Keberkahan yang Tumbuh dari Hati
Pada akhirnya, keberkahan tidak selalu terlihat oleh orang lain. Seseorang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi mampu membiayai pendidikan anaknya dengan cara yang halal. Ia mungkin tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi pekerjaannya memberi manfaat bagi banyak orang.
Ada pula orang yang hidup dalam rumah sederhana, tetapi setiap malam bisa tidur dengan hati tenang karena tidak membawa hak orang lain.
Semua itu bukan berarti kesulitan menjadi sesuatu yang harus dicari. Manusia tetap perlu berusaha keluar dari kemiskinan, memperbaiki keadaan, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Namun, keberkahan mengajarkan bahwa nilai hidup tidak hanya ditentukan oleh banyaknya sesuatu yang berhasil dikumpulkan. Yang lebih penting adalah bagaimana nikmat itu digunakan.
Apakah penghasilan membuat seseorang semakin peduli kepada keluarganya? Apakah ilmu membuatnya semakin rendah hati? Apakah kekuasaan membuatnya semakin adil? Apakah kesehatan memberinya kesempatan untuk beramal?
Pertanyaan-pertanyaan itu membantu kita melihat syukur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tidak harus menunggu memperoleh sesuatu yang besar untuk bersyukur. Tidak perlu menunggu semua persoalan selesai untuk mengakui nikmat Allah.
Kadang, keberkahan justru mulai terasa ketika seseorang berhenti sejenak dari keluhannya, memandang apa yang ada di hadapannya, lalu menyadari bahwa masih banyak kebaikan yang patut dijaga.
Makanan di meja. Keluarga di rumah. Pekerjaan yang bisa dilakukan. Kesempatan untuk memperbaiki diri.
Semua itu bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ada nikmat Allah yang menyertainya.
Maka, syukur bukan sekadar ucapan yang selesai setelah lisan melafalkan alhamdulillah. Syukur adalah kesadaran yang tumbuh, lalu diwujudkan dalam tindakan.
Ketika nikmat disyukuri dan digunakan untuk kebaikan, kehidupan tidak hanya terasa lebih lapang. Nikmat itu juga menjadi jalan menuju keberkahan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments