Krisis tidak selalu dapat dicegah. Namun, pelaku usaha dapat mempersiapkan organisasi agar tetap mampu menjalankan fungsi-fungsi penting ketika gangguan benar-benar terjadi.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam webinar Sumu Catalyst bertajuk “Situasi Boleh Krisis, Tapi Bisnis Harus Mampu Bertahan” yang digelar Serikat Usaha Muhammadiyah (Sumu) bersama Center for Quality, Resilience and Sustainability (CQRS) Indonesia pada Senin (24/8/2026).
Webinar tersebut membahas strategi dan implementasi Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU) atau Business Continuity Management (BCM). Kegiatan menghadirkan Founder CQRS Indonesia, Yuliasman Chaniago, sebagai narasumber.
Yuliasman juga merupakan pendiri Sikabu Global Ventures, ObrolBisnis Media Network, mauapa.id, dan Krowde.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa manajemen risiko dan Business Continuity Management memiliki fungsi yang berbeda. Manajemen risiko berfokus pada upaya mencegah dan mengendalikan gangguan, sedangkan BCM memastikan fungsi bisnis prioritas tetap berjalan ketika gangguan benar-benar terjadi.
“Ketahanan bisnis bukan sekadar memiliki prosedur ketika krisis terjadi, tetapi membangun kapabilitas agar organisasi mampu tetap beroperasi ketika kondisi normal terganggu,” ujarnya.
Menurut Yuliasman, organisasi modern dapat menghadapi berbagai gangguan yang kemungkinan terjadinya relatif rendah, tetapi berpotensi menimbulkan dampak besar.
Karena itu, perusahaan perlu memiliki mekanisme kelangsungan usaha yang tidak hanya berhenti pada penyusunan dokumen. Sistem tersebut perlu diuji dan terintegrasi dengan proses pengambilan keputusan bisnis.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kecepatan respons. Dalam situasi krisis, organisasi tidak selalu memiliki waktu untuk menunggu keputusan yang sempurna.
Materi webinar menekankan bahwa respons yang memadai dalam waktu 30 menit dapat lebih bernilai dibandingkan respons sempurna yang baru diberikan beberapa jam kemudian.
Pendekatan tersebut diperlukan agar organisasi dapat mengambil langkah awal untuk mencegah gangguan berkembang lebih jauh dan berada di luar kendali.
Pembahasan webinar juga menyoroti pembagian peran dan akuntabilitas dalam membangun ketahanan organisasi.
Dalam model yang dipaparkan, unit bisnis menjadi pemilik risiko sekaligus kelangsungan operasional. Sementara fungsi SMKU korporat berperan menyediakan standar dan metodologi, sedangkan audit internal memberikan jaminan independen.
Bagi organisasi yang lebih kompleks, pendekatan model hibrida dinilai lebih optimal. Standar dan perangkat dapat disediakan secara terpusat, tetapi pelaksanaan serta rencana kelangsungan usaha tetap menjadi tanggung jawab masing-masing unit bisnis.
Hal itu penting karena gangguan terhadap bisnis tidak selalu berasal dari persoalan teknologi. Gangguan dapat memengaruhi fungsi kritis, proses operasional, teknologi dan data, hingga rantai pasok serta vendor.
Dalam webinar tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya Business Impact Analysis (BIA) untuk mengidentifikasi fungsi dan proses bisnis yang bersifat kritis.
Analisis tersebut mencakup ketergantungan terhadap teknologi, data, hingga pihak ketiga yang terlibat dalam operasional bisnis.
Salah satu indikator yang dibahas adalah Recovery Time Objective (RTO). RTO tidak hanya dipahami sebagai angka teknis, melainkan keputusan manajemen mengenai batas kerugian yang masih dapat ditoleransi sebelum suatu fungsi harus dipulihkan.
Peserta juga diajak memahami perbedaan antara tanggap darurat, manajemen krisis, manajemen kelangsungan usaha, dan pemulihan bencana teknologi informasi.
Keempat aspek tersebut memiliki fokus masing-masing, tetapi perlu saling terintegrasi agar organisasi mampu menghadapi gangguan secara menyeluruh.
Melalui Sumu Catalyst, Sumu terus menghadirkan ruang pembelajaran dan penguatan kapasitas bagi pelaku usaha Muhammadiyah.
Webinar ini menjadi bagian dari upaya mendorong pelaku usaha agar tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi risiko, gangguan operasional, dan kondisi krisis.
Pada akhirnya, ketahanan bisnis tidak cukup dibangun melalui keberadaan dokumen atau seorang manajer khusus. Kemampuan menghadapi krisis perlu menjadi bagian dari kapasitas organisasi.
Melalui Sumu Catalyst, Sumu berkomitmen memperluas akses terhadap pengetahuan, jejaring, dan praktik bisnis yang dapat membantu pengusaha Muhammadiyah terus berkembang sekaligus lebih siap menghadapi berbagai ketidakpastian.






0 Tanggapan
Empty Comments