahabatan. Dan mungkin, justru karena itulah pertemuan tersebut menjadi begitu berharga.
Saya kemudian berpikir, perjalanan hidup pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak jabatan yang pernah kita duduki, berapa banyak penghargaan yang pernah kita terima, atau seberapa besar kekuasaan yang pernah berada di tangan kita.
Pada suatu titik, manusia akan kembali kepada pertanyaan yang sederhana: Siapa yang masih mau duduk bersama kita ketika semua atribut dilepas?
Siapa yang masih tertawa bersama kita ketika jabatan tidak lagi menjadi pembicaraan?
Siapa yang tetap memanggil kita dengan nama kecil dan sapaan lama, bukan dengan gelar yang melekat di depan nama?
Dan siapa yang tetap membuka pintu persahabatan kepada mereka yang perjalanan hidupnya belum seberuntung kita? Mungkin itulah makna terdalam dari pertemuan kami hari itu.
Cak Qohar telah mengajarkan, tanpa perlu banyak kata, bahwa kesuksesan tidak seharusnya membangun tembok, tetapi justru memperpanjang meja tempat kita berbagi.
Karena pada akhirnya, kita semua berasal dari tempat yang sama: manusia yang membutuhkan sahabat.
Kami datang dari perjalanan hidup yang berbeda. Nasib membawa kami ke profesi dan ruang pengabdian yang berbeda. Ada yang menjadi pejabat, akademisi, politisi, birokrat, kepala desa, pengusaha, petani, pensiunan, hingga tukang ojek.
Tetapi persahabatan membuat kami menemukan kembali kesamaan itu. Kami adalah teman-teman lama. Kami pernah tumbuh bersama. Kami pernah bermimpi bersama. Dan hari ini, kami masih bisa tertawa bersama.
Betapa indahnya persahabatan yang tidak selesai hanya karena jarak dan waktu. Hari itu, saya pulang bukan hanya dengan kenyang karena makan siang. Saya pulang membawa rasa syukur. Syukur karena masih dipertemukan dengan sahabat-sahabat lama.
Syukur karena di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar posisi, masih ada orang-orang yang memilih merawat persaudaraan.
Dan syukur karena kami masih diberi kesempatan untuk duduk bersama, saling bercerita, saling menguatkan, lalu tertawa seperti anak-anak sekolah yang dahulu pernah duduk bersama di bangku SMP Negeri 2 dan SMAN 1 Sukodadi Lamongan.
Barangkali itulah arti pulang yang sesungguhnya. Bukan kembali ke sebuah tempat, tetapi kembali kepada orang-orang yang membuat kita merasa menjadi diri sendiri.
Secangkir kopi boleh habis. Sepiring makanan boleh tandas. Pertemuan siang itu akhirnya selesai. Tetapi persahabatan semoga tidak pernah mengenal kata selesai.
Sebab hidup akan terus berjalan, jabatan akan berganti, usia akan bertambah, dan waktu akan membawa kita ke tempat yang berbeda-beda.
Namun satu hal yang semoga tetap tinggal: persaudaraan. Dan ketika suatu hari nanti kita kembali duduk di meja yang sama, semoga kita masih bisa berkata dengan ringan:
“Seperti dulu, ya, Cak.”
Lalu kita tertawa bersama. Karena pada akhirnya, yang paling mahal dalam hidup bukanlah jabatan, melainkan sahabat yang tetap hadir ketika kita sudah tidak membutuhkan apa-apa dari satu sama lain. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments