Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Inovasi Literasi Akademik bagi Pendidikan Inklusif di Era Digital: Membangun Sekolah Ramah, Adaptif, dan Berkemajuan”.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 UMM pada Sabtu (23/5) tersebut menghadirkan akademisi, praktisi, serta pemerhati pendidikan untuk membahas penguatan pendidikan inklusif di tengah transformasi digital.
Seminar ini digelar sebagai respons terhadap tantangan pemerataan akses teknologi dalam dunia pendidikan. Transformasi digital dinilai membawa peluang sekaligus tantangan bagi penyelenggaraan pendidikan inklusif karena belum seluruh peserta didik memiliki akses yang sama terhadap teknologi.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., yang diwakili oleh Ir. Moch. Abduh, M.S., Ed., Ph.D., menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan berbagai kebijakan strategis guna memperkuat sistem pendidikan inklusif yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Pemerintah saat ini terus memastikan agar arah kebijakan pendidikan kita mampu menjembatani kebutuhan peserta didik yang beragam melalui pemanfaatan inovasi teknologi secara optimal di sekolah,” tegas Abduh dalam sesi pemaparannya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa pendidikan inklusif harus menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang setara dan bebas dari diskriminasi.
“Kita sebagai akademisi harus berupaya keras menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, yakni memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial maupun kondisi fisik,” ungkap Salis mewakili Rektor UMM.
Berbagai isu terkait pendidikan inklusif juga dibahas oleh para narasumber. Assoc. Prof. Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si., Ph.D. dan Prof. Dr. Khozin, M.Si., mengulas pentingnya layanan digital terpadu serta kebijakan pendidikan inklusif di Jawa Timur.
Adapun Dr. Suharsiwi, S.Pd., M.Pd., menyoroti peran keluarga dalam mendukung keberhasilan pendidikan inklusi. Menurutnya, keterlibatan aktif orang tua menjadi faktor penting yang tidak dapat dipisahkan dari peran tenaga pendidik di sekolah.
“Penerapan pendidikan inklusif nyatanya tidak bertumpu pada fasilitas sekolah semata, melainkan sangat membutuhkan keterlibatan aktif dan sinergi berkelanjutan dari orang tua di rumah,” urainya.
Sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat implementasi pendidikan inklusif, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Direktorat Sains dan Teknologi UMM.
Selain itu, Magister Psikologi UMM turut menjalin kerja sama dengan Penerbit Erlangga Cabang Malang. Kepala Cabang Erlangga Malang, Dodi Wahyudi, menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor penerbitan dalam mendukung penguatan literasi akademik.
“Kami berkomitmen penuh membersamai perguruan tinggi guna menyediakan bahan literasi yang ramah dan berkualitas bagi seluruh elemen warga sekolah,” tuturnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD) SILLA MUTU yang membahas berbagai tantangan implementasi pendidikan inklusif di lapangan.
Melalui kegiatan ini, UMM bersama berbagai pemangku kepentingan menunjukkan komitmen untuk mendorong terciptanya pendidikan yang lebih inklusif. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, penerbit, dan masyarakat diharapkan mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang ramah, adaptif, dan berkemajuan di era digital.





0 Tanggapan
Empty Comments