Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Perjuangan di Balik Berdirinya TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 40 PPS dan KB Cahaya ‘Aisyiyah PPS

Iklan Landscape Smamda
Kisah Perjuangan di Balik Berdirinya TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 40 PPS dan KB Cahaya ‘Aisyiyah PPS
Kisah Perjuangan di Balik Berdirinya TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 40 PPS dan KB Cahaya ‘Aisyiyah PPS
pwmu.co -

Berdirinya sebuah institusi pendidikan tidak pernah lepas dari kisah perjuangan panjang. Hal tersebut tergambar jelas dalam perjalanan lahirnya TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 40 PPS dan KB Cahaya ‘Aisyiyah PPS, yang berawal dari semangat swadaya para penggerak ‘Aisyiyah di tingkat lokal.

Perjalanan ini dimulai dari sebidang tanah wakaf yang diperuntukkan bagi pendidikan anak usia dini. Dari titik awal tersebut, langkah besar dimulai melalui musyawarah yang digelar di Masjid At-Taqwa, yang melibatkan lima tokoh perempuan penggerak: Ibu Fitria (Ketua), Ibu Muslimah (Sekretaris), Ibu Juju, Ibu Dia, dan Ibu Azizah.

Di masa awal, keterbatasan menjadi tantangan utama. Ibu Muslimah mengenang bagaimana mereka harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar sekolah.

“Kami harus turun langsung mencari bangku dan seragam sampai ke Surabaya menggunakan kendaraan bantuan dari Pak Warno,” ujarnya menceritakan perjuangan masa itu.

Perjalanan dari Gresik ke Surabaya menjadi bagian dari ikhtiar panjang demi menghadirkan fasilitas pendidikan yang layak bagi anak-anak.

Keterbatasan dana juga mendorong kreativitas para pengurus. Alih-alih membeli seragam jadi, mereka memilih untuk menjahit sendiri.

“Karena biaya terbatas, seragam sekolah kami jahit sendiri agar lebih hemat,” imbuhnya.

Tantangan lain muncul dari keterbatasan tenaga pendidik. Di masa awal operasional, pergantian guru sering terjadi karena kondisi yang belum stabil.

Situasi ini membuat para penggerak harus mengambil peran ganda. Ibu Fitria, Ibu Hari, dan Ibu Muslimah tidak hanya mengurus administrasi, tetapi juga turun langsung menjadi asisten guru di kelas ketika dibutuhkan.

Semangat gotong royong dan pengabdian menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah keterbatasan.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan layanan pendidikan anak usia dini semakin berkembang. Dari sinilah muncul gagasan untuk mendirikan Kelompok Bermain (KB) Cahaya ‘Aisyiyah.

SMPM 5 Pucang SBY

Awalnya, kegiatan TPA dilaksanakan di masjid. Namun, kendala kebersihan menjelang waktu Magrib mendorong ide pembangunan gedung baru di belakang masjid.

Gedung tersebut akhirnya resmi difungsikan sebagai KB Cahaya ‘Aisyiyah PPS pada tahun 2018, dengan pengelolaan yang dilanjutkan oleh ibu-ibu ‘Aisyiyah ranting di bawah koordinasi Ibu Juju.

Di balik berbagai keterbatasan, dukungan lingkungan menjadi faktor penting yang menguatkan perjalanan lembaga ini.

Drs. Muhtamil Pranoto mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan dari berbagai pihak.

Pemerintah desa memberikan izin penuh, sementara pihak perumahan turut mendukung dengan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama.

Sinergi antara masyarakat, organisasi, dan pemerintah inilah yang membuat TK ABA 40 PPS dan KB Cahaya ‘Aisyiyah PPS mampu bertahan dan berkembang hingga saat ini.

Kisah ini bukan sekadar sejarah berdirinya sekolah, tetapi juga cerminan nilai perjuangan, kemandirian, dan kepedulian sosial.

Dari keterbatasan lahir kekuatan. Dari kesederhanaan tumbuh harapan.

TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 40 PPS dan KB Cahaya ‘Aisyiyah PPS menjadi bukti bahwa pendidikan dapat tumbuh dari semangat kolektif masyarakat yang tulus ingin mencerdaskan generasi bangsa.

Revisi Oleh:
  • Satria - 04/05/2026 09:50
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡